Ranah.co.id - Kasus pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, hingga kini masih menjadi sorotan.
Baru-baru ini muncul fakta yang menyinggung soal gaji dari Ferdy Sambo. Hal ini terkuak lewat pengakuan salah satu pengacara Brigadir J, Martin Simanjuntak.
Lewat program 'Satu Meja Kompas TV' dalam kanal YouTube KompasTV Aceh, pada Jumat (25/11/2022), Martin mengungkapkan bahwa sosok Ferdy Sambo merupakan seorang yang "kaya".
"Kita tahu seberapa kaya orang ini (Ferdy Sambo), kaya dalam tanda petik, karena menurut saya kekayaannya itu perlu diteliti apakah legal atau ilegal," ungkap Martin.
Lantas Martin mencontohkan bagaimana kayanya sosok Ferdy Sambo. Diketahui, Sambo memberikan biaya dapur untuk ketiga ajudannya, masing-masing sebesar Rp200 juta. Maka jika ditotal, pengeluarannya mencapai Rp600 juta.
Martin melanjutkan, hal ini jelas tidak sebanding dengan pendapatan Sambo saat masih menjabat sebagai Kadiv Propam Polri, yang diketahui 'hanya' sekitar Rp35 juta.
"Sedangkan ia punya pendapatan yang kita tahu hanya Rp35 juta, jadi dari segi resources kekayaan saya yakin beliau ini memiliki uang yang cukup banyak," ujar Martin, dikutip dari suara.com, Selasa (29/11/2022).
Martin mengaku dengan kondisi keuangan Ferdy Sambo tersebut, dikhawatirkan berpotensi menganggu proses persidangan kasus pembunuhan Brigadir J.
Kekhawatiran lainnya turut disampaikan Martin lewat tayangan tersebut. Dirinya mengaku khawatir adanya pengaruh kekuasaan. Hal ini diyakini Martin, sebab meski jabatan Kadiv Propam telah dicabut dari Ferdy Sambo, bukan berarti jaringan atau networking ikut menghilang.
Baca Juga: Jokowi Berpesan Hindari Benturan dan Tidak Melakukan Adu Domba Selama Tahun Politik
"Saya yakin sampai saat ini yang bersangkutan masih memiliki kuncian... Manakala yang bersangkutan saat masih bekerja memiliki kartu-kartu truf tertentu yang mungkin saja dicatat dalam buku hitam yang sering dibawa oleh terdakwa Ferdy Sambo," lanjutnya.
Martin juga mengatakan, bahwa uang dan networking memungkinkan seseorang atau suatu kelompok untuk mendapatkan privilege dalam sistem hukum.
"Kalau dibilang pasti, memang tidak ada ketidakpastian di dunia ini. Yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian," pungkasnya. (Syifa Aisyah Putri/Mg3)
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
-
KPK Amankan Uang Ratusan Juta Rupiah Saat OTT di Depok
-
KPK Gelar OTT Mendadak di Depok, Siapa yang Terjaring Kali Ini?
-
Persib Resmi Rekrut Striker Madrid Sergio Castel, Cuma Dikasih Kontrak Pendek
Terkini
-
Gempa M 6,4 Guncang Pesisir Selatan Jawa, Pacitan hingga Surabaya, Ini Penjelasan BMKG
-
Marcos Reina Targetkan Sapu Bersih Poin Kandang Persik Kediri Demi Meroket ke Papan Atas Klasemen
-
Carlos Pena Ingatkan Persita Waspada Misi Bangkit Semen Padang demi Keluar dari Zona Degradasi
-
Menkeu Purbaya Apresiasi Inovasi UMKM Sawit Binaan BPDP di Magelang
-
Dituduh Persulit Bertemu Anak, Virgoun Balas dengan Foto Ini Bikin Inara Rusli Tak Berkutik
-
Persis Solo Siap Tempur Lawan PSIM Yogyakarta, Milomir Seslija Optimis Keluar dari Zona Merah
-
Menikmati Bali Lewat Seni yang Bicara tentang Semesta dan Jiwa
-
Kalimat Kebaikan Ayah dan Visi Duniaku
-
Menyelami Buku Empat Arketipe: Warisan Psikis Manusia Menurut Carl Gustav Jung
-
Tanpa Ramon Tanque, Bojan Hodak Tetap Optimis Persib Bandung Bisa Bungkam Malut United di Bandung