SUARA PEKANBARU- Hal yang harus diwaspadai adalah melakukan ghibah, karena tanpa disadari hal ini dilakukan oleh setiap orang. Sifat atau kebiasaan ini begitu sulit dihindari.
Mereka membicarakan orang lain, maka dari itu artinya sama saja dengan memakan bangkai saudaranya sendiri.
Ada faktor kenapa ghibah sangat sulit dihindari kata Ustadz Adbul Somad. Dia memberikan penjelasan beberapa hal yang membuat seseorang sulit menghindari ghibah.
“Yang pertama jangan pernah takut penilaian orang,” begitu kata pria yang berasal dari Kota Pekanbaru dan akrab disapa UAS ini.
Menurut Ustadz Abdul Somad saat menghadap kepada Allah SWT, disebutkan kalau semua orang tersebut tidak akan ikut.
“Semua orang-orang ini tidak ikut yang mengiringi manusia saat ke liang kubur. Hartanya sampai tepi liang lahat, lalu dibawa pulang, temannya mengantar lalu pulang,” jelas Ustadz Abdul Somad.
Ustadz Adbul Soamd juga turut mengingatkan, kalu orang yang mengajak untuk membicarakan orang lain, pasti juga akan membicarakan kita pada saat tidak ada.
“Ketika kita masih berharap dengan penilaian orang, dimana letak iman, apakah Anda lupa bahwa akan ada hisab pada saat nanti hari perhitungan. Orang-orang yang berteman pada hari itu bermusuhan, kecuali orang-orang yang bertakwa,” terangnya.
Ada alasan kedua, kenapa orang begitu sulit dalam berghibah. Ustadz Abdul Somad mengatakan karena dirinya yakin amal lainnya akan menutupi perbuatannya itu.
“Kedua kenapa sulit berhenti? Karena dia yakin ada amal yang menutupi,” terangnya.
Menurut Ustadz Abdul Somad dengan seseorang yang berpikir seperti itu, maka tak lain dia sudah mengikuti cara pola pikir yang berasal dari iblis.
“Kau ciptakan aku dari api. Kau ciptakan dia manusia dari tanah, iblis menarik kesimpulan sendiri padahal Allah tidak pernah mengatakan, siapa yang lebih hebat. Hal itu merupakan kesesatan,” jelas Ustadz abdul Somad.
Sehingga dengan alasan-alasan dan pola pemikiran yang seperti itu, membuat orang berpikir kalau membicarakan orang lain dapat ditutupi dengan amal yang telah dia dapatkan.
“Saya kan sudah baca Al Quran, tarawih, ghibah sedikit tak apa. Seringkali kita menyalahkan setan padahal kesesatan datang dari diri. Setan hanya kipasnya saja, kalau tidak ada percikan maka tak akan ada yang membakar,” ungkapnya.
Adapun yang ketiga ketika orang sulit untuk tidak melakukan ghibah yakni kurangnya rasa takut.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Anomali Wisatawan RI, Kini Incar Tanggal Kembar Demi Tiket Murah
-
PERADI Profesional Dikukuhkan, Bawa Standar Baru Profesi Advokat
-
Tinggal di Kawasan Industri, Warga Pasirranji Justru Sulit Dapat Air Layak Konsumsi
-
Megawati Terima Utusan Presiden Korsel, Bahas Perdamaian Semenanjung Korea?
-
Ketika Gaji Hanya Singgah, Anak Muda Makin Belajar Menjaga Nilai Uang
-
Mantan Ketua KPPU Soroti Denda Rp 755 Miliar untuk Pinjol, Sebut Ada Kekeliruan Fundamental
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Sinopsis My Dearest Assassin, Film Thailand Penuh Aksi dan Romansa yang Tayang di Netflix
-
Suasana Hangat Warnai Kunjungan Rajiv ke SLB Lembang, Bantuan PIP hingga Kursi Roda Disalurkan
-
Modus Pijat dan Doktrin Patuh Guru, Cara Keji Kiai Ashari Berkali-kali Cabuli Santriwati