/
Minggu, 02 Oktober 2022 | 16:50 WIB
Arema FC (google)

Selebtek.suara.com – Aksi kericuhan di Kanjuruhan yang terjadi pada Minggu (1/10) menyebabkan luka mendalam bagi para suporter, korban hingga keluarga yang ditinggalkan. Sekitar 130 orang meninggal, banyak pula korban yang mengalami luka luka.

Korban akibat kerusuhan ini berasal dari aparat, penonton laki-laki, perempuan hingga anak-anak.

Kejadian berawal dari kekalahan Arema FC atas Persebaya Surabaya dengan skor 2-3. Suporter yang kecewa dengan kekalahan tim kesayangannya, memaksa masuk ke dalam lapangan untuk melaksanakan aksi protes.

Namun aksi protes akhirnya diikuti oleh banyak suporter hingga petugas kewalahan dan akhirnya menembakkan gas air mata. Penonton yang sesak segera menyelamatkan diri dan mencari pintu-pintu keluar.

Sayangnya, pintu yang disediakan telah ramai dan penuh sesak oleh penonton-penonton yang memaksa keluar. Akhirnya banyak dari penonton yang kesulitan bernafas dan tidak berdaya.

Kejadian mencekam bukan hanya terjadi di dalam stadion, namun juga di luar Stadion Kanjuruhan. Banyak benda-benda keras yang dilemparkan.

Akibat kejadian ini, PSSI akhirnya memberi sanksi bagi Arema FC berupa larangan menjadi tuan rumah hingga musim 1 berakhir.

"Untuk sementara kompetisi Liga 1 2022/2023 kami hentikan selama satu pekan. Selain itu Arema FC dilarang menjadi tuan rumah selama sisa kompetisi musim ini," kata Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan.

Kajadian ini diisukan sebagai tragedi sepak bola paling buruk setelah Peru pada tahun 1964 lalu yang memakan hingga 300 nyawa.(*)

Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan: Kick-off Malam Hari Arema vs Persebaya Disorot, PSSI Sebut Semua Pihak Setuju

Load More