- Studi Geotab tahun ini terhadap 22.700 mobil listrik menunjukkan rata-rata degradasi baterai hanya 2,3% per tahun.
- Penggunaan pengisian cepat dan suhu ekstrem yang tinggi terbukti mempercepat penurunan kapasitas penyimpanan energi baterai.
- Pemilik kendaraan dapat memperlambat degradasi dengan membatasi pengisian cepat serta menjaga kondisi baterai.
Suara.com - Battery health mobil listrik turun bukan tanpa sebab. Kenali pemicu utamanya fast charging, suhu ekstrem, dan pola pengisian plus cara memperlambat degradasinya.
Baterai adalah komponen termahal sekaligus paling menentukan dalam sebuah mobil listrik. Sayangnya, kapasitasnya tidak pernah benar-benar kekal.
Seiring waktu, kemampuan baterai untuk menyimpan energi menyusut sebuah proses alami yang disebut degradasi.
Pertanyaannya, apa yang sebenarnya memicu penurunan ini, dan bisakah kita memperlambatnya?
Kekhawatiran soal baterai yang cepat "sekarat" ternyata tidak sepenuhnya terbukti.
Studi terbaru Geotab terhadap lebih dari 22.700 kendaraan listrik dari berbagai model menemukan bahwa rata-rata degradasi baterai hanya 2,3% per tahun.
Artinya, setelah delapan tahun pemakaian, baterai masih menyimpan sekitar 81,6% kapasitas aslinya.
Charlotte Argue, Senior Manager Sustainable Mobility Geotab, menjelaskan ke Electric Autonomy Canada bahwa ada pola degradasi yang khas.
"Baterai biasanya mengalami penurunan yang agak lebih cepat di satu hingga dua tahun pertama, lalu melandai dan terdegradasi pada laju yang stabil," ujarnya.
"Kami belum melihat banyak bukti lonjakan degradasi di akhir masa pakai, dan itu pertanda baik—baterai ini memang tahan lama".
Pemicu Utama: Fast Charging dan Suhu Ekstrem
Meski laju degradasi rata-rata tergolong wajar, ada beberapa faktor yang bisa mempercepatnya secara signifikan.
Fast charging adalah biang keladi terbesar. Data Geotab menunjukkan kendaraan yang jarang menggunakan DC fast charging (kurang dari 12% dari total pengisian) mengalami degradasi hanya 1,5% per tahun.
Sementara kendaraan yang sering fast charging mengalami degradasi 2,5% per tahun selisih yang menumpuk signifikan dalam jangka panjang.
Suhu tinggi juga memperparah. "Suhu tinggi dapat menggandakan laju penurunan kapasitas," menurut riset yang diterbitkan dalam CNR Institutional Research Information System.
Kombinasi fast charging berulang di iklim panas adalah resep terburuk bagi umur baterai.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah inkonsistensi antar sel di dalam paket baterai. Sebuah studi di Nature Energy menemukan bahwa sel yang paling lemah bertindak sebagai "bottleneck" memaksa seluruh paket baterai pensiun lebih cepat.
Rata-rata, ketidakseimbangan sel membuat masa pakai paket baterai terpotong hingga 18% dari potensi individual sel-selnya.
Pencegahan: Kebiasaan Kecil, Dampak Besar
Kabar baiknya, memperlambat degradasi baterai tidak memerlukan teknologi canggih cukup perubahan kebiasaan.
1. Batasi fast charging
Gunakan DC fast charging hanya saat perjalanan jauh. Untuk pengisian harian, colokan AC di rumah atau kantor jauh lebih ramah bagi kesehatan baterai.
2. Jaga state of charge (SOC) di rentang 20–80%
"Menjaga baterai antara 20% dan 80% umumnya menguntungkan, tetapi menetap terlalu lama di atas 80% atau di bawah 20% dapat mempercepat degradasi," menurut laporan Fleet Maintenance.
3. Hindari parkir di bawah sinar matahari langsung dalam waktu lama
Panas ekstrem mempercepat reaksi kimia internal yang menuakan baterai.
4. Lakukan pengecekan SOH berkala
Deteksi dini memungkinkan Anda menyesuaikan pola pengisian sebelum kerusakan tak reversibel terjadi.
Pada akhirnya, degradasi baterai adalah proses yang tak terhindarkan tetapi lajunya bisa dikendalikan. Dengan disiplin pengisian dan kesadaran terhadap suhu, baterai mobil listrik Anda bisa bertahan jauh melampaui ekspektasi.