- Pemerintah menggunakan teknologi digital seperti Weigh In Motion di jalan tol untuk mengawasi pelanggaran kendaraan angkutan barang.
- Kementerian Perhubungan mengoperasikan sistem ETLE HUB yang berhasil mendeteksi ratusan ribu pelanggaran kendaraan barang pada uji coba awal 2026.
- Pemanfaatan teknologi pengawasan tersebut bertujuan memperketat pemeriksaan muatan demi mencapai target Zero ODOL pada tahun 2027.
Suara.com - Pemerintah mulai mengandalkan teknologi digital untuk memperketat pengawasan kendaraan angkutan barang yang melanggar ketentuan dimensi dan muatan atau Over Dimension Over Loading (ODOL). Langkah ini menjadi bagian dari persiapan menuju target Zero ODOL pada 2027.
Salah satu teknologi yang digunakan adalah Weigh In Motion (WIM), perangkat yang mampu mengukur berat kendaraan saat masih melaju. Dengan teknologi ini, pemeriksaan muatan truk tidak selalu harus dilakukan dengan menghentikan kendaraan di lokasi penimbangan.
Berdasarkan keterangan Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum, saat ini terdapat 47 unit WIM yang terpasang di jaringan jalan tol. Sebanyak 38 unit berada sebelum gerbang tol, sementara sembilan unit lainnya ditempatkan di jalur utama jalan tol.
Data yang dihasilkan WIM nantinya dapat membantu proses identifikasi kendaraan yang diduga melanggar ketentuan muatan.
Selain WIM di jalan tol, Kementerian Perhubungan juga mengembangkan sistem pengawasan elektronik melalui ETLE HUB. Sistem ini mengintegrasikan sejumlah teknologi dan data untuk mendukung pemantauan kendaraan angkutan barang.
Teknologi yang terhubung di dalamnya meliputi Automatic Number Plate Recognition (ANPR), Radio Frequency Identification (RFID), WIM, serta Bukti Lulus Uji Elektronik (BLUE).
Dalam uji coba yang berlangsung pada Januari hingga Juli 2026 di tiga Unit Pelaksana Penimbangan Kendaraan Bermotor (UPPKB), ETLE HUB mendeteksi 198.127 pelanggaran kendaraan angkutan barang.
Truk ODOL Masih Banyak Berkeliaran di Jalan Tol
Berdasarkan data WIM 2025, rata-rata pelanggaran ODOL di ruas tol yang dikelola Jasa Marga mencapai 17,62 persen dari kendaraan non-Golongan I. Sementara itu, di ruas Tol Trans Sumatera yang dikelola Hutama Karya, angkanya tercatat sebesar 21,29 persen.
Kementerian PU sebelumnya menjelaskan, kendaraan dengan muatan berlebih dapat memberikan tekanan lebih besar terhadap struktur perkerasan jalan. Kondisi ini berpotensi mempercepat kerusakan jalan dan meningkatkan kebutuhan pemeliharaan.
Pemanfaatan teknologi seperti WIM dan ETLE HUB diharapkan bisa memperkuat pengawasan kendaraan angkutan barang sekaligus mendukung target Zero ODOL pada 2027.