- Pemerintah menyatakan ada empat syarat yang harus dipenuhi sebuah motor listrik agar bisa menikmati subsidi Molinas.
- Syarat tersebut mencakup TKDN minimal 60 persen, desain lokal, penggunaan baterai nikel, serta harga terjangkau pasar domestik.
- Program ini menghasilkan penghematan subsidi BBM Rp82,2 triliun dan menciptakan 215.000 lapangan kerja baru.
Suara.com - Ada empat syarat yang harus dipenuhi sebuah merek motor listrik untuk bisa menikmati insentif atau subsidi dari pemerintah via program Motor Listrik Nasional atau Molinas.
Asisten Deputi Pengembangan Industri Kemenko Perekonomian Atong Soekirman di Jakarta, Kamis (20/8/2026) mengatakan motor yang masuk dalam kategori Molinas harus memenuhi empat syarat sekaligus, termasuk menggunakan baterai yang terbuat dari bahan baku nikel.
Pertama, memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di atas 60 persen yang mencakup komponen utama, seperti power train, frame/structure, serta plastik dan body panel.
Kedua, menggunakan desain dan rekayasa yang dikembangkan di dalam negeri. Ketiga, memanfaatkan baterai berbasis nikel untuk mendukung hilirisasi nasional. Keempat, memiliki harga yang terjangkau sesuai kebutuhan pasar domestik.
Menurut dia, fokus utama Molinas adalah membangun kemampuan desain, engineering, manufaktur, teknologi, serta rantai pasok dalam negeri.
Lebih lanjut, menurutnya, dari sisi pasar, peluang pengembangan motor listrik nasional masih sangat besar, mengingat populasi motor konvensional Indonesia mencapai 145,25 juta unit, dengan penetrasi motor listrik baru mencapai 229.554 unit hingga Desember 2025. Sementara proyeksi permintaan motor listrik pada 2028 mencapai 1,5 juta unit.
"Total permintaan motor listrik 2028 diperkirakan mencapai 1,5 juta unit," ucapnya.
Sebelumnya, ia menyampaikan Program Molinas memberikan penghematan subsidi BBM sebesar Rp82,2 triliun, dalam kurun waktu 2027 hingga 2037, serta dengan asumsi 11 juta unit beroperasi pada tahun 2037.
Selain memberikan penghematan subsidi BBM, katanya, ekosistem program ini diperkirakan memberikan nilai ekonomi hingga Rp150 triliun sepanjang 2026–2031, serta menciptakan sekitar 215 ribu lapangan kerja di sektor manufaktur, komponen, baterai dan infrastruktur pengisian daya.