/
Senin, 28 November 2022 | 17:40 WIB
Gambar udara Monumen Gebong Maut di Bondowoso. ((Instagram @hitvmku))

PURWOKERTO.SUARA.COM - Jika di Terowongan Paledang, Bogor menyimpan misteri imbas puluhan pelajar meninggal ketika menaiki kereta api Bogor-Sukabumi di tahun 2000 lantaran naik di atap kereta api. Jauh, puluhan tahun sebelum itu tragedi berkaitan dengan Kereta Api pernah terjadi di Jawa Timur.

Kejadian tersebut tepat di Bulan November, bulan ini memang di kenal sebagai bulan Pahlawan dengan peristiwa bersejarah tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby, dalam pertempuran di Surabaya, Jawa Timur 10 November 1945. 

Dua tahun setelah kejadian itu di bulan yang sama meski Indonesia sudah merdeka, upaya agresi militer Belanda tetap dilakukan hingga berimbas pada gejolak perang antara tentara Belanda dengan Tentara Republik Indonesia (TRI) yang kini berubah menjadi TNI.

Pagi itu, 23 November 1947, tepat 77 tahun lalu tragedi Gerbong Maut terjadi di Jawa Timur. Saya yang beberapa kali melintas di Alun-alun Ki Ronggo Kabupaten Bondowoso melihat betapa momen pilu tersebut diabadaikan dalam sebuah patung yang berada di selatan alun-alun tersebut lengkap dengan replika gerbong mautnya.

Konon dari cerita kolega saya yang tinggal di Bondowoso, pada masa itu puluhan orang pejuang gugur lantaran disekap di sebuah gerbong kereta yang berangkat dari stasiun Bondowoso menuju ke Surabaya. FYI, Peristiwa tersebut terjadi beberapa bulan setelah Agresi Militer Belanda I yang berlangsung  sejak 21 Juni 1947.

Buntut dari persenjataan Pasukan Belanda yang lebih modern membuat perlawanan pejuang Indonesia di Jawa Timur kualahan, hingga harus dipukul mundur di daerah pegunungan. Pejuang yang tertangkap justru langsung diadili dengan dibawa ke Surabaya yang menjadi muasal kejadian Gerbong Maut tersebut terjadi.

Tidak kurang 100 orang Indonesia yang dibawa oleh Belanda diangkut dari Stasiun Bondowoso ke Stasiun Wonokromo (Surabaya) dengan tiga buah gerbong barang yang tertutup rapat dengan ventilasi terbatas.

Dikutip laman Kemendikbud RI, Tiga gerbong tersebut dengan kode GR 10152 diisi sebanyak 38 orang, gerbong kedua dengan kode GR 4416 diisi 29 orang dan gerbong ketiga dengan kode GR5769 diisi oleh 33 orang. Salah satu Gerbong dengan kode GR 10152 yang berhasil diselamatkan dalam tragedi tersebut saat ini berada di Museum Brawijaya di Malang Jawa Timur.

Sedangkan gerbong lainnya yang ada di Kabupaten Bondowoso maupun di Jalan Mayjen Sungkono Kota Surabaya merupakan replika dari gerbong maut yang ada. Jika kalian melihat kondisi gerbong tersebut tentu tidak akan terbayang betapa mengerikannya kondisi di dalam kereta saat kejadian itu berlangsung.

Baca Juga: Skenario Agar Jerman Lolos 16 Besar Piala Dunia 2022, Menang Saja Tak Cukup

Sebab dari kondisi gerbongnya sendiri terlihat tanpa ada jendela, meski ada lubang ventilasi itupun sangat kecil sekali, nahas saat kejadian lubang tersebut disumpal oleh tentara Belanda agar lubangnya tertutup sehingga tawanan tidak melihat kondisi di sisi luar.

Tidak sampai itu saja, kondisi bagian atap gerbong yang terbuat dari seng membuat kondisi pengap dan panas dialami tawanan sehingga banyak pejuang yang gugur sebelum sampai di Stasiun Wonokromo Surabaya, mengingat mereka sduah dibawa ke Stasiun KA Bondowoso sejak pukul 03.00 WIB pagi.

Nahas kereta tesebut baru berangkat sekitar Pukul 07.00 WIB, hingga pada pukul 08.00 WIB, kereta baru tiba di Stasiun Kalisat, Jember. Di sanapun kereta tersebut masih menungggu rangkaian dari Banyuwangi untuk digabung dan berangkat menuju Surabaya.

Kondisi pejuang yang ada di dalam berjubelan selama berjam-jam, hal itu diperparah lantaran mereka yang di tawan Belanda berada dalam kondisi tanpa makan dan minum sehingga kondisi kesehatan terus menurun.

Jika KA Probowangi saat ini, relasi Jember menuju Surabaya hanya membutuhkan waktu tidak lebih Lima Jam. Perjalanan Kereta Gerbong maut dari Jember sekitar pukul 08.00 WIB baru tiba di Stasiun Wonokromo Surabaya sekitar 19.30 WIB, nyaris 12 Jam perjalanan dengan kondisi penumpang yang berlebihan dan tidak dimanusiakan.

Hal tersebut mengakibatkan 40 pejuang gugur lantaran selama perjalanan yang ditempuh kondisi didalam gerbong yang tertutup rapat tanpa diberi makan dan minum. Panasnya udara di dalam gerbong saat siang membuat setibanya di Stasiun Wonokromo mereka bertumbangan.

Hingga saat ini setiap tanggal 23 November Pemkab Bondowoso selalu menginisiasi peringatan Gerbong Maut ini untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur demi kemeredekaan Indonesia.*(ANIK AS)

Load More