/
Sabtu, 21 Mei 2022 | 23:08 WIB
Doc Semarang.suara.com

SUARA SEMARANG - Narasi lirik dari lagu Mendung Tanpo Udan yakni ‘aku moco koran sarungan, kowe blonjo dasteran’ mendapat pertanyaan dari netizen.

Netizen mempertanyakan dibalik sebuah lirik ‘aku moco koran sarungan, kowe blonjo dasteran yang diciptakan oleh Kukuh Prasetya Kudamai.

Ada sebuah pertanyaan dari netizen, yaitu ‘siapa yang kerja ?’ apakah suami atau sang istri yang diceritakan dalam lirik lagu ‘aku moco koran sarungan, kowe blonjo dasteran’.

Kukuh Prasetya Kudamai sang pencipta lagu Mendung Tanpo Udan dengan lirik ‘aku moco koran sarungan, kowe blonjo dasteran’, menjawab pertanyaan netizen tersebut.

Kukuh mengaku jika pada seri pertama dari trilogi Mendung dan Udan, muncul pertanyaan dari netizen. Utamanya pada narasi lirik ‘aku moco koran sarungan, kowe blonjo dasteran’.

Untuk menjawab pertanyaan netizen soal ‘siapa yang kerja’, Kukuh menjelaskan tentang isi lirik dari lagu Mendung Tanpo Udan yang populer dinyanyikan Ndarboy Gank.

Jika durasi lagu yang tentu saja pendek, dan tidak bisa menampilkan seluruh kehidupan sehari-hari apalagi menceritakan siapa yang bekerja. Sama seperti film, sinetron, dan lain-lain.

“Alurnya dimulai dari perkenalan, pengenalan masalah, masuk konflik, klimaks, dan diakhiri penyelesaian,” kata Kukuh, dalam rilisnya Sabtu (21/5/2022).

Bahwa lagu Mendung Tanpo Udan, fokus utamanya pada konflik yang disajikan dan bagaimana penyelesaian konfliknya. Begitu juga dalam Trilogi Mendung-Udan ini.

“Lihat saja sinetron, setiap hari kok konflik? Kapan kerjanya? Lihat juga buku atau film biografi seseorang,” katanya.

Kukuh juga mencontohkan pada karya seni lainnya misal biografi pada orang yang hidup selama 70 tahun, yang diceritakan dalam buku hanya 250 halaman atau 120 menit dalam film.

“Tentu saja yang diambil adalah fragmen-fragmen yang menarik untuk diceritakan. Masih ada alternatif lain, silakan tonton film action. Setiap hari kok gelut, kapan kawine? “ jelasnya.

Namun, ia juga memaklumi muncul pertahya tersebut, bahwa sebagian netizen seperti mengharapkan bayangan umum bahwa setelah menikah, suami harus kerja keluar rumah dan istri di rumah. 

Bayangan ini seolah ingin mengabadikan patriarki dan feodal dalam relasi suami-istri. 

Sementara hari ini, pekerjaan tak lagi melihat gender dan bisa dikerjakan di mana saja, termasuk di rumah. 

“Siapa tahu si istri jualan daster online dan lakinya jualan ikan cupang dari rumah,” candanya.

Ia lantas mengutip prosais Seno Gumira Ajidarma, dengan mengambil pesan jika di era serba modern dan digital, apa saja bisa menjadi uang, yang selanjutnya bisa disebut sebagai hasil pekerjaan.

"Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa" kutipnya dari Seno Gumira Ajidarma.*

Load More