/
Kamis, 20 Oktober 2022 | 14:01 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin. (Suara.com/Ummi Hadyah Saleh)

SUARA SEMARANG - Menurut hasil penelitian terdapat tiga zat berbahaya yang ditemukan pada obat sirup yang digunakan oleh pasien anak yang mengalami gagal ginjal akut, yaitu Etilen Glikol (EG), Dietilen Glikol (DEG), dan Etilen Glikol Butil Eter (EGBE).

Pernyataan di atas dikatakan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam siaran pers Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan di Jakarta, pada hari Kamis (20/10/2022).

Menteri Kesehatan juga menerangkan bahwa EG, DEG, dan EBGE seharusnya tidak ada dalam obat-obatan berbentuk sirup. Jika ada, harus sangat sedikit kadarnya.

Lalu mengapa ketiga zat tersebut bisa ada di dalam obat sirup? Dijelaskan, zat-zat kimia itu bisa muncul bila Polietilen Glikol (PEG), yang batas toleransinya ditentukan, digunakan sebagai bahan tambahan pelarut dalam obat berbentuk sirup.

Dilansir dari Antara, menurut Farmakope Indonesia, EG dan DEG tidak digunakan dalam formulasi obat.

Namun, kedua zat kimia tadi dimungkinkan keberadaannya dalam bentuk kontaminan pada bahan tambahan sediaan sirup dengan nilai toleransi 0,1 persen pada gliserin dan Propilen Glikol, serta nilai toleransi 0,25 persen pada Polietilen Glikol (PEG).

Terkait kasus gagal ginjal akut yang berkembang pesat di Indonesia, diketahui saat ini Kementerian Kesehatan telah melarang sementara penjualan dan penggunaan obat bebas dan atau bebas terbatas dalam bentuk cair atau sirup sebagai upaya menekan faktor risiko gagal ginjal akut.

Selain itu, tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan diinstruksikan untuk menghentikan sementara pemberian resep obat-obatan berbentuk cair atau sirup yang bisa terkontaminasi EG maupun DEG.

"Sambil menunggu BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) memfinalisasi hasil penelitian kuantitatif mereka, Kemenkes mengambil posisi konservatif dengan sementara melarang penggunaan obat-obatan sirup," tutur Menteri Kesehatan.

Baca Juga: Apa Pengganti Obat Sirup untuk Anak? Simak Himbauan Ikatan Dokter Anak di Sini!

"Balita yang teridentifikasi gagal ginjal akut sudah mencapai 70an per bulan, realitasnya pasti lebih banyak dari ini, dengan laju angka kematian mendekati 50 persen," lanjutnya lagi.

Ditegaskan bagi masyarakat yang anaknya memerlukan obat berbentuk sirup yang tidak bisa diganti dengan sediaan obat yang lain seperti obat anti-epilepsi sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis anak.

Load More