/
Rabu, 04 Januari 2023 | 13:09 WIB
naskah teks khutbah Jumat untuk menyambut tahun baru 2023 dengan tema Keutamaan Memberikan Maaf. (Pixabay)

SEMARANG SUARA- Simak berikut ini adalah naskah teks khutbah Jumat untuk menyambut tahun baru 2023 dengan tema Keutamaan Memberikan Maaf.

Naskah teks khutbah Jumat untuk menyambut tahun baru 2023 dengan tema Keutamaan Memberikan Maaf yang ada pada artikel ini hanya sebagai referensi untuk khotib saat menulis teks khutbah Jumat.

Dilansir dari laman suaramuhammadiyah.id berikut ini naskah teks khutbah Jumat untuk menyambut tahun baru 2023 dengan tema Keutamaan Memberikan Maaf.

Khutbah I

. .  
. . .

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah.

Kita sebagai umat Islam sudah sepantasnya memanjatkan syukur kehadirat Allah SwT, Dzat yang memang pantas kita mengucap syukur kepada-Nya. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada baginda Rasulullah Muhammad saw, beliau merupakan suri tauladan bagi kita. Melalui perantara beliau juga, Islam semakin tersebar serta terus bersinar meskipun banyak golongan yang ingin meredupkannya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah.

Tema khutbah pada kesempatan yang mulia ini ialah Keutamaan Memberi Maaf. Allah SwT berfirman:

Baca Juga: Teks Khutbah Jumat, Cocok untuk Renungan Awal Tahun 2023 dengan Judul 'Sebelum Ajal Tiba'

(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan. (QS. Ali Imran: 134).

Merujuk pada ayat di atas, kita selaku orang Muslim dianjurkan untuk mengambil satu dari tiga sikap jika seseorang melakukan kekeliruan terhadap kita, yaitu menahan amarah, memaafkan dan berbuat baik terhadap orang tersebut. Ketiga sikap ini juga menjadi kriteria bagi orang yang mencapai derajat muhsinin.

Jamaah shalat Jum’at rahimakumullah.

Mari! Kita perhatikan ketika ada seseorang yang berbuat salah kepada kita, baik sengaja maupun tidak sengaja. Maka kemungkinan kita akan bereaksi dengan salah satu dari tiga sikap itu. Bisa jadi kita bereaksi dengan menahan amarah, artinya menahan diri tidak membalas atau melontarkan kata-kata yang tidak pantas kepada orang lain. Sanggup menahan marah memah sudah baik tetapi belum cukup tuntas menyelesaikan rasa kecewa. Barangkali kita sanggup menahan marah tetapi hati masih ada ganjalan, masih ada luka yang mengganggu hubungan dengan orang yang berbuat keliru tadi.

Tingkatan yang lebih tinggi dari menahan marah yaitu mampu memaafkan kekeliruan orang yang melukai atau menyakiti kita. Maaf atau memaafkan merupakan kata serapan dari bahasa Arab, yaitu dari kata al-‘afw. Kata al-‘afw pada mulanya bermakna berlebihan, seperti firman-Nya:

Load More