SUARAPURWOKERTO.ID, Banjir rob terjadi di berbagai wilayah di Pantai Utara (Pantura) seperti Kota Semarang, Tegal, Pekalongan, Demak, Pati, dan Rembang. Banjir rob juga terjadi di pesisir utara Jawa Timur, seperti Tuban dan Lamongan.
Banjir rob di Semarang diperparah dengan jebolnya tanggul penahan air laut. Banjir rob tersebut diduga karena adanya pasang air laut dan gelombang tinggi yang melanda sejumlah wilayah di pesisir utara Jawa.
Yanto, PhD, Pakar Hidrologi Unsoed menyampaikan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika telah merilis prediksi terjadinya banjir rob di beberapa wilayah pantai utara jawa hingga tanggal 25 Mei 2022.
Prediksi tersebut pun terbukti di beberapa wilayah. Bahkan jebolnya tanggul di Tanjung Emas Semarang menambah bukti makin besarnya ancaman banjir rob di wilayah pesisir utara Jawa, jelas Yanto,PhD.
Banjir rob menurut dia bukan fenomena baru di pesisir utara Jawa. Kejadian ini telah terjadi sejak berpuluh-puluh tahun yang lampau hingga kini. Hanya intensitas dan ketinggian banjir rob semakin meningkat dari tahun ke tahun.
"Ada beberapa faktor yang jika tidak dikendalikan, maka banjir rob akan menjadi fenomena abadi di pesisir utara Jawa, " katanya
Alumni Doctor of Philosophy, Civil Environmental and Architectural Engineering, University of Colorado at Boulder, USA itu menjelaskan, setidaknya ada 4 faktor utama yang memungkinkan abadinya banjir rob di pesisir Jawa.
Pertama, fenomena pasang surut merupakan siklus 15 harian akibat interaksi bulan dan bumi. Jika terjadi pasang naik, maka air laut akan masuk ke daratan dan menyebabkan banjir rob.
Kedua, meningkatnya debit banjir pada muara sungai-sungai besar di pesisir utara Jawa akibat hujan deras. Ini juga dipicu rusaknya kawasan hulu di beberapa daerah aliran sungai di Jawa karena berubahnya tata guna lahan dan menurunnya fungsi konservasi lingkungan.
Ketiga, fenomena perubahan iklim yang ditandai dengan meningkatnya frekuensi kejadian hujan ekstrim, yaitu hujan dengan intensitas sangat tinggi. Sebagai contoh adalah hujan ekstrim sebesar 377 mm pada awal tahun 2020 di Jakarta.
Keempat, turunnya permukaan tanah pesisir akibat pengambilan air tanah secara berlebihan sebagai akibat tidak terpenuhinya kebutuhan air domestik menggunakan air permukaan.
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Prabowo Siap Terbang ke Teheran, Damaikan Perang AS-Israel Vs Iran
-
AS dan Israel Bom Sekolah Khusus Putri di Iran, 36 Siswi Tewas
-
Pernyataan Resmi Kemlu RI soal Serangan AS-Israel ke Iran: Indonesia Siap Fasilitasi Dialog
-
Perang Meluas di Timur Tengah: Iran Hantam Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Kuwait dan Uni Emirat Arab
-
Iran Bom Markas Besar Angkatan Laut AS! Lalu Tembakkan 75 Rudal ke Israel
Terkini
-
Jangan Baca Pesan Terakhirku
-
Terungkap! Maarten Paes Blak-blakan Soal Peran Penasihat Teknis PSSI di Balik Transfernya ke Ajax
-
Prabowo Siap Terbang ke Teheran, Damaikan Perang AS-Israel Vs Iran
-
5 Film dan Series Tayang di Prime Video Maret 2026, Siren's Kiss Sampai Young Sherlock
-
Kronologi Pembunuhan Sadis di Tanjungpinang, Pelaku Tega Potong Tubuh Istri
-
Dari Kajian Sampai Bazaar UMKM, Hijrahfest Ramadan 2026 "Comeback Stronger" Hadir di Jakarta
-
Fakta Tersembunyi Iran Dikeroyok AS dan Israel: Benarkah Cuma karena Isu Kepemilikan Nuklir?
-
AS dan Israel Bom Sekolah Khusus Putri di Iran, 36 Siswi Tewas
-
KPK Ingatkan Gubernur Kaltim soal Mobil Dinas Senilai Rp8,5 Miliar
-
Fariz RM Diam-Diam Bebas Penjara, Tak Ada yang Jemput: Kayak di Film-Film