PURWOKERTO.SUARA.COM – Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur (Dinkes Jatim) yang mencatat ada 6.145 pasien HIV baru per bulan Oktober 2022, dengan kasus kumulatif sebanyak 84.959 di seluruh Jatim tenyata menjadi perhatian berbagai pihak.
Sebab setelah dilakuan berbagai uji klinis, ternyata penularan HIV tidak hanya melalui hubungan seksual yang sembrono. Pada ibu hamil dengan HIV AIDS penularannya ke anak melalui cairan ASI diperkirakan memiliki risiko lebih tinggi dibanding cara penularan melalui kehamilan dan persalinan.
Hal tersebut diungkapkan Dwinanda Aidina, dokter spesialis anak dari RSAB Harapan Kita Jakarta. Ia menyebut jika data penularan HIV melalui ASI itu ternyata paling tinggi risikonya. Jika mengacu pada data, dari kehamilan itu sekitar 5-10 persen, dari melahirkan 10-15 persen.
“Namun kalau dari menyusui ini malah bisa mencapai 15 hingga 20 persen,” kata Dwinanda dikutip Antara. Jumat, (02/12/2022).
Dia menambahkan risiko penularan semakin meningkat menjadi 30-40 persen apabila ibu dengan virus perusak sistem kekebalan tubuh atau HIV tidak menjalani pengobatan ARV selama kehamilan, ditambah melahirkan melalui pervaginam, serta rutin memberikan ASI kepada bayi terutama dalam jangka panjang.
Mengingat hal tersebut, Dwinanda mengatakan ibu dengan HIV disarankan untuk tidak memberikan ASI dan sebagai gantinya dapat memberikan PASI (pengganti air susu ibu) dalam bentuk susu formula. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya zero risk transmission atau nol infeksi baru.
Pada kasus tertentu, pemberian ASI masih dibolehkan tetapi harus memenuhi syarat seperti ibu harus dalam kondisi virus yang sudah tidak terdeteksi dalam darah dan yakin bisa memberikan ASI secara eksklusif dan tidak diperkenankan mix feeding.
Meski begitu, dia mengingatkan meskipun virus HIV pada ibu sudah tak terdeteksi dalam darah, kondisi tersebut juga tidak menjamin bahwa virus HIV tidak ada di dalam ASI.
Oleh sebab itu, ibu dengan HIV diminta untuk mempertimbangkannya dengan baik. Pertimbangkan pula risiko transmisi seandainya terjadi perlukaan saat menyusui dan mengeluarkan darah.
Baca Juga: Kabar Bagus! UMK Kebumen Rp 2.038.890 Berlaku 1 Januari 2023
“Memang, sih, ASI yang terbaik, ya. Tapi kita juga melihat pada masing-masing individu. Lihat risikonya, baik buruknya, atau benefit and risk-nya antara ASI dan susu formula. Jadi harus didiskusikan lagi sama ibunya,” ujar Dwianda.
Dia memastikan bahwa pemberian PASI atau susu formula tidak akan mengganggu tumbuh kembang anak selama pemberiannya disesuaikan dengan indikasi, perkembangan, dan berat badan pada anak.
Meski begitu, terdapat sejumlah kekurangan pada PASI karena tidak seratus persen sama seperti ASI seperti anak kemungkinan tidak memiliki antibodi dari ibunya.
“Kekurangannya mungkin di susu formula agak harus benar-benar menyiapkannya dengan steril karena harus diseduh air panas, botolnya harus steril, itu mungkin yang agak membuat repot. Jadi harus diperhatikan juga penyiapannya,” imbuh dia.
Untuk meningkatkan upaya pencegahan transmisi dari ibu dengan HIV, Dwianda menambahkan bahwa bayi yang baru lahir akan diberikan obat antiretroviral (ARV) jenis zidovudin atau kombinasi dengan ARV lain seperti nevirapine apabila ibu tetap memilih untuk memberikan ASI.
Dia menjelaskan obat pencegahan tersebut diberikan selama 6 minggu, kemudian setelahnya diganti dengan pemberian profilaksis kotrimoksazol. Dalam perjalanan pemberian obat, bayi harus terus dievaluasi tumbuh-kembangnya serta tetap dilakukan skrining atau tes HIV.
“Dalam perkembangannya si bayi juga harus diskrining. Biasanya akan dicek, kita sebutnya early infant diagnosis, pada usia bayi 6 minggu dan usia 4 atau 6 bulan. Biasanya dua kali dites, apakah si bayi dalam perjalanannya mengalami infeksi HIV. Sambil kita pantau juga gejalanya, tumbuh kembangnya dan sebagainya,” pungkas Dwianda.***
Berita Terkait
-
Kasus Kumulatif HIV di Jawa Timur Sentuh 84 ribu Kasus, Bulan Oktober Penambahannya Cukup Drastis
-
Klarifikasi Lengkap Heidy Sunan, Bantah Suaminya Kena HIV dan Selingkuh dengan Denise Chariesta
-
Hindari Penggunaan Popok Saat Anak Demam, Deteksi Dini Gagal Ginjal Akut
-
Tega! Bayi Baru Lahir Ditelantarkan di Teras Rumah Warga Kebumen
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Kebakaran Empat Lawang, 20 Rumah Terdampak dan Kerugian Tembus Rp5,2 Miliar
-
3 Pelaku Begal Polisi di Palembang Ternyata Ayah, Anak dan Seorang Perempuan
-
Jadi Ojek Pangkalan, Polisi di Palembang Ditusuk 4 Kali dan Motornya Dibawa Kabur Begal
-
Kemiskinan Sumsel Turun, Garis Kemiskinan Naik 3,15 Persen Jadi Rp628 Ribu Per Bulan
-
Kasus Iklan BJB, Ada Dugaan Aliran Dana ke Lisa Mariana Lewat Pihak Nominee
-
KPK Tahan Bos-Bos Iklan Bank BJB, Dirut Yuddy Renaldi Mendadak Sakit Saat Akan Dibui
-
BRI Beri Diskon Spesial Seminar Johnny Andrean Lewat Aplikasi BRImo
-
Menuju IFRC 2026, ERT NHM Perdalam Teknik dan Strategi Penyelamatan
-
Gelar Dicopot! Profil Menantu Sultan Brunei yang Bikin Penasaran Publik, Ternyata Ini Kasusnya
-
PSSI Murka! Justin Hubner dan Keluarga Jadi Sasaran Ancaman, Publik Diminta Hentikan Serangan