Selebtek.suara.com - Terbongkarnya kebohongan skenario yang disusun Ferdy Sambo dalam kasus pembunuhan Brigadir J menyeret puluhan anggota kepolisian untuk diperiksa.
Sebelumnya, Kapolri menonaktifkan sejumlah 16 polisi terkait penyelidikan kasus penembakan Brigadir J, di rumah dinas Kadiv Propam yang kala itu dijabat Irjen Pol Ferdy Sambo.
Jumlah tersebut berubah menjadi 31 orang anggota Polisi yang dinonaktifkan, tak lama setelah Kapolri mengumumkan Irjen Pol Ferdy Sambo, sebagai dalang dibalik penembakan dan pembunuhan berencana Brigadir J.
Jumlah tersebut bertambah, Kadiv Humas Polri, Irjen Dedi Prasetyo mencatat terdapat total sementara 35 anggota Polri yang diduga tidak profesional mengusut kasus pembunuhan Brigadir J.
"Iya betul, informasi dari Irsus demikian (35 melanggar kode etik)," ujar Dedi saat dikonfirmasi wartawan, Senin (15/8/2022).
Dedi menjelaskan jumlah tersebut usai penambahan lima penyidik Polda Metro Jaya yang dianggap melanggar. Sehingga, lanjut Dedi, puluhan anggota tersebut diduga kuat ikut andil dalam menghilangkan bukti CCTV.
Dia menambahkan sedangkan untuk yang berstatus terperiksa jumlahnya mencapai 63 anggota. Mereka diduga terlibat di rangkaian pembunuhan berencana terhadap Brigadir J.
"Total sementara terperiksa 63 orang," kata Dedi. Menurut Dedi, dalam kasus ini 16 anggota Polri ditempatkan di tempat khusus. 10 di antaranya di Provos dan sisanya di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok.
Banyak Perwira Polisi yang Sakit Hati Dibohongi Ferdy Sambo
Baca Juga: Densus 88 Tangkap Dua Teroris Kelompok Anshor Daulah
Mantan komisioner Kompolnas, yang juga jurnalis senior, Karni Ilyas sempat menceritakan bahwa beberapa dari polisi yang dinonaktifkan merasa tertipu oleh skenario yang dibuat Ferdy Sambo.
“Saya mendengar dari 31 Polisi yang sekarang terkena masalah ini, yang perwira menengah sampai ada juga yang jenderal, itu mereka merasa dibohongi oleh Jenderal Sambo. Bahkan ada yang WA ke saya mengatakan bahwa dia galau, marah, sakit hati, karena dia itu percaya tapi ternyata dibohongi,” kata Karni Ilyas saat memandu acara ILC belum lama ini.
Keterangan Karni Ilyas dikuatkan oleh Menkopolhukam, Mahfud MD yang membeberkan fakta bahwa memang Ferdy Sambo melakukan pengkondisian psikologis untuk mendukung kebohongannya.
“Memang karena dibohongi itu kan karena ada skenario drama melankolis,” kata Mahfud MD, dikutip Selebtek dari kanal YouTube Indonesia Lawyers Club.
Mahfud MD pun menduga bahwa apa yang dilakukan Ferdy Sambo adalah untuk menciptakan situasi psikologis yang mendukung skenario bohongnya.
“Sehingga diciptakan pra kondisi seakan-akan percaya kondisional itu, nangis dia, saya tanya ke wakil Kompolnas, ya memang begitu, lalu memanggil orang-orang lain lagi ada sekitar 5 orang lain lagi, dia menangis dengan cara yang sama, sehingga orang percaya,” kata Mahfud MD.
Mahfud juga menyebut kalau Ferdy Sambo mengatakan hal yang sama dan menangis dengan cara yang sama kepada orang-orang yang ditemuinya.
“Saya sudah cek ke orang-orang yang dipanggil ini, ya kalimatnya sama cuma mondar-mandir di meja ‘saya sudah dizalimi, istri saya dilecehkan, kalo ada saya disitu sudah saya tembak sampai mati lebih parah,” kata Mahfud MD menirukan ucapan kalimat Irjen Ferdy Sambo.(*)
Berita Terkait
-
Fakta Baru Kasus Pembunuhan Brigadir J Terungkap: Ferdy Sambo Diduga Menembak 2 Kali hingga Bisnis Judi Online 303
-
Timsus Polri Diminta Hati-hati Tetapkan Tersangka Baru Kasus Pembunuhan Brigadir J, Kenapa?
-
Akan Cecar Kapolri Soal Skenario Ferdy Sambo Bunuh Brigadir J, Puan Berikan Lampu Hijau kepada Komisi III
-
Waduh! Perwira Tinggi Polri Ini Minta Kamaruddin Simanjuntak Tidak Banyak Ngoceh
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan
-
Terungkap Penyebab Kematian Dokter PPDS di RSUD Tengku Rafian Siak
-
Profil Direktur PO ALS yang Jadi Tersangka Kasus Kecelakaan Bus Tewaskan 19 Orang
-
Pertamina Marine Solutions Resmi Jalin Kerjasama dengan Perusahaan China, Ini Rinciannya