- Tesla menghapus fitur radio FM dan DAB pada sedan Model 3 RWD untuk menekan biaya produksi.
- Kebijakan ini menghemat biaya manufaktur hingga 70 dolar AS per unit kendaraan dengan menghilangkan komponen pelindung elektromagnetik.
- Penghapusan siaran analog tersebut membatasi akses pengemudi terhadap informasi peringatan darurat bencana di luar jangkauan jaringan internet.
Suara.com - Produsen kendaraan listrik asal Amerika Serikat, Tesla, mengambil langkah ekstrem dengan meniadakan fitur radio FM dan DAB digital pada sedan Model 3 RWD terbarunya. Langkah ini dilakukan guna menekan biaya produksi di tengah makin tingginya persaingan pasar otomotif global.
Langkah ini menyusul keputusan Tesla yang telah lebih dulu menghilangkan tuner radio AM dari lini kendaraannya sejak lebih dari lima tahun lalu.
Berdasarkan studi industri tahun 2023, peniadaan fitur radio FM dan AM dapat menghemat biaya manufaktur sekitar 50 hingga 70 dolar AS, atau setara Rp900 ribu hingga Rp1,25 juta per unit kendaraan.
Dilansir dari Drive, penghematan biaya tersebut diperoleh dari peniadaan komponen pelindung khusus yang berfungsi menahan gangguan elektromagnetik buatan motor listrik agar tidak mengacaukan penerima sinyal radio.
Meski demikian, penghapusan fitur siaran analog ini membawa dampak signifikan bagi pengemudi. Akses terhadap siaran peringatan darurat bencana berbasis frekuensi radio menjadi terbatas saat kendaraan melintas di wilayah luar jangkauan jaringan.
Sebagai gantinya, pengemudi masih dapat mendengarkan siaran radio melalui aplikasi streaming internet TuneIn pada layar sentuh utama. Fitur ini membutuhkan koneksi internet stabil dan mengharuskan pemilik berlangganan paket Premium Connectivity seharga 13,99 dolar Australia per bulan setelah masa uji coba berakhir.
Model 3 RWD sendiri dipasarkan dengan harga 9.000 dolar Australia lebih murah dibandingkan varian di atasnya. Selain radio, Tesla turut memangkas sejumlah fitur kenyamanan seperti kursi berventilasi, pencahayaan ambien, pelek alloy, hingga layar penumpang belakang.
Kebijakan ini memicu sorotan mengingat tingginya preferensi penggunaan radio fisik. Survei Commercial Radio and Audio tahun 2026 mencatat sebanyak 71 persen pendengar audio di dalam mobil masih mengandalkan siaran radio tradisional.