Selebtek.suara.com - Gita Savitri merupakan seorang influencer, Blogger dan Youtuber Indonesia yang kini menetap di Jerman. Ia sempat viral karena pendapatnya yang setuju mengenai childfree atau tidak memiliki anak dari rahim sendiri.
Walaupun sempat dicibir karena pendapatnya ini, ia dan suaminya Paul Partohap tidak terlalu menggubris hal ini. Mereka mengaku sudah memiliki pemikiran matang mengenai keputusan yang telah dipilih.
Beberapa waktu lalu, Gita Savitri atau juga dikenal sebagai Gitasav memberi komentarnya mengenai masalah Lesti Kejora yang mencabut tuntutannya atas Rizky Billar yang melakukan KDRT. Ia menyayangkan pemikiran masyarakat yang masih banyak menyalahkan hingga merasa di prank oleh Lesti.
“Komentar-komentar yang annoying ini ya, membuka mata gua, menjadi wake up call buat gua pribadi bahwa ternyata ada banyak banget masyarakat kita yang masih gak paham sebenenya tentang complexity dan intricacies dari kasus kekerasan dalam rumah tangga atau kekerasan domestik,” kata wanita 30 tahun ini.
Wanita kelahiran Palembang ini menambahkan bahwa ada beberapa faktor yang menjadi penyebab sulitnya seorang wanita keluar dari suatu hubungan yang terbilang abusive atau kasar.
Bentuk kekerasan bukan hanya fisik namun juga mental, emosional, financial dan seksual.
Secara logika, seseorang yang berada di dalam suatu hubungan yang salah akan langsung keluar dari hubungan itu. Namun hal ini ternyata berbeda dengan kenyataan yang sering terjadi.
Ada beberapa alasan seorang wanita mewajarkan atau bahkan tidak menyadari kekerasan yang dilakukan pasangan.
1. Masih berada di fase denial
Seseorang yang sedang berada di dalam toxic relationship terkadang bisa menormalkan hal buruk yang dilakukan pasangannya. Korban bisa saja menganggap kekerasan yang dilakukan pasangannya karena dia sedang merasa lelah atau punya masalah yang sedang dipendam. Bahkan seorang korban bisa saja menyalahkan dirinya sendiri atas kejahatan yang dilakukan pasangannya.
2. Mengalami Gaslighting oleh partner
Gaslighting merupakan manipulasi pelaku terhadap korbannya agar mempertanyakan kembali pemikiran yang ia tegaskan.
Misalkan ketika seorang pria bersifat kasar dengan melempar sesuatu ke arah pasangannya, lalu pasangannya menganggap hal itu adalah bentuk kekerasan. Maka si pelaku akan bertindak seolah hal ini bukan lah kekerasan.
“Aku cuma ngelempar ke samping kamu kok, gak ke kamu,” ucap Gitasav yang memberikan penjelasan.
3. Mengalami beban berlapis
Dalam sebuah rumah tangga, biasanya wanita lah yang memegang peranan penting dalam mengasuh anak. Sedangkan laki-laki yang berkewajiban memberikan nafkah financial hingga menyediakan tempat tempat tinggal.
Dalam kondisi seperti inilah wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga seolah tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya bisa memendam perasaannya. Karena bisa saja korban berpikir jika dia melaporkan kekerasan yang dialami, bagaimana nanti ia dan anak-anaknya akan meneruskan kehidupan.
Beban berlapis ini juga bisa terjadi karena culture masyarakat.
Dalam video yang diunggah di akun youtube nya itu, Gitasav menilai masih banyak masyarakat yang menganggap perceraian adalah sebuah aib. Karena itu lah wanita yang mengalami masalah kekerasan dalam rumah tangga enggan untuk berpisah karena takut dikucilkan oleh masyarakat sekitar.
Ia juga menambahkan bahwa adanya normalisasi hubungan toxic juga menjadi pemicu sulitnya seseorang keluar dari hubungan yang tidak sehat.
Seorang istri yang berada dalam suatu hubungan toxic bisa saja mengurungkan niatnya untuk berpisah karena alasan ini. Dalam kondisi ini korban biasanya dituntut untuk menahan apapun kondisi yang terjadi dalam suatu permasalahan rumah tangga. Terlebih lagi jika sudah memiliki anak.
Anak merupakan alasan terbesar seorang istri untuk tidak berpisah dengan suaminya yang bahkan telah melakukan kekerasan. Banyak seorang ibu yang tidak menginginkan anaknya tumbuh tanpa sosok seorang ayah.
Menurut Gitasav, bisa saja dikemudian hari sang suami masih berlaku kasar terhadap sang istri di depan anaknya. Hal ini bisa menyebabkan si anak trauma dan menganggap tidak adanya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam suatu hubungan rumah tangga.
4. Keluar dari abusive relationship tidak selalu aman
Pada tahun 2018 di Britania Raya ada sekitar 41% perempuan yang dibunuh setelah keluar dari abusive relationship. Kebanyakan mereka dibunuh di tahun pertama mereka memutuskan untuk keluar dari hubungan tersebut.
Jadi Gitasav tidak terlalu setuju jika seorang wanita yang bertahan dalam hubungan yang abusive adalah wanita yang bodoh. Karena bisa jadi posisi mereka sedang dalam bahaya.
5. Trauma Bond
Trauma bond merupakan ikatan emosional antara pasangan walaupun pasangan merupakan seseorang yang kasar.
Jika wanita selalu mengalami penindasan dan makian dari pasangannya selama bertahun-tahun, maka harga diri dan kepercayaan diri wanita akan semakin hilang. Pengurangan harga dan kepercayaan diri inilah yang membuat wanita terus bertahan dalam abusive relationship. Mereka sudah merasa pasrah dan tidak ingin lagi berjuang.
Gitasav juga menambahkan bahwa KDRT merupakan sebuah lingkaran. Awalnya pasangan akan membangun ketegangan seperti lebih mudah untuk marah.
Selanjutnya, pasangan akan mulai melakukan kekerasan dalam berbagai macam bentuk. Setelah melakukan fase ini, pasangan akan mulai meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Dia juga akan melakukan segala macam cara agar korban kembali mempercayainya.
Setelah korban merasa percaya, si pasangan biasanya akan lebih meyakinkan di dalam fase honeymoon. Di fase inilah yang membuat wanita sering sulit untuk keluar dari hubungan mereka yang toxic.
Padahal ini semua hanyalah fase yang sengaja dilakukan agar si wanita kembali percaya kepada pelaku. Selanjutnya, si pria yang sudah di percaya akan cenderung untuk kembali melakukan kekerasan.
Dari semua penjelasan inilah, Gitasav berpendapat bahwa untuk keluar dari suatu hubungan yang toxic itu cukup sulit. Karena itu, dia menyayangkan pendapat sebagian orang yang menganggap di prank oleh Lesti Kejora.
Ia juga menambahkan bahwa korban kita sebaiknya berempati dan menjadi pendengar yang baik bagi korban KDRT.(*)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
-
Gempa M 4,2 Guncang Pacitan Terasa hingga Yogyakarta: 7 Orang Luka dan Sejumlah Bangunan Rusak
-
Hakim PN Depok Tertangkap Tangan Terima Ratusan Juta dari Swasta, KPK Lakukan OTT!
Terkini
-
Tips Puasa Lancar, Ini 5 Makanan Harus Dihindari
-
Tak Masuk Kerja Berhari-hari, PPPK Rumah Sakit Ditemukan Tewas, Polisi: Jasad Mulai Menghitam
-
Kapan Batas Waktu Mengganti Puasa Ramadhan?
-
Viral Konten Tak Pantas Guru SD, Ajak ke KUA hingga Suapi Murid Sendiri
-
Hadiah dari Menantu Pengangguran
-
Tolak Wacana Polri di Bawah Kementerian, Pablo Benua: Rawan Politisasi Anggaran
-
Pemain Keturunan Maluku Cedera Parah, Sinyal Batal Dilirik John Herdman untuk Timnas Indonesia?
-
Emiten Komponen Otomotif RI Bidik Pasar Ekspor Timur Tengah
-
5 Fakta Suami Kades di Pasuruan Jadi Otak Pembobolan Kantor Desa, Residivis Narkoba!
-
Kunci Jawaban Pendidikan Pancasila Kelas IX Uji Kompetensi Halaman 175