Raksasa otomotif asal Jepang, Honda, diterpa gelombang masalah internal setelah mencatatkan kerugian tahunan sebesar 2,7 miliar Dolar AS pada Maret lalu, yang disebut sebagai kerugian tahunan pertama perusahaan dalam kurun waktu hampir tujuh dekade.
Suara.com - Kondisi keuangan Honda menjadi sorotan setelah laporan keuangan periode Maret mengungkap kerugian finansial yang signifikan.
Keputusan perusahaan untuk berinvestasi besar pada elektrifikasi kendaraan dinilai tidak memberikan hasil sesuai harapan di tengah dinamika pasar global yang berubah cepat.
Selain besarnya investasi pada teknologi baterai dan EV yang belum memberikan imbal hasil optimal, Honda juga menghadapi penurunan daya saing dan angka penjualan yang drastis di pasar Tiongkok.
Kombinasi kedua faktor ini menciptakan tekanan keuangan besar bagi Honda. Akibat kondisi tersebut, CEO Honda Toshihiro Mibe bahkan sempat berada di bawah tekanan dan nyaris kehilangan jabatannya pada awal tahun ini.
Petinggi dan Mantan CEO Buka Suara
Krisis finansial yang melanda Honda tidak hanya mengundang perhatian publik, tetapi juga memicu ketegangan di internal manajemen.
Sebelum krisis saat ini mencuat, mantan CEO Honda Nobuhiko Kawamoto telah melontarkan kritik terkait arah kebijakan Toshihiro Mibe, terutama mengenai lambatnya respons perusahaan terhadap dinamika pasar Tiongkok.
Kini, ketidakpuasan tersebut berlanjut dan disuarakan oleh Chairman Dewan Direksi Honda, Fumiya Kokubu.
Dalam wawancara yang dilaporkan media Carbuzz, Kokubu secara terbuka menyatakan keprihatinannya atas pola pengambilan keputusan di dalam jajaran eksekutif perusahaan.
Kokubu mengungkapkan bahwa dewan direksi tidak dilibatkan secara memadai dalam proses pengambilan keputusan investasi bernilai besar.
Dewan direksi dinilai hanya ditempatkan sebagai pengamat pasif (mere oversight), bukan sebagai pihak yang berperan aktif dalam menentukan arah strategis perusahaan.
Kokubu menegaskan, "Sangat sulit bagi dewan untuk menilai secara benar diskusi macam apa yang berujung pada keputusan investasi tersebut."
Restrukturisasi 2021 dan Tuntutan Perubahan Tata Kelola
Akar dari minimnya peran dewan direksi berawal dari langkah restrukturisasi kerangka kepemimpinan yang diterapkan Honda pada 2021.
Perubahan struktur kala itu memberikan kewenangan yang jauh lebih besar kepada jajaran pejabat eksekutif (executive officers) untuk mengambil keputusan secara cepat.
Namun, berkaca pada besarnya kerugian akibat investasi yang dinilai kurang tepat, Kokubu menilai sudah saatnya dewan direksi mengambil kembali peran aktif (active role) dalam tata kelola perusahaan (governance).
Ia mendesak jajaran direktur untuk mengubah pola pikir dan membagi wewenang eksekutif secara lebih merata agar kesalahan investasi berskala besar tidak terulang di masa depan.
Meskipun Toshihiro Mibe saat ini masih memegang posisi CEO, tekanan internal dari dewan direksi menunjukkan bahwa Honda harus menempuh jalan panjang untuk memulihkan kinerja keuangan serta kepercayaan para pemangku kepentingan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Berapa total kerugian tahunan yang dialami Honda hingga memicu krisis internal ini?
A: Honda mencatatkan kerugian tahunan sebesar 2,7 miliar Dolar AS (sekitar Rp48,4 triliun) pada laporan keuangan Maret lalu, yang disebut sebagai kerugian tahunan pertamanya dalam hampir tujuh dekade.
Q: Apa penyebab utama merosotnya kinerja finansial Honda?
A: Pemicu utamanya adalah melesetnya strategi investasi bernilai besar pada kendaraan listrik (EV) serta penurunan penjualan di pasar Tiongkok.
Q: Apa keluhan utama Chairman Dewan Direksi Honda, Fumiya Kokubu, terhadap CEO dan jajaran eksekutif?
A: Kokubu mengkritik bahwa keputusan investasi besar sering kali diambil oleh pejabat eksekutif tanpa keterlibatan atau persetujuan dewan direksi yang memadai.