Suara Ponorogo - Muhammad Dimas Alfahri (2), seorang balita ceria asal Ponorogo, sedang menghadapi tantangan yang berat setelah kepergian sang ayah.
Dimas mengalami bengkak pada mata kirinya, namun keluarganya mencoba menguatkan diri dan mencari solusi untuk menghadapi situasi ini dengan penuh harapan.
Dimas, anak ketiga dari almarhum Taji dan Sri Wahyuni, merupakan seorang anak yang sehat dan penuh keceriaan sebelum sang ayah meninggal dunia akibat penyakit stroke, pasca perayaan Hari Raya Idul Fitri.
Kepergian sang ayah memberikan dampak emosional yang besar bagi Dimas, yang secara tak terbendung menangis dan merasakan kehilangan yang mendalam, bahkan ketika digendong oleh ibunya.
Muhammad Endro, pamannya yang peduli, menceritakan bahwa sebelumnya Dimas dalam keadaan sehat dan tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan pada mata kirinya.
Namun, setelah sang ayah pergi, kondisi mata kirinya memburuk dan membuat Dimas sering menangis hingga matanya menjadi merah dan bengkak seperti sekarang.
"Setelah ayahnya meninggal, Dimas sering menangis hingga matanya menjadi merah dan bengkak seperti sekarang," ungkap Endro pada Senin (12/6/2023).
Dalam menghadapi situasi ini, keluarga Dimas mencari bantuan medis untuk mencari pemahaman dan penanganan yang tepat.
Dr. Dessira Rizka Tri Ariany, seorang dokter spesialis mata, menjelaskan bahwa kasus seperti ini sering terjadi pada anak-anak di bawah usia 17 tahun, terutama pada usia 5-7 tahun.
Dr. Dessira mengungkapkan kecurigaannya terhadap keganasan Rhabdomyosarcoma, sebuah tumor yang tumbuh dengan cepat dalam waktu singkat pada jaringan otot mata.
“Itu saya tanya itu satu bulan langsung cepat, nah saya curiga itu suatu keganasan Rhabdomyosarcoma” ungkapnya
Ia menekankan bahwa faktor genetik merupakan penyebab umum tumor ini, bukan karena menangis. Tumor ini bisa terjadi tanpa gejala yang jelas, seperti menangis, dan deteksi dini sangat penting untuk mengatasi masalah ini.
Dalam kasus seperti ini, dr. Dessira merekomendasikan pemeriksaan penunjang seperti CT scan dan MRI untuk diagnosis yang akurat.
Jika tumor terkonfirmasi, pengobatan yang direkomendasikan melibatkan kombinasi kemoterapi, radioterapi, dan operasi.
Ia juga menekankan bahwa dengan deteksi dini dan penanganan yang tepat, angka harapan hidup bagi pasien tumor mata ini bisa mencapai 90 persen.
Berita Terkait
-
Pemkot Madiun Alokasikan Anggaran Gaji ke-13, Tapi Tidak Semua Pegawai Mendapatkannya: Apa Alasannya?
-
Syarat Terbaru Naik Kereta Api Mulai 12 Juni 2023: Bebas Masker, Namun Vaksinasi dan Protokol Kesehatan Tetap Dianjurkan
-
Tragedi Kecelakaan di Ponorogo: Yaris Dikendarai Pelajar Ugal-ugalan Terbakar Usai Menabrak Pohon!
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Kronologi Warga OKU Diserang Beruang saat Sadap Karet, Sempat Duel hingga Luka Parah
-
Gencarkan Sport Diplomacy, Erick Thohir dianugerahi KWP Awards 2026
-
Malaysia Bungkam Timnas Indonesia U-17, Shukor Adan Puji Kedewasaan Lini Belakang
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
6 Penumpang Helikopter PK-CFX Ditemukan Tewas di Hutan Sekadau
-
Kejati Banten Geledah Kantor BUMD PT ABM, Koper Berisi Dokumen Penting Disita
-
Revolusi Pertanian dari Desa, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal Sabet KWP Awards 2026
-
5 Fakta Mengejutkan Skandal Dugaan Pelecehan Seksual di Grup Chat Mahasiswa IPB
-
Lebih dari 10 Pelaku Diburu! Polisi Ungkap Perkembangan Kasus Kades Lumajang Diserang
-
Kredibilitas Jadi Kunci, Ini Alasan Memilih Pengembang Properti Tak Bisa Sembarangan