/
Selasa, 28 Juni 2022 | 08:05 WIB
Rudal Afgani

PURWOKERTO.SUARA.COM, PURBALINGGA - Adelia mengenakan busana penari sufi berwarna biru. Dalam iringan musik dari rebana, Adel mengangkat kedua tangannya dan mulai berputar berlawanan jarum jam. Gerak putaran membuat pakaian khas penari sufi membuka layaknya payung yang terkembang.

Hari itu, Minggu 26 Juni 2022, Adel tampil pada acara dialog yang digagas Lakpesdam PCNU Kabupaten Purbalingga di Waroeng Juguran. Di depan para tokoh NU lintas profesi, Adel tampil bersama seorang rekanya, Ardiansyah.

Tari sufi bagi Adel bukan sekadar seni, namun juga ritual peribadatan cinta seperti yang digariskan Jalaludin Rumi, pelopor tari sufi itu sendiri. Dalam tari sufi, gadis muda itu menemukan kedamaian batin.

"Kalau dirasakan, sebelum dan sesudah menekuni tari sufi, batin jadi lebih tenang," ujar dia.

Ini pula yang membuat Adel mampu bertahan meskipun melakukan putaran hingga ratusan kali. Bersama putaran itu, ada aktivitas batin, yaitu zikir atau mengingat Sang Maha Cinta.

"Itu mengapa menari sufi juga merupakan ibadah buat kami," kata dia.

Sementara gerak memutar berlawanan jarum jam merupakan replika dari aktivitas tawaf dalam ritual ibadah haji. Tawaf merupakan simbol kasih yang berakar dari rasa cinta Sarah pada Ismail, putra Nabi Ibrahim.

Alkisah Sarah berlari dari bukit Safa hingga Marwah ulang alik untuk mencari setetes air untuk Ismail. Gerak ini menjadi simbol cinta paling murni, cinta seorang ibu untuk putranya.

Dari gerak memutar tari sufi itulah, Adel belajar memaknai cinta dari hikayat Sarah dan Ismail. Cinta pada Sang Maha Cinta seperti jalan cinta Jalaludin Rumi. 

Baca Juga: Habib Luthfi Minta Ada Haul Syech Nahrowi Muhtarom Al Banyumasi, Ulama Kelahiran Purbalingga yang Jadi Guru Kiai Besar Nusantara

Load More