- Toyota Indonesia menyambut rencana pemerintah memberikan insentif kendaraan listrik dengan baterai nikel.
- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan insentif menjadi strategi mendongkrak pasar mobil listrik dengan baterai nikel.
- Kebijakan insentif tersebut diharapkan dapat membangun ekosistem industri otomotif serta meningkatkan perekonomian Indonesia.
Suara.com - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyambut rencana pemerintah untuk memberikan insentif pada mobil elektrifikasi dengan baterai berbasis nikel.
Wakil Presiden Direktur TMMIN I Nyoman Winaya mengatakan pihaknya akan mengikuti skema pemberian insentif dari pemerintah dan menegaskan bahwa kebijakan insentif yang tepat akan memiliki efek berganda pada perekonomian Indonesia.
"Kita mengikuti apa yang pemerintah berikan (insentif)," kata Nyoman yang ditemui di sela-sela pembukaan program Toyota Eco Youth ke-14 di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Kamis (6/8/2026).
Ia mengatakan bahwa semua kendaraan elektrifikasi Toyota saat ini, baik yang hybrid maupun listrik murni, sudah menggunakan baterai berbasis nikel.
Meski demikian Nyoman mengatakan apa pun insentif yang diberikan pemerintah, sebaiknya bisa mendukung industri otomotif secara keseluruhan.
"Harapan kita, insentif itu bagaimana untuk industri sehingga bisa membangun ekonomi ataupun ekosistem industrinya di Indonesia ini bisa lebih baik," kata Nyoman.
Nyoman mengingatkan bahwa industri otomotif memiliki ekosistem yang luas dan membuka sangat banyak lapangan kerja di Tanah Air.
"Karena itu, dampaknya terkait dengan circular economy-nya cukup banyak. Dengan industrinya dibangun, akan meningkatkan baik itu employment-nya, kemudian logistik dan lain sebagainya. Multiplier effect-nya cukup besar" beber Nyoman.
Sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan pemberian insentif nickel-manganese-cobalt (NMC) merupakan salah satu strategi untuk mendongkrak pasar mobil listrik berbasis nikel.
“Ke depan akan ke sana. (Insentif NMC menjadi) bagian salah satu strateginya,” ujar Bahlil ketika ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, awal pekan ini.
Bahlil menyampaikan kendaraan listrik dengan baterai lithium iron phosphate (LFP) tidak menjadi prioritas pemerintah sebab Indonesia tidak memiliki bahan baku untuk membuat LFP.
Terlebih, saat ini Indonesia tengah membangun ekosistem baterai kendaraan listrik berbasis nikel atau NMC. Oleh karena itu, arah pengembangan mobil listrik di Indonesia akan berbasis nikel.