Rangking tidak hanya sebagai tempat penyimpanan gabah, tapi juga berfungsi sebagai cadangan makanan ketika suatu hari terjadi bencana atau pun masa panceklik.
Berangkat dari pengalaman dan kesadaran akan pentingnya cadangan untuk
logistik, maka Nurlis mengelola lahan sekitar 500 meter persegi yang ada
di halaman rumahnya.
"Di sini tanahnya cukup gembur dan subur," kata Nurlis.
Menurutnya, tanah gembur dan subur memang sudah disediakan oleh Yang Maha Kuasa untuk umat manusia. Sebab itu, hal utama yang harus dilakukan adalah memanfaatkannya.
"Dulu, sebelum gempa 2009, halaman ini terlantar dan dibiarkan saja. Kekurangan bahan makanan setelah gempa membuat kami harus menunggu bantuan mi instan dari para relawan yang datang," jelasnya.
Kini, dari halaman tersebut Nurlis merasakan manfaat yang cukup bagi kepentingan rumah tangganya. Dari hasil panen tanaman yang ada, dia bisa
ikut arisan yang mesti membayar Rp 400 ribu tiap bulan.
“Dulu, sebelum halaman ini diolah, mana mungkin saya ikut arisan bulanan,"
paparnya sambil tersenyum.
Tersedianya sumber bahan pokok di pekarangan, Nurlis hanya perlu membeli lauk dan garam ke pasar. Sisanya hanya dipetik dari kebun sendiri.
Halaman rumah Nurlis yang tertata rapi juga menarik minat tetangga untuk
ikut menikmati hasilnya. "Kadang ada juga tetangga yang membeli hasil
dari halaman ini, tapi ada juga yang sekedar minta. Saya tidak keberatan,
justru memacu saya untuk tetap bersemangat," lanjutnya lagi.
Baca Juga: Beri Bantuan untuk Korban Gempa Cianjur, Nathalie Holscher Malah Diejek Netizen
Selain bisa menabung melalui arisan, Nurlis juga kerap terlibat dalam
kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan. "Sekarang saya lebih mengerti
mengapa kita harus bekerja bersama dan saling membantu. Semua itu
mendekatkan hubungan saya sesama anggota masyarakat dan memperkuat iman," katanya.
Awal mula Nurlis mulai memanfaatkan halamannya dengan menanami tanaman pangan, dimulai sejak terlibat dalam sekolah lapangan lumbung pangan hidup yang merupakan bagian dari kegiatan lembaga FIELD-Bumi Ceria.
"FIELD-Bumi Ceria mengajak kami untuk berpikir lebih kritis. Sekolah
lapangan membantu saya untuk memahami bagaimana memanfaatkan lahan yang selama ini menganggur," katanya.
Selama lebih dari setahun terakhir, Nurlis terlibat aktif dalam sekolah
lapangan FIELD-Bumi Ceria. Bersama peserta sekolah lapangan, pemandu
lokal dan staff FIELD-Bumi Ceria, Nurlis mempelajari berbagai aspek
terkait dengan kebencanaan, kerentanan, kapasitas masyarakat, agro-ekosistim, kesuburan tanah, perubahan iklim serta materi-materi
lainnya.
Gempa yang selalu mengintai Nusantara, tentu saja apa yang dilakukan Nurlis masih relevan jika bicara ketangguhan bencana dari diri sendiri dan berbasis keluarga atau komunitas masyarakat.
Meski peta kegempaan sudah ada, kita, bahkan para ahli sekalipun tidak bisa memastikan kapan dan dimana akan terjadi gempa. Yang bisa dilakukan hanya kesiagaan; bukan saja dari sisi bangunan yang aman gempa, tapi ketahanan pangan sebagai wujud ketangguhan bencana.
* Penulis merupakan Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas (UNAND) dan Pegiat Lingkungan
Berita Terkait
-
Pasca Gempa Cianjur, Ridwan Kamil: Seluruh Rumah yang Rusak Akan Dibangun dengan Konstruksi Antigempa
-
Cerita Diki Mutakin Anggota Tim SAR yang Selamatkan Azka: Ya Itu Mukjizat Allah
-
Akibat Gempa Cianjur, Lin Pasrah Dua Anaknya Sempat Terjebak di Reruntuhan Rumah
-
Update Korban Meninggal Akibat Gempa Cianjur Capai 62 Jiwa, 434 Rumah Rusak
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Suami Adhisty Zara Kerja Apa? Ini Jejak Karier Tsaqib
-
Haru di Debarkasi Surabaya: Saat Kloter Pertama Jemaah Haji Pulang Tanpa Antre
-
Kebakaran Kebon Kosong Kemayoran: 250 Rumah Hangus, Ratusan Warga Kini Mengungsi di Tenda Darurat
-
Prakiraan Cuaca Hari Ini: Semarang Diprediksi Dikepung Awan Tebal
-
Daftar HP Samsung Ini Terancam Tidak Kebagian One UI 8.5, Galaxy S22 hingga Z Fold 4 Masuk?
-
Trump Umumkan Perdamaian, Netanyahu Justru Ancam Serang Lebanon Lebih Kejam
-
Misteri Kerangka Tanpa Nama di Hutan Mantingan: Tergolek Setahun, IdentitasBelum Terungkap
-
5 Anggota SEVENTEEN Umumkan Jadwal Wamil, OT13 Ditargetkan Kembali 2028
-
IHSG Hari Ini Rawan Koreksi, Analis Beri Rekomendasi Saham: Jangan Asal Serok!
-
Kenapa Sepatu dan Sandal Merek Melissa Mahal? Ini 4 Alasannya