/
Minggu, 11 September 2022 | 07:07 WIB
Ilustrasi Hacker (Pixabay)

SUARASEMARANG - Warganet tengah dihebohkan oleh kemunculan Bjorka, dalam beberapa hari terakhir ini. Hacker yang diduga meretas situs Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo).

Bjorka mengklaim memiliki 1,3 miliar data registrasi SIM Card prabayar Indonesia, yang terdiri atas NIK, nomor telepon serta operator seluler.

Dilansir dari suara.com, atas dugaan kebocoran tersebut, Kominfo mengecam Bjorka karena peretasan yang dilakukannya dinilai menyerang masyarakat secara langsung.

"Kalau bisa jangan menyerang. Tiap kali kebocoran data yang dirugikan ya masyarakat, kan itu perbuatan illegal access,"ujar Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Ditjen Aptika) Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan, dalam konferensi pers pada Senin (5/9/2022).

Nama Bjorka semakin viral setelah ia menanggapi pernyataan tersebut dengan mengirim pesan yang menohok kepada pemerintah Indonesia.

Dalam pesannya tersebut, Bjorka mengatakan untuk berhenti menjadi idiot. “Stop being an idiot” tulis Bjorka dengan huruf kapital berwarna merah.

Aksi Bjorka tak berhenti di situ, ia juga diduga membocorkan data Menkominfo Johnny G Plate serta mengancam membobol data MyPertamina.

Bjorka pun trending di jagat twitter hingga tiga hari berturut-turut. Atas ulah Bjorka, alih-alih geram, warganet malah ramai-ramai memberi dukungan.

Sejumlah warganet juga menanggapi dengan memintanya untuk meretas sejumlah data di instansi-instansi lainnya. Diantaranya untuk meretas dan membocorkan anggaran pemerintah serta data-data pelaku korupsi.

Baca Juga: Little Women dan Big Mouth, Eranya Drama Thriller

“Bjorka, bisakah kamu meretas instansi lainnya, dan menyebarkan informasi tentang para koruptor?,” pinta salah seorang warganet.

“Aku masih menunggu Bjorka membocorkan anggaran pemerintah. Aku (dan mungkin masyarakat Indonesia) sudah jengah dengan kasus-kasus korupsi,”komentar salah seorang warganet.

“Hello Bjorka, bisakah kamu beri tahu siapa dibalik para buzzer ? Mereka sering meretas dan memblokir akun-akun media sosial para aktivis,”komentar warganet lainnya.

Load More