- DKI Jakarta meluncurkan program layanan terpadu SIGAP pada 5 Oktober 2026 guna menekan angka kematian ibu dan bayi.
- RSUD Cengkareng menyiagakan dokter spesialis serta fasilitas intensif terpadu selama 24 jam penuh untuk menangani kondisi kritis.
- Sebanyak 44 tenaga kesehatan dilibatkan dalam sistem koordinasi terpadu demi mempercepat penanganan rujukan dari fasilitas kesehatan dasar.
Suara.com - Upaya penyelamatan ibu hamil, bersalin, nifas, dan bayi baru lahir dalam kondisi kritis di wilayah DKI Jakarta kini diperkuat melalui peluncuran program layanan terpadu SIGAP pada Senin (5/10/2026).
Program yang mengedepankan prinsip Sinergi, Cepat, dan Tanggap ini dirancang sebagai langkah nyata guna menekan Angka Kematian Ibu (AKI) serta Angka Kematian Bayi Baru Lahir (AKB).
Peningkatan standar layanan kedaruratan tersebut salah satunya diwujudkan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cengkareng melalui kesiagaan dokter spesialis yang bersiaga langsung di tempat (on-site) selama 24 jam penuh.
Keberadaan dokter di lokasi tanpa sistem panggilan dari rumah ini mencakup dokter spesialis kebidanan dan kandungan, spesialis anak, serta spesialis anestesi.
Penanganan medis kegawatdaruratan tersebut ditopang oleh kesiapan fasilitas intensif terpadu yang mencakup Neonatal Intensive Care Unit (NICU), Pediatric Intensive Care Unit (PICU), dan High Care Unit (HCU) khusus maternal.
"Setiap detik sangat berharga dalam menyelamatkan nyawa ibu dan buah hati. Kami memperkuat koordinasi respons cepat, standardisasi tata laksana klinis, dan kolaborasi multidisiplin. Kami memastikan tidak ada jeda dalam memberikan pertolongan terbaik karena keselamatan pasien adalah prioritas mutlak kami," ujar Direktur RSUD Cengkareng, Lysbeth R. Panjaitan, dalam keterangan resminya.
Penguatan sistem penanganan cepat ini dilatarbelakangi oleh tingginya risiko fatalitas akibat persoalan klasik "tiga terlambat" yang kerap dialami masyarakat.
Tiga persoalan tersebut adalah keterlambatan keluarga mengenali tanda bahaya, keterlambatan menjangkau fasilitas kesehatan, serta keterlambatan penanganan di rumah sakit rujukan.
Kondisi darurat persalinan juga rentan dipicu oleh faktor risiko "empat terlalu", yaitu usia ibu terlalu muda, terlalu tua, jarak persalinan terlalu dekat, dan jumlah persalinan yang terlalu banyak.
Demi menjamin kecepatan rujukan dari fasilitas dasar, sebanyak 44 tenaga kesehatan yang terdiri atas dokter Unit Gawat Darurat Puskesmas, jejaring rumah sakit, hingga bidan praktik mandiri dilibatkan dalam sistem koordinasi terpadu ini.
Sinergi lintas lini pelayanan tersebut diharapkan mampu memangkas kendala rujukan sehingga pasien dalam fase darurat dapat tertangani sedini mungkin secara tepat.