PURWOKERTO.SUARA.COM, BANJARNEGARA- Sunat atau khitan merupakan bagian dari tuntunan agama. Di lingkungan masyarakat, khususnya Jawa, prosesi itu biasa diiringi dengan acara selamatan/tasyakuran mirip seperti acara hajatan di acara pernikahan.
Pemilik hajat juga menyebar undangan ke kerabat atau warga yang dikenal untuk menghadiri acara itu.
Pemilik hajat memasang tenda lengkap dengan isinya untuk menjamu tamu undangan.
Terkadang diiringi dengan acara hiburan atau pengajian untuk suguhan tamu undangan.
Warga atau tamu undangan berbondong-bondong ke pemilik hajat dengan membawa bahan pokok atau amplop berisi uang (sumbangan).
Tamu yang datang disuguhi berbagai menu makanan yang telah disiapkan sebelum pulang.
Di Kabupaten Banjarnegara, tradisi itu pun ada. Uniknya, tradisi khitan di daerah ini, atau dikenal dengan istilah Sepit agak berbeda.
Siang itu, Arjuna, anak Desa Pucungbedug Kecamatan Purwanegara Kabupaten Banjarnegara bersiap menuju tempat khitan.
Anak itu jauh hari sudah menyiapkan mental untuk menjalani praktik sunat di dokter atau tukang sunat.
Baca Juga: Berjarak 23 Km dari Malang Town Square, Wisata Ini Sajikan Mata Air Jernih, Penghilang Stres
Namun ia tak berangkat sendiri bersama orang tuanya. Ia mengundang teman-teman lelakinya, baik tetangga, kerabat hingga teman sekolah untuk ikut serta.
Berangkat lah Arjun bersama teman-temannya menumpang dua bus mikro menuju klinik sunat di Sigaluh Banjarnegara.
Orang tuanya sengaja menyewa dua bus untuk anak-anak yang ingin menemaninya menjalani proses khitan.
Dengan ditemani banyak teman sepermainannya, Arjun tampak lebih percaya diri menjalani proses khitan yang konon menyakitkan.
Sepulang dari tempat khitan, layaknya tamu undangan, anak-anak itu pun disuguhi aneka makanan di tempat hajatan.
Serta pulang membawa berkat (oleh-oleh) yang disiapkan pemilik hajat.
Tidak sampai di situ, sebelumnya, anak-anak itu juga menjalani ritual ziarah kubur. Uniknya, prosesi ziarah kubur itu bukan diikuti oleh para orang tua.
Melainkan anak-anak yang tak lain merupakan teman sepermainan dan sekolah Arjun. Hanya beberapa orang tua yang ikut termasuk pemimpin proses doa.
Mereka pergi ke makam menumpang pick up dengan wajah penuh ceria. Anak-anak itu ikut berdoa atau tahlilan di makam leluhur.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
5 Tablet Rp2 Jutaan yang Support Keyboard Bluetooth, Cocok Buat Ngerjain Tugas
-
Gaya Kepelatihan Berkelas Eropa! Alasan Mengejutkan John Herdman Nonton Timnas dari Tribun Penonton
-
Musda Golkar Sumsel Dibuka Ketum Bahlil, Perebutan Kursi Ketua Mengarah ke Andie DInialdie?
-
8 Tips Memilih Mobil Bekas yang Kondisi Mesin Masih Bagus, Jangan Asal Tergiur Murah
-
Win Metawin Cerita Momen Nonton Piala Dunia di Fan Meeting Jakarta, Kini Ingin Bawa Keluarga ke Bali
-
Kemenpar Buka Suara soal Polemik Foto Baju Kurung di Situs Indonesia.travel
-
YouTube Ditegur Kemkomdigi: Promosi Rokok Elektronik di Live Streaming Merupakan Pelanggaran Serius
-
Bonceng Tiga dan Bawa Celurit, Tiga Pemuda Diduga Jambret Diciduk Polisi
-
Tumbuh Tanpa Kehilangan Akar: Desa Kemiren dan Jalan Panjang Merawat Budaya Osing
-
AMORA Special Offer dari BRI, Nasabah Bisa Raih Reward Tunai hingga 12 Persen