/
Sabtu, 17 Desember 2022 | 10:35 WIB
ilustrasi gangguan mental ((pixabay))

PURWOKERTO.SUARA.COM- OCD atau Obsessive Compulsive Disorder adalah gangguan kesehatan mental yang saat ini mulai ramai diperbincangkan.

Apalagi setelah fakta pemain sinetron paling terkenal “Ganteng-Ganteng Serigala” yakni Aliando Syarief mengaku sebagai penderita OCD.

Seperti yang kita tahu, OCD adalah  kelainan psikologis yang memengaruhi pikiran dan perilaku penderitanya. Namun penjelasan seputar OCD sendiri belum ramai dibahas. Ketika seseorang mengidap penyakit OCD, pikiran dan rasa takut yang tidak diinginkan akan muncul secara terus menerus.

Berdasarkan penelitian di Amerika Serikat, OCD adalah salah satu dari 20 penyebab utama kecacatan terkait gangguan mental untuk individu berusia antara 15 - 44 tahun.

Gangguan Obsesif Kompulsif diambil dari dua kata obsessive yang artinya pemikiran yang berulang akan sesuatu dan compulsive yang artinya tindakan atau perilaku yang terlihat secara kasat mata.

OCD adalah gangguan mental yang menyebabkan penderitanya merasa harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang. Bila tidak dilakukan, penderita OCD dapat diliputi kecemasan atau ketakutan.

Sebenarnya, orang yang memiliki penyakit OCD seringkali tidak ingin bertingkah laku seperti itu, namun ia cenderung tidak dapat mengendalikannya. Perilaku obsesif dan kompulsif ini biasanya akan mendominasi aktivitas mereka sehari-sehari. Akibatnya, penderita menjadi sulit untuk produktif dalam bekerja.

Penyebab OCD

Sayangnya, para ilmuwan belum menemukan penyebab pasti dari OCD. Namun, ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap munculnya gangguan ini, yaitu:
1.Faktor biologis. Beberapa studi menemukan OCD bisa terjadi karena perubahan bahan kimia alami di otak, seperti kekurangan serotonin sehingga cenderung ingin berperilaku yang sama berulang kali.
2.Faktor genetik. OCD bisa menjadi penyakit keturunan, tapi belum diketahui gen yang memengaruhi masalah kesehatan mental ini.
3.Faktor lingkungan. Misalnya pernah mengalami trauma masa kecil, infeksi streptococcus atau Pediatric Autoimmune Neuropsychiatric Disorders Associated with Streptococcal Infections (PANDAS) dan perilaku obsesif kompulsif karena mengamati anggota keluarga.

Baca Juga: Baru Buka di Indonesia dan Dianggap Terlalu Cringe, Ini Asal Karen Dinner

Gejala OCD

Penyakit kesehatan mental ini sering dimulai pada masa kanak-kanak, remaja atau dewasa muda. Umumnya, gejala mulai muncul saat usia di bawah 20 tahun. Beberapa gejalanya yang umumnya muncul adalah:

- Takut terkontaminasi oleh benda yang telah disentuh orang lain atau kotor
- Keraguan penderita, apakah telah mengunci atau mematikan kompor
- Stres intens ketika melihat benda tidak rapi atau tidak simetris
- Membayangkan menyakiti diri sendiri atau orang lain
- Pikiran tentang meneriakkan kata-kata kotor atau bertindak tidak pantas yang tidak diinginkan dan membuat tidak nyaman
- Menghindari situasi yang dapat memicu obsesi, seperti berjabat tangan
- Terganggu dengan gambar seksual yang tidak menyenangkan berulang dalam pikiran

Gejala kompulsif

Kompulsif dalam OCD mengacu pada keinginan melakukan perilaku berulang. Tindakan mental yang dilakukan berulang-ulang ini bertujuan untuk mencegah kecemasan akibat obsesi penderita.

Contoh tanda kompulsif yang terlihat pada umumnya seperti:
- Cuci tangan berulang kali, bahkan sampai kulit lecet
- Memeriksa pintu berulang kali untuk memeriksa apakah sudah terkunci
- Menghitung dalam pola tertentu
- Diam-diam mengulangi doa, kata, atau frasa
- Mengatur barang-barang secara rapi

Jenis OCD

Dikutip dari Times of India, berikut lima jenis OCD yang paling umum serta gejala-nya.

1. Pembersihan dan kontaminasi.

Ketika seseorang terus menerus merasa ter-kontaminasi kuman sehingga membuatnya ingin selalu membersihkan diri sampai berdarah.

2. Pikiran yang mengganggu.

Biasanya membuat penderita OCD malu, mengalami emosi negatif yang diikuti tindakan tidak logis, seperti menghindari orang dan tempat tertentu.

3. Simetri.

Ketakutan obsesif terhadap objek tertentu yang kurang simetris. Gejala umumnya, termasuk memeriksa kunci beberapa kali, menghitung langkah saat berjalan dan menghitung ubin.

4. Fokus pada bahaya

Hanya fokus pada bahaya yang mengganggu pikirannya jika sesuatu menyakiti dirinya sendiri maupun orang lain. Gejala-nya, mendadak terdorong menyakiti diri sendiri, pikiran kekerasan yang tak disengaja, serta melakukan aktivitas fisik dan mental.

5. Penimbunan

Ketidakmampuan seseorang untuk membuang barang-barang yang sudah usang dan tidak berguna. Sehingga rumahnya tampak kacau dan tidak mengizinkan orang mengunjungi rumahnya.

Load More