PURWOKERTO.SUARA.COM – Setelah mengetahui tanaman tebu dan kopi yang menjadi primadona di wilayah Eks Keresidenan Besuki Jawa Timur baik di Situbondo dan Bondowoso, mari kita bergeser ke wilayah lain yang juga menyimpan potensi yang sama dalam khasanan kolonial Belanda di Jawa.
Di wilayah lainnya yang masih masuk wilayah Eks Keresidenan Besuki komoditas peninggalan kolonial Belanda yang hingga saat ini masih tetap dipertahankan bahkan menjadi tanaman unggulan termasuk di Kabupaten Jember. Wilayah yang berbatasan langsung dengan Banyuwangi di ujung timur, Bondowoso di sisi utara dan Kabupaten Lumajang di sisi barat membuat wilayah ini juga dikenal dengan sejarah panjang masa kolonial.
Jika sebelumnya penulis memuat Situbondo sebagai penyuplai Gula dunia melalui tanaman tebunya. Lalu Bondowoso dengan aroma Kopinya yang mendunia, Kabupaten Jember juga memiliki potensi Tembakau yang hingga kini tetap dipertahankan. Tentu tidak lengkap jika tidak membahas perkembangan tembakau di kota seribu gumuk ini.
Bahkan sangking dikenalnya Tembakau dari Jember, Universitas Jember (Unej) salah satu kampus terbaik di Jawa Timur merancang satu gedungnya dengan atap berbentuk daun tembakau untuk mengangkat tanaman lokal yang ada di wilayah kampus itu berada.
Perlu diketahui, sebelum penetapan wilayah di Kota Jember, masa itu wilayah yang masuk Karesidenan Besuki tersebutmerupakan kota paling menarik pertumbuhannya di antara kota-kota lain pada pertengahan awal abad 19 sampai abad 20.
Meski sebelumnnya Jember sempat menjadi kota kecil yang sepi, terisolasi dan statusnya sebagai salah satu distrik dari RegentschapBondowoso. Tidak butuh lama Kota Jember menjadi kota yang paling besar dibanding Kabupaten Panarukan, Bondowoso, dan Banyuwangi.
Robert van Niel, dalam buku “Munculnya Elite Modern Indonesia” yang terbit tahun 2009 menulis pendorong pertumbuhan Kota Jember itu erat kaitannya dengan penetrasi sistem kapitalisme yakni perkebunanpartikelir.
Sebab kala itu banyak bermunculan perkebunan-perkebunan swasta di wilayah Jember melalui kebijakanekonomi pada dekade ke enam dan ke tujuh. Kala itu masyarakat mafhum menyebut the system of enterprise, ini menjadi momen yang membawa dampak perubahan sosial dan ekonomi pada masyarakat di Kota Jember saat itu.
Sebab sistem tersebut sebagai pengganti sistem tanam paksa yang oleh sebagian pengamat kala itu dianggap membawa tragedi kemelaratan bagi rakyat Indonesia. Pemrakarsa sistem baru tersebut ialah kelompok liberal yang menentang pelaksanaan sistem tanampaksa.
Sistem baru memungkinkan tumbuhnya perkebunan-perkebunan swasta, karena pemerintah Hindia Belanda memberikan dukungan dan fasilitas yang besar pada pihak swasta.
Baca Juga: KPU Buka Lowongan 287 Ribu Anggota PPK dan PPS, Apa Saja Syaratnya?
Bahkan sejauh pengamatan penulis, hingga saat ini beberapa perkebuanan tersebut masih ada yang tetap berdiri dan beroperasi meski dengan bendera yang berbeda. Jika di Jember rerata perkebunan pada masa kolonila sudah dinasionalisasi dengan menjadi PTPN.
Tidak hanya itu, hingga saat ini Kota Jember juga masih dikenal dengan Industri Tembakaunya yang menggurita diberbagai wilayah. Jika menilik kebelakang, perintis pembukaan perkebunan tembakau di daerah Jember ialah seorang kontroleur pertanian Bondowoso bernama George Birnie.
Medio 1850 saat Bondowoso ditetapkan menjadi Kabupaten Bondowoso yang wilayahnya mencangkup Kota Jember. Meski di akui, saat itu Jember masih menjadi tempat terpencil karena terletak di daerah pedalaman tapi hal tersebut tidak membuat George Birnie mengurungkan ekspansi tembakaunya di Jember.
Hingga akhirnya pada 21 Oktober 1859 Birnie bekerjasama dengan dua pengusaha Belanda di Surabaya yakni A.D. Van Gennep dan Mr C Sandenberg Matthiesen pemilik Anemat & Co yang bergerak di bidang usaha jual beli komoditas perkebunan di Surabaya.
Sejurus perjalanan waktu mereka mendirikan NV LandbouwMaatscappij Oud Djember (NV LMOD). Mulai saat itulah Jember dikenal sebagai sentraperkebunan tembakau Besoeki Na oogst yang terkenal di pasaran internasional.
NVLMOD kemudian mengembangkan usahanya, tidak hanya menanamtembakau tetapi juga mengusahakan perkebunan aneka tanaman seperti kopi, kakao, karet dan sebagainya. Keberhasilan Birnie dan kawan-kawan itu menunjukkan bahwa daerah Jember amat cocok untuk mengembangkan usaha perkebunan bahkan bertahan hingga sekarang.*(ANIK AS)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
-
Buat Kaum dengan Upah Pas-pasan, Nabung dan Investasi Adalah Kemewahan
-
Resmi! Liliek Prisbawono Jadi Hakim MK Gantikan Anwar Usman
-
Apartemen Bassura Jadi Markas Vape Narkoba, Wanita Berinisial E Diciduk Bersama Ribuan Barang Bukti!
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
Terkini
-
Ketum PB IPSI Terpilih, Erick Thohir Siap Kawal Pencak Silat Mendunia
-
Bisa Remisi, Ini Cara Mengendalikan Diabetes Tanpa Bergantung Obat
-
Viral Kunjungan Komisaris Pusri di Padang, Rombongan Arteria Dahlan Foto di Tikungan Ekstrem
-
Amarah Warga Serbu Diduga Rumah Bandar Narkoba Berujung Kapolsek Panipahan Dicopot
-
'Pak Minta Nama!', Cerita Haru Nenek di Istana hingga Prabowo Usulkan Nama Adi Dharma
-
Selama Ini Disangka Hiasan, Ternyata Ini Makna Warna Ondel-Ondel yang Sesungguhnya
-
Sinopsis Film Mudborn: Kisah Boneka Tanah Liat Pembawa Petaka, Tayang di Netflix
-
Puji Kontribusi Masif Warga Jateng, Pramono Anung: Pilar Penting Jakarta Menuju Kota Global!
-
5 Sepatu Lari yang Tetap Keren Dipakai Ngantor di Sudirman, Nyaman Seharian Tanpa Ganti Sepatu
-
Pendidikan Asrama Gratis: Siswa Makan 3 Kali Sehari, Punya Tempat Tidur hingga Tumbler