- Menkeu Purbaya mengkritik harga Honda Super-ONE yang mencapai Rp438 juta dalam ajang GIIAS 2026.
- Mobil listrik Honda Super-ONE mencatat akselerasi 0 hingga 60 mph dalam waktu 9,2 detik.
- Honda Super-ONE dibekali baterai 29,6 kWh serta fitur transmisi virtual dan Honda SENSING lengkap.
Suara.com - Honda Super-ONE sempat jadi buah bibir saat ramainya gelaran GIIAS 2026. Salah satu momen menarik terjadi ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengunjungi stan Honda untuk melihat langsung mobil listrik mungil terbaru pabrikan Jepang tersebut.
Namun, alih-alih memberikan pujian penuh, Purbaya justru melayangkan kritik skeptis dengan nyeletuk bahwa mobil listrik compact tersebut "mahal juga".
Mobil ini kabarnya dibanderol dengan kisaran harga mencapai Rp438.000.000 OTR Jakarta.
Angka tersebut memang menempatkannya jauh di atas kompetitor kelas mungil lainnya seperti BYD Atto 1 yang dijual mulai dari Rp199.000.000 untuk varian standar.
Honda membela diri dengan menyatakan bahwa harga premium ini sebanding dengan pengalaman berkendara yang menyenangkan alias fun to drive yang menjadi DNA mereka.
Namun, apakah keunggulan berkendara itu benar-benar nyata dan seberapa jauh Honda Super-ONE bisa mengungguli rivalnya di aspal?
Seunggul Apa Performa Honda Super-ONE? Begini Kata Reviewer
Untuk membuktikannya, mari kita tengok pengujian performa nyata yang dilakukan oleh reviewer "What Car?" di Inggris, tempat Honda Super-ONE dikenal dengan nama Honda Super N.
Dalam sebuah sesi uji balap trek lurus atau drag race, Honda Super-ONE yang memiliki mode BOOST mampu cuma unggul tipis dari BYD Atto 1.
Penguji dari kanal tersebut, John, mengungkapkan kepuasannya secara langsung setelah memenangkan balapan tersebut.
"Super-ONE berhasil menuntaskan jarak seperempat mil dalam 17,1 detik, melintasi garis finis dengan kecepatan luar biasa 77,5 mph," ujarnya.
Dengan mode akselerasi maksimal diaktifkan, mobil mungil Honda ini mampu melesat dari 0 ke 60 mil per jam (sekitar 96 km/jam) hanya dalam waktu 9,2 detik saja, mengalahkan rivalnya dari BYD yang membutuhkan waktu 10,3 detik untuk jarak yang sama.
Namun keunggulan Super-One bukan dari aspek kuantitatif, tapi lebih ke pengalaman berkendara.
Tim reviewer otomotif kawakan tersebut memberikan impresi yang sangat positif mengenai kelincahan berkendara mobil ini di jalanan berliku.
"Kalau saya terdengar positif saat mengendarai mobil ini di dalam kota, maka saya benarbenar sangat girang mengendarainya di jalan pedesaan, karena rasanya sungguh menyenangkan untuk dipacu," imbuh John.
Pengalaman berkendara ini didukung oleh kemudi yang presisi, suspensi yang kokoh, serta visibilitas luar biasa karena bentuknya yang menyerupai kotak
Sebaliknya, untuk representasi mobil listrik BYD, mereka mencatat karakter suspensi yang jauh lebih lembut dan kurang lincah.
Will, reviewer dari channel tersebut memberikan catatan kritisnya untuk kemudi BYD.
"Pengalaman berkendara terasa sedikit lebih kasar dan kurang menyatu dibandingkan yang idealnya diharapkan."
Kendati demikian, BYD dinilai memiliki kenyamanan berkendara yang lebih santai dan tenang saat melaju di jalan tol.
Spesifikasi, Harga dan Fitur
Jika melihat spesifikasi di atas kertas, Honda Super-ONE dibekali baterai Lithium-ion berkapasitas 29,6 kWh dengan jarak tempuh berkisar antara 252 km hingga 274 km.
Motor listriknya mampu menghasilkan tenaga 70 kW atau 95 PS dengan torsi 162 Nm.
Di sisi lain, BYD Atto 1 menawarkan efisiensi yang bersaing dengan baterai 30,08 kWh yang memiliki jangkauan hingga 300 km (NEDC) untuk tipe Standard, atau bahkan opsi baterai 38,88 kWh dengan jarak tempuh mencapai 380 km.
Dari segi fitur, Honda Super-ONE memang dikonfigurasi sangat lengkap layaknya pisau Swiss Army.
Mobil ini sudah memiliki Simulated 7-Speed Gear Shift untuk sensasi transmisi manual virtual, Active Sound Control bernuansa Integra Type R, sistem audio BOSE dengan 7+1 speaker, serta asisten keselamatan Honda SENSING.
Sementara BYD Atto 1 hadir dengan e-Platform 3.0, fitur pengisian daya nirkabel, serta teknologi Vehicle to Load (V2L) hingga 2,2 kW yang memungkinkannya menjadi sumber listrik berjalan saat Anda membutuhkannya.
Perbedaan harga yang mencapai ratusan juta rupiah ini akhirnya mengembalikan keputusan kepada konsumen: apakah mereka ingin membayar lebih demi sensasi berkendara yang hidup dan fitur premium, atau memilih fungsionalitas murni dengan harga yang jauh lebih ramah di kantong.