/
Senin, 06 Februari 2023 | 18:13 WIB
IMG_20230206_18075

Terutama masalah keagamaan, seperti sikap tegas PBNU yang juga diikuti oleh setiap cabang termasuk NU cabang Kebumen, misalnya:


1. NU meminta dihapuskannya membayar pajak atas penyembelihan hewan ternak untuk ibadah kurban.


2. NU menolak adanya kewajiban memasuki milisi Belanda bagi pemuda-pemudi Indonesia dan mengharamkan bagi pemudi Islam untuk menjadi milisi Belanda.


3. NU menolak tranfusi darah untuk serdadu Belanda yang luka dan mengharamkan umat Islam untuk menyumbangkan darahnya untuk serdadu penjajah.


4. NU menolak subsidi yang ditawarkan oleh pemerintah kolonial kepada madrasah-madrasah NU,


5. NU mengadakan “moment active” / gerakan mabadi Khoiro Ummah untuk menolong serta mempertinggi keadaan sosial ekonomi bangsa Indonesia.


NU Kebumen di Masa Penjajah Jepang


Saat perang dunia kedua pecah dan tentara Jepang berkuasa di Indonesia menggantikan kedudukan Belanda sebagi penguasa jajahan, yaitu sejak tentara Dai Nippon memasuki wilayah Indonesia pada tanggal 7 Maret 1942, seluruh tanah air Indonesia yang menjadi jajahan tentara Dai Nippon. Negara Indonesia dinyatakan dalam keadaan perang. 


Semua partai dan organisasi massa termasuk NU dibubarkan oleh tentara fasisme Jepang. Kegiatan masyarakat di batasi dan mendapat pengawasan yang ketat dari tentara Dai Nippon.

Baca Juga: Kapan KUR BRI 2023 UMKM Buka? Ini Persyaratannya


Meski demikian, para ulama dan warga NU masih tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam bidang keagamaan, seperti mengadakan tabligh, pengajian di masjid-masjid dan mendidik anak di madrasah dan pondok-pondok pesantren. 


Semua kegiatan tetap berjalan dan diikuti oleh masyarakat, meski  bahaya mengintai dari penjajahan Dai Nippon. 


Sadar jumlahnya sedikit di Indonesia, tentara Jepang mencari dukungan dari rakyat Indonesia dengan mengeluarkan semboyan-semboyan seperti :


militer Jepang hanya bersifat sementara,


militer Jepang akan memperbaiki nasib rakyat,


Jepang saudara tua bangsa Indonesia, dll.

Load More