/
Jum'at, 19 Mei 2023 | 23:55 WIB
Suasana Puhua Festival 2023 yang mengkreasikan limbah plastik sebagai bahan dekorasi panggung hasil inspirasi konser Coldplay, Jumat 19 Mei 2023. (Dokumentasi Puhua School)

PURWOKERTO.SUARA.COM, BANYUMAS - Sekolah Tiga Bahasa Putera Harapan atau Puhua School menggelar Festival bertajuk "Puhua Festival 2023 Constellation of Dreams: Our Dreams Our Future", Jumat 19 Mei 2023. Festival seni ini menarik karena terinspirasi dari konser Coldplay di berbagai belahan dunia yang mengangkat isu kelestarian lingkungan.

“Jika konser Coldplay di seluruh dunia selalu menyerukan pengurangan gas carbon untuk seluruh pengunjung konsernya, maka di dalam Puhua Festival 2023 seluruh warga sekolah menginspirasikan penggunaan limbah sekolah untuk dapat dimanfaatkan oleh seluruh siswa agar memiliki kepedulian pada lingkungan dimana menjadi tempat kita hidup dan membangun mimpi,” kata Arinta Dewi, penanggungjawab festival. 

Ada lebih dari 2 ribu botol plastik yang diolah ulang puluhan siswa-siswi Puhua dan guru menjadi bahan untuk dekorasi panggung.

Botol-botol bekas itu dibelah dua, dibakar ujungnya agar mekar dan dibuat kuntum pohon. Satu kuntum  membutuhkan sekitar tiga buah botol bekas. 

Tak hanya botolnya yang diolah ulang, tutup botol juga ikut dikaryakan. Dari tutup botol siswa melakukan teknik tempel sebanyak tujuh biji untuk jadi sebuah kelopak bunga satu dimensi. 

Seluruh susunan tersebut dipakai untuk membangun pohon dan hiasan di sepanjang koridor sekolah agar seluruh tamu menyusuri lorong yang sudah disulap menjadi galeri berbahan barang dan botol bekas. 

Pada festival ini, para guru antara lain Teguh Sugeng Apriawan dan Indhira Ayu Pertiwi mendampingi siswa. Siswa juga diajak memanfaatkan barang di gudang penyimpanan yang berisi tumpukan barang bekas yang tidak terpakai di sekolah. 

Mulai dari papan tulis rusak, triplek dan kayu bekas tak terpakai, kardus bekas, sisa plastik laundri, tongkat kayu pramuka yang patah, hingga potongan pipa bekas. Seluruhnya dipilah, dibersihkan, kemudian dirancang ulang menjadi properti pementasan drama hingga dekorasi seluruh acara ini.  

Siswa dan guru bahu-membahu membangun backdrop dari papan sisa yang ditata ulang kemudian ditutupi kain perca yang dijahit-sambung untuk merangkai aneka hiasan dekor di galeri tersebut. 

Baca Juga: Viral Video Syur Disebut-sebut Karyawati Korban Staycation, Netizen Cari Linknya

Lalu papan tulis yang sudah rusak digosok sampai bersih dan ditutupi banner untuk disulap menjadi 
“Manifestation Dream Board”. Seluruh pengunjung yang hadir diajak menuliskan mimpi mereka di papan ini dan menjadi doa bersama untuk diwujudkan dengan semangat Our Dreams Our Future sesuai tema acara ini.

Tak cukup sampai di sana, seluruh perangkat dekorasi pementasan drama siswa juga dirancang dari barang bekas yang memanfaatkan barang-barang tak terpakai di gudang sekolah. Mulai dari tongkat, pipa, dan papan bekas dijadikan pondasi dekorasi pentas di panggung. 

Pot bekas dipakai untuk menata pohon-pohon yang dirangkai dari botol plastik. Dekorasi plastik sisa laundri menjadi deretan rumbai-rumbai yang digantung. Siswa juga mendesain kostum drama dari kardus bekas yang dirancang dengan teliti agar bisa dimanfaatkan. 

Mengenai kostum daur ulang ini, bahkan siswa memajang karya siswa Secondary dari tumpukan plastik bekas termasuk bekas jas hujan. Kombinasi bahan-bahan ini dirangkai menjadi kostum yang unik, misalnya saja gaun dan jubah layaknya karya adibusana. 

“Padahal itu semua terbuat dari plastik sisa yang dijahit, sambung-tempel, hingga teknik ikat,” tutur Ketua Osis Secondary, Nathania Cherilyn Sanjaya (16) yang biasa disapa Selin.

Ide pemanfaatan limbah ini berasal dari kesadaran siswa untuk menyerukan pengelolaan limbah yang menggunung setiap hari. Ide mengumpulkan sampah sekolah berbasis plastik diawali dari pengumpulan botol-botol kemasan bekas yang dilakukan serempak oleh guru, siswa dan karyawan sekolah.

Di acara ini, sebuah pertunjukan seni meliputi budaya, musik, dan drama disulap dalam satu misi berbasis gerakan bersama di sekolah untuk meminimalisir sampah dan barang bekas yang tak terpakai. Karena itulah sejak tiga bulan lalu siswa Puhua bersama seluruh rekan-rekannya menggerakkan satu sekolah mengumpulkan puluhan botol bekas hingga mencapai ribuan. 

Di setiap kelas, kantin, ruang guru, ruang karyawan, dan setiap pusat keramaian yang ada di sekolah dikumpulkan dalam sebuah dus besar lengkap dengan tulisan seruan pengumpulan botol plastik. 

Selin bersama seluruh rekannya menaruh kardus bekas berukuran besar lengkap dengan panduan agar semua warga sekolah membuang botol plastik bekas pakai yang sudah dibersihkan dan dikeringkan ke dalam dus tersebut. 

Tujuan gerakan pengumpulan botol bekas ini juga ditulis jelas sebagai bentuk partisipasi seluruh siswa untuk membangun galeri dan dekorasi di acara tahunan Puhua Fest 2023. 
    
Setiap hari selama tiga bulan seluruh tim OSIS Secondary (SMA) memilah dan membagi dua bagian antara tutup dan botolnya. Hingga menjelang dua minggu sebelum acara festival berlangsung, seluruh botol terus terkumpul hingga mencapai 2 ribu lebih untuk siap diolah jadi beragam dekorasi galeri dan panggung. 

Bergerak Ajak Siswa Atasi Masalah Lingkungan

Berani membangun mimpi menjadi kunci siswa-siswi Sekolah Tiga Bahasa Putera Harapan atau Puhua School mampu menembus batas minat dan bakatnya di berbagai bidang. Salah satunya melalui Puhua Fest 2023. Kegiatan yang diselenggarakan satu tahun sekali di Puhua Secondary School ini tak sekedar luapan ajang ingar-bingar belaka. 

Setiap siswa terlibat secara aktif di dalam pola roda organisasi yang lekat dengan pembelajaran sebagai kunci kemajuan tiap individu. Mulai dari mencari ide bersama, belajar berdialektika dalam kelompok, hingga mencari kata sepakat atas sebuah konsep yang logis. Tahap demi tahap dilalui sebagai proses pendewasaan dalam kemajemukan pikiran, ide, rasa, hingga selera. 

Melalui festival yang sarat ide ini, siswa siswi Puhua juga ditantang mampu mencari dana kegiatan melalui berbagai pola kreativitas di antaranya membuat makanan layak jual (enterpreunership), menjadi kurir pesan dan hadiah (hospitality), hingga mengikuti berbagai bazar (festival hoppers) dan gigih mencari dukungan (sponsorship) bagi suksesnya kegiatan ini. 

Melawan keterbatasan, keluar dari zona nyaman, hingga siswa menemukan bakat dan kemampuan tersembunyi adalah cara sekolah memantik setiap kehebatan siswa dari nol hingga menjadi sebuah karya yang terimplementasi nyata. 

Pendek kata, setiap siswa jadi berani membangun mimpi, lalu mencari ide dan caranya, gigih memperjuangkan tantangan demi tantangan, dan mengeksekusinya hingga terwujud. 

Di sini serangkaian ide pementasan drama yang skenarionya dilombakan, ditulis siswa sendiri lalu dipilih yang terbaik dalam puncak acara akan menjadi suguhan pamungkas sebuah drama kolosal. Tata gerak, dekorasi, dialog, kostum hingga alur dan efek panggung akan menjadi bukti betapa hebatnya sebuah kerjasama tim mewujudkan karya besar.  

Dan yang tak kalah hebat, siswa Secondary di bawah bimbingan Pak Sugiryo dan Ibu Lidya Yulinda Mekar Sartika ini akan meluncurkan buku antologi yang berisi cerita fiksi, artikel lepas, hingga pentigraf atau beken disebut cerpen tiga paragraf yang secara perdana diterbitkan oleh Puhua Secondary School dari Literacy Club di Puhua Activity Village. Kedua judul buku tersebut adalah All About Dreams yang ditulis 43 siswa dan buku berjudul Look- Dengar yang ditulis sembilan siswa.

Ketiga acara pamungkas dalam festival ini turut diramaikan dengan kehadiran bintang tamu Essa X The Juno, bazaar makanan, dan terbuka bagi sekolah lain untuk hadir menyaksikan seluruh kehebatan karya yang secara sungguh-sungguh digarap agar membawa inspirasi dan dampak positif bagi generasi muda.***
    

Load More