Suara.com - Keberlanjutan atau yang dikenal juga dengan istilah sustainability kini menjadi suatu hal yang harus diperhatikan oleh perusahaan. Menjalankan bisnis yang bertanggung jawab terhadap lingkungan semakin menjadi perhatian dari berbagai pihak mulai dari masyarakat hingga korporasi multi-nasional.
PT South Pacific Viscose (SPV), sebagai bagian dari Lenzing Group, adalah adalah perusahaan kelas dunia penghasil serat berbahan selulosa yang selalu mengedepankan prinsip keberlanjutan dalam setiap proses produksi yang dijalankan. Pabrik produksi milik SPV berada di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
”Sebagai bagian dari Lenzing Group yang menerapkan best practices dalam sustainability, SPV juga memiliki komitmen dalam menerapkan best practices sustainability dalam mendorong penerapan sirkular ekonomi di Indonesia dan bisa berkontribusi bagi program pemerintah dalam menerapkan Net-Zero Emission pada tahun 2050,” jelas Corporate Affairs Manager PT South Pacific Viscose, Sigit Indrayana, dalam siaran pers yang diterima Suara.com, Jumat (12/8/2022).
Penerapan praktik keberlanjutan dari Lenzing dapat terlihat dari hasil produksi Lenzing yang juga didistribusikan di Indonesia yakni serat bermerek TENCEL™ dan LENZING™ ECOVERO™, serat berbahan dasar kayu yang tersertifikasi dan ramah terhadap lingkungan. Kedua merek serat tersebut juga menjadi highlight dari Lenzing saat menjadi eksibitor dalam acara Indo Intertex 2022 di Jakarta International Expo, Kemayoran.
TENCEL™ merupakan merek serat khusus tekstil dari Lenzing Group yang mencakup kebutuhan tekstil untuk produk pakaian dan produk untuk rumah. Portofolio merek serat TENCEL™ menciptakan langkah yang evolusioner dalam hal keberlanjutan, keuntungan fungsionalitas produk, kenyamanan dan dapat menyesuaikan dengan penggunaan atau aplikasi sehari-hari. TENCEL™ sendiri sudah bekerjasama dengan lebih dari 300 merek secara global melalui berbagai kampanye yang berfokus pada konsumen.
Dengan mengusung kampanye ‘Feel Good Fibers Since 1992’, merek tekstil unggulan dari Lenzing ini merayakan tiga dekade perjalanan dan pengembangan inovasi serat berkelanjutan. Sejak tahun 1992, serat TENCEL™ telah memberdayakan perusahaan dalam seluruh rantai pasokan dan ekosistem tekstil untuk mengadopsi praktik bisnis yang lebih ramah lingkungan.
”TENCEL™ saat ini sedang dalam proses menuju True Carbon Zero, agar bisa berkontribusi pada industri tekstil yang bebas emisi karbon. Di tahun 2020, serat bebas karbon pertama di industri yakni TENCEL™ Carbon Zero berhasil diluncurkan oleh Lenzing. Dalam satu dekade mendatang, kita akan melihat lebih banyak inovasi berbasis keberlanjutan dalam rangka mewujudkan visi bebas karbon di tahun 2050,” tutur Head of Commercial Textile, Lenzing Group SEA & Oceania, Winston A. Mulyadi.
Selain TENCEL™, Lenzing juga memiliki merek lain yang diproduksi dengan menerapkan proses keberlanjutan yakni LENZING™ ECOVERO™. Serat LENZING™ ECOVERO™ yaitu serat viscose atau rayon yang diproduksi dengan standar yang lebih tinggi dibanding dengan serat viscose dipasaran saat ini karena menggunakan proses produksi yang lebih ramah lingkungan, karbon emisi 50% lebih rendah dan dampak penggunaan air yang lebih sedikit serta telah disertifikasi oleh EU Ecolabel. Serat ini dapat terurai secara hayati dan secara alami kembali ke alam setelah dibuang, sebagaimana disertifikasi oleh TÜV AUSTRIA. LENZING™ ECOVERO™ rencananya akan mulai diproduksi juga oleh SPV di Indonesia pada Maret 2023.
“Lenzing menyadari bahwa di dunia dengan sumber daya alam yang terbatas, kelestarian lingkungan mengharuskan kita mengambil lebih sedikit dan hanya menggunakan sumber daya yang kita butuhkan, dan memanfaatkannya dengan efisiensi yang maksimum. Kami akan terus berfokus untuk menciptakan inovasi yang mampu membawa perubahan pada industri tekstil dan fashion,” kata Winston A. Mulyadi.
Baca Juga: Kunjungi Pabrik Erigo, Mendag Akui Banyak Dapat Masukan untuk Bantu Produk lokal
Berita Terkait
-
Antrean Panjang Mobil Demi Dapat Solar di SPBU Siak, Sopir: Mau Tak Mau Dijalani
-
Pertamina: Stok Pertalite di DKI, Banten, Jabar Cukup Buat 15 Hari ke Depan
-
Beberapa Motor Listrik Karya Anak Bangsa Siap Diproduksi, Ini Dia Jenisnya
-
Quester Euro 5, Andalan UD Trucks di GIIAS 2022 yang Kedepankan Semangat Ramah Lingkungan
-
Berkomitmen Mewujudkan Pelestarian Lingkungan, JIEP Raih Penghargaan CSR dan TJSL Award 2022
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
- 5 Parfum Wanita Terbaik untuk Acara Malam, Wanginya Elegan dan Memikat
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Viral Dugaan Penipuan Tes TOEFL saat MPLS, Disdikpora DIY Tegaskan Nama Dinas Dicatut
-
Sudah Kantongi Hak Cipta, Tari Kipas Ajer Raih Medali Emas di Singapura
-
57% Orang Indonesia Simpan KTP dan Paspor di HP, Kaspersky Ingatkan Risiko Kebocoran Data Meningkat
-
Misi Terakhir Deschamps di Piala Dunia 2026: Kawal Kylian Mbappe Rebut Sepatu Emas dari Lionel Messi
-
Tren Ngopi Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi, Pelaku F&B Didorong Ciptakan Menu Bernilai Tambah
-
GAC Indonesia Kuasai Segmen Hatchback Listrik Lewat Dominasi AION UT
-
Soal Pemberian Amplop kepada Pejabat, Gratifikasi Sebaiknya Ditolak Sejak Awal
-
Daftar Warna Keberuntungan Shio 2026, Bawa Energi Positif Menurut Ahli
-
Kafka on the Shore: Perjalanan Menemukan Diri di Antara Mimpi dan Kenyataan
-
KPK Tak Bisa Sendirian, Pengawasan Dana Otsus Papua Tak Boleh Dibebankan pada Satu Lembaga