- BMW memangkas target margin operasional menjadi 1 hingga 3 persen akibat perlambatan ekonomi di pasar China.
- Keputusan tersebut menyebabkan saham BMW anjlok 7 persen ke level terendah sejak akhir tahun 2020.
- Persaingan harga agresif dan gangguan rantai pasok global menekan kinerja keuangan serta reputasi produsen Jerman tersebut.
Suara.com - BMW sedang menghadapi tekanan berat setelah memutuskan untuk memangkas proyeksi keuntungan perusahaan. Langkah mengejutkan ini memicu reaksi negatif di pasar modal hingga menyebabkan saham pabrikan asal Jerman tersebut anjlok sekitar 7 persen.
Penurunan nilai tersebut membawa harga saham BMW menyentuh level terendah mereka sejak akhir tahun 2020.
Melansir laporan Reuters, BMW menurunkan target margin operasional divisi otomotif menjadi 1 hingga 3 persen. Padahal sebelumnya perusahaan tersebut masih menargetkan margin pada kisaran 4 hingga 6 persen.
Selain memangkas proyeksi laba, raksasa otomotif ini berencana memperkuat langkah efisiensi demi menekan biaya operasional yang diperkirakan berdampak pada kinerja jangka pendek.
Sejumlah analis menilai reputasi BMW sebagai produsen mobil premium yang selama ini dianggap paling stabil mulai mendapat tekanan besar. Situasi ini juga menjadi tantangan awal bagi Milan Nedeljkovic sebagai pimpinan baru yang menggantikan Oliver Zipse.
Melemahnya pasar otomotif China menjadi faktor utama yang membebani kinerja BMW. Sebagai pasar terbesar di dunia, China tengah mengalami perlambatan ekonomi dengan persaingan merek lokal yang semakin ketat. Produsen asal China kini tidak hanya mendominasi segmen massal namun mulai menggerus pasar mobil mewah yang selama ini dikuasai merek Eropa seperti BMW, Mercedes-Benz, dan Porsche.
Persaingan harga yang agresif membuat keuntungan produsen asing terus tergerus di saat permintaan kendaraan belum menunjukkan pemulihan signifikan. Selain masalah di China, konflik di Iran turut menambah ketidakpastian melalui kenaikan biaya energi serta gangguan rantai pasok global.
Para analis memperingatkan bahwa masalah yang dihadapi BMW kemungkinan besar akan dirasakan oleh produsen otomotif Eropa lainnya. Kondisi saat ini dianggap sebagai awal dari tantangan yang lebih besar bagi industri otomotif global, terutama jika produsen China mulai mempercepat ekspansi ke pasar Eropa.
Baca Juga: Nostalgia Mobil Klasik di BMW Group Festival of JOY
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Milk Cleanser Viva untuk Umur Berapa? Ini Penjelasan dan 5 Pilihan Variannya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- 4 Cushion Terbaik untuk Usia 40 Tahun ke Atas, Anti Crack Samarkan Garis Halus Seharian
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
Pilihan
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
-
Demo Pakai Daster ke Istana, Aliansi Perempuan Tuntut Prabowo Turunkan Harga BBM dan Setop MBG
-
BREAKING NEWS: Kantor Dinas Pendidikan Sulsel Digeledah Kejati
Terkini
-
CVT Mitsubishi Xpander vs Toyota Veloz Lebih Awet Mana? Begini Kata Mekanik
-
Penasaran Sensasi Mobil Listrik Tanpa Charger? Nissan Gelar e-POWER Driving Experience di Yogyakarta
-
Mobil Listrik Geely EX2 dari Kacamata Pengguna Perempuan
-
Terpopuler: Harley-Davidson Murah, Adu Awet Ertiga vs Avanza
-
Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
-
Hyundai Diam-Diam Siapkan Staria Hybrid untuk Pasar Indonesia
-
Pesona Suzuki GN 160: Mending Mana Dibanding Yamaha XSR 155 dan Kawasaki W175?
-
Suzuki Karimun Wagon R Hadir Lagi: Kebal Bensin Etanol hingga 85 Persen, Harga Cuma Segini
-
Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun
-
Mobil LMPV Matic Bekas yang Bandel, Mending Avanza atau Ertiga? Begini Menurut Mekanik