Otomotif / Mobil
Senin, 29 Juni 2026 | 20:54 WIB
Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam menyatakan industri otomotif Indonesia memiliki daya tahan kuat berkat pasar domestik luas serta kinerja ekspor yang terjaga. (Foto: Toyota)
Baca 10 detik
  • Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam menyatakan industri otomotif Indonesia memiliki daya tahan kuat berkat pasar domestik luas serta kinerja ekspor yang terjaga.
  • Pemerintah diminta memberikan kepastian kebijakan dan insentif agar pelaku industri otomotif tetap tertarik berinvestasi di Indonesia.
  • Perusahaan multinasional tengah mempertimbangkan efisiensi operasi di kawasan ASEAN. Faktor daya saing, ekosistem industri, dan kebijakan pemerintah di masing-masing negara menjadi pertimbangan utama. 

Suara.com - Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) meyakini industri otomotif dan komponen Indonesia masih memiliki daya tahan yang kuat di tengah berbagai tantangan global maupun domestik.

Meski demikian di saat yang sama, Toyota juga meminta pemerintah memperjelas arah kebijakan terutama terkait insentif agar meningkatkan kepercayaan pelaku industri untuk berinvestasi.

Wakil Presiden Direktur TMMIN Bob Azam menegaskan besarnya pasar domestik, kinerja ekspor yang tetap terjaga, serta peluang penguatan orientasi ekspor dinilai menjadi modal penting bagi industri nasional untuk terus berkembang.

"Industri otomotif itu punya resilience yang bagus. Kita punya pasar ekspor, dan pasar domestik kita juga masih besar," ujar Bob di Jakarta, Senin (29/6/2026).

Ia mengutarakan meski penjualan mobil mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir yang turut memengaruhi industri komponen, kondisi sektor tersebut tetap menunjukkan daya tahan yang baik.

Butuh kejelasan arah kebijakan

Yang saat ini menghadapi tantangan, menurut Bob, adalah industri komponen otomotif. Industri ini sangat penting karena merupakan sektor yang padat modal sekaligus padat karya.

Kenaikan upah, biaya energi, serta kebutuhan investasi untuk memodernisasi fasilitas produksi menjadi sejumlah faktor yang perlu diantisipasi agar daya saing tetap terjaga.

Di saat yang sama, Bob melanjutkan, industri komponen kendaraan bermesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) masih membutuhkan kepastian arah kebijakan pemerintah.

Baca Juga: Bocor Sebelum Waktunya, Inikah Penampakan 'Fortuner Baru' Berdesain Agresif SUV Masa Depan Toyota?

Menurutnya, berbagai insentif saat ini lebih banyak diberikan kepada kendaraan listrik, sementara ekosistem komponen kendaraan listrik sebagian besar masih berada di luar Indonesia.

Ia mengatakan, kepastian kebijakan menjadi faktor penting untuk mendorong pelaku industri terus berinvestasi. Menurutnya, pembaruan teknologi dan modernisasi fasilitas produksi merupakan kebutuhan agar industri tetap kompetitif di tengah persaingan global.

Bob menjelaskan, perusahaan multinasional saat ini memang tengah mengevaluasi peta industri otomotif beberapa tahun ke depan, termasuk mempertimbangkan efisiensi operasi di kawasan ASEAN. Dalam proses tersebut, faktor daya saing, ekosistem industri, dan kebijakan pemerintah di masing-masing negara menjadi pertimbangan utama.

Meski Vietnam dinilai semakin menarik bagi investor karena pertumbuhan ekonomi dan berbagai insentif investasi, Bob menegaskan Indonesia masih memiliki keunggulan berupa pasar otomotif terbesar di ASEAN, dengan penjualan mendekati satu juta unit per tahun serta ekspor kendaraan sekitar 500.000 unit.

"Sejauh ini kita diuntungkan karena market kita yang lumayan besar. Jadi sebenarnya industri otomotif itu industri yang besar dan punya resilience yang cukup baik. Yang sekarang sedang dievaluasi adalah bagaimana prospeknya ke depan," kata Bob.

Ia menambahkan, Asia Tenggara telah berkembang menjadi basis produksi dunia, tidak hanya untuk industri otomotif, tetapi juga elektronik dan berbagai sektor manufaktur lainnya.

Load More