Ranah.co.id - Gempa yang meluluhlantakan Cianjur, Jawa Barat, menyisakan cerita miris. Penyintas gempa hadang kendaraan relawan yang membawa bantuan logistik (https://s.id/1qD5E).
Penghadangan ini bisa ditafsirkan bahwa penyintas gempa merasa kebutuhan logistic sudah sangat mendesak, atau dengan kata lain sudah krisis pangan.
Gempa dengan magnitudo merusak, kemudian hari memicu nestapa bagi penyintas. Sebab, segala logistic di dalam rumah tentu saja ikut rusak jika rumah rusak berat. Atau bisa saja tak ada stok logistic ketika gempa terjadi secara tiba-tiba.
Menurut hemat penulis, cara-cara lama yang diterapkan leluhur dan sebetulnya di kampung-kampung masih mudah dijumpai, yakni mengisi pekarangan dengan beragam tanaman yang bisa dimakan, sudah sepatutnya kembali dibiasakan, baik dalam ekosistem di perkampungan maupun perkotaan.
Penulis ingat pengalaman kejadian gempa 2009 di Sumatra Barat, sejumlah penyintas dengan usia tua, ingat kembali kearifan lokal soal konsep lumbung pangan (rangking), dengan aplikasinya, pekarangan diisi dengan tanaman yang bisa dimakan.
Nurlis namanya. Usianya saat itu 60 tahun. Selang beberapa pekan setelah gempa, tangannya tetap lincah memetik buah terung yang telah memasuki masa panen di halaman rumahnya di Korong Kampuang Pili, Kanagarian Kudu Gantiang, Kecamatan V Koto Timur, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat.
Nurlis menanam kebutuhan pokok di pekarangan seperti cabe rawit, tebu, ubi, dan tanaman sayur. Semuanya merupakan tanaman untuk keperluan sehari-hari dan konsumsi sendiri.
Defenisi pekarangan rumah adalah sebidang tanah di sekitar rumah, baik itu berada di depan, di samping, maupun di belakang rumah. Pemanfaatan pekarangan rumah sangat penting, karena manfaat yang dapat diambil sangat banyak. Pemanfaatan pekarangan yang baik dapat mendatangkan berbagai manfaat antara lain yaitu sebagai warung, apotek ,lumbung hidup dan bank hidup (Ashari dkk 2012. Lihat juga Eso Solihin, dkk, 2018).
Disebut lumbung hidup karena sewaktu-waktu kebutuhan pangan pokok seperti jagung, umbi-umbian dan sebagainya tersedia di pekarangan. Selain pekarangan difungsikan untuk pemenuhan bahan pangan (Arifin dkk. 2007), pekarangan untuk konservasi keanekaragaman hayati pertanian dapat juga mendukung agroekologi dan pertanian yang keberlanjutan (Marshall dan Moonen 2002).
Baca Juga: Beri Bantuan untuk Korban Gempa Cianjur, Nathalie Holscher Malah Diejek Netizen
Nurlis merupakan salah seorang penyaksi betapa dasyatnya gempa 30
September 2009. Rumahnya bertipe semi permanen terhindar dari amukan
gempa.
Namun, gempa 2009 memberinya pengalaman dan kemudian menimbulkan
penyadaran atas situasi yang berlangsung. Saat itu, menurutnya, warga di
kampungnya tak hanya dirundung duka karena salah satu anggota keluarga
menjadi korban atau rumah hancur, tapi juga persoalan keberlangsungan
hidup.
Kebanyakan masyarakat korban gempa mengalami krisis pangan. Di sisi lain,
pemerintah ataupun lembaga swadaya masyarakat hanya bisa memberi bantuan stimulus dalam waktu yang relatif singkat.
Meski banyak masyarakat lain yang punya kepedulian untuk memberi bantuan logistik, namun juga hanya pada saat emergency.
Akibatnya, masyarakat korban gempa terkadang harus meminta sumbangan
di jalan. Kalau tidak, mereka mengkonsumsi makanan apa adanya yang notabene tidak memenuhi kriteria asupan gizi.
Nurlis melihat hal tersebut sebagai bentuk kelupaan masyarakat terhadap
kearifan yang sebetulnya telah ada. Dahulunya, masyarakat Minangkabau
mengenal rangking sebagai lumbung pangan.
Berita Terkait
-
Pasca Gempa Cianjur, Ridwan Kamil: Seluruh Rumah yang Rusak Akan Dibangun dengan Konstruksi Antigempa
-
Cerita Diki Mutakin Anggota Tim SAR yang Selamatkan Azka: Ya Itu Mukjizat Allah
-
Akibat Gempa Cianjur, Lin Pasrah Dua Anaknya Sempat Terjebak di Reruntuhan Rumah
-
Update Korban Meninggal Akibat Gempa Cianjur Capai 62 Jiwa, 434 Rumah Rusak
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
Terkini
-
Transformasi Gerai Donat: Menu Makin Variatif dan Punya Teknologi Self-Ordering
-
ILUNI UI Soroti Risiko Hukum di Balik Transformasi BUMN: Era Baru, Tantangan Baru
-
Belanja Hemat April 2026: 17 Produk Indomaret Diskon Besar, Ada yang di Bawah Rp10 Ribu
-
Dari Elit BUMN ke Viral di Tikungan Maut, Siapa 3 Komisaris Pusri? Ada Arteria Dahlan
-
Laga Hidup Mati di GOR Jatidiri: Siapa yang Akan Melaju ke Puncak Proliga 2026?
-
Bogor Diguyur Hujan Lebat, Bendung Katulampa Masih Aman di Level Siaga 4
-
Sebut Uang yang Disita Tabungan Arisan Istri, Ono Surono Buka Suara Soal Kasus Suap Bekasi
-
H-7 Keberangkatan, Pemerintah: Persiapan Haji 2026 Hampir Rampung 100 Persen
-
Dari Layar Kaca ke Lapangan: Ambisi Eberechi Eze Wujudkan Mimpi Liga Champions di Arsenal
-
Kasus Pelecehan Seksual FH UI: Bukti Dunia Pendidikan Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja?