SUARA SEMARANG - PSIS Semarang membenarkan sedang memburu tanda tangan Stefano Lilipaly dan sudah mendapatkan jawaban dari Presiden Borneo FC Nabil Husein.
Stefano Lilipaly menjadi salah satu properti panas dalam bursa transfer jeda musim dan PSIS semarang kepincut dengan gaya main pemain sayap berkewarganegaraan ganda.
Selain karena kemampuannya, PSIS Semarang disebut memiliki keuntungan dengan mendatangkan Stefano Lilipaly karena status kewarganegaraannya tersebut.
Kepastian PSIS Semarang memburu jasa Stefano Lilipaly disampaikan langsung oleh CEO Yoyok Sukawi.
Semula Yoyok Sukawi mengatakan masih menginventarisir dan mengevaluasi semua pemain asing di PSIS Semarang. Hasil evaluasi dari tim kepelatihan, diputuskan mencari dua pemain asing.
Saat ini sudah ada dua pemain asing yang trial di PSIS Semarang, yakni Wellington Petinha dan Ryo Fujii. Akan tetapi, satu diantaranya dipastikan akan dicoret.
"Dari dua orang ini hasil penilaiannya, ada satu pemain asing yang belum memenuhi kriteria kita," terang Yoyok Sukawi.
Untuk itu manajemen akan kembali mendatangkan 1-2 pemain asing lagi untuk melakukan trial. Dan saat ini masih dilakukan proses negosiasi.
Menurutnya, saat ini sudah ada satu pemain asing yang menonjol permainannya. Akan tetapi negosiasi masih berjalan.
Baca Juga: Almarhum, Cipta Beri Kesaksian Soal Indra Bekti Meninggal, Keluarga Kaget dan Ini Kenyataanya
Soal rumor pemain yang masuk, ia mengatakan banyak nama. Bahkan terakhir adalah pemain berkewarganegaraan Belanda - Indonesia.
Saat ini Stefano Lilipaly masih terikat kontrak dengan Borneo FC. Ia jadi salah satu andalan klub yang dibesut oleh Andre Gaspar.
Ia tak menampik kabar tersebut. Yoyok Sukawi mengakui hal itu memang sempat dilakukan. "Memang sempat ada komunikasi dengan Borneo FC," terangnya.
Namun saat PSIS Semarang masih dalam tahap bertanya-tanya, langsung dijawab dengan lugas oleh Bos Borneo FC nabil Husein.
"Stefano Lilipaly tidak dilepas!" jawab Nabil Husein sebagaimana ditirukan oleh Yoyok Sukawi.
Sebenarnya ada satu keuntungan jika bisa dapatkan Stefano Lilipaly. Yakni memiliki kewarganegaraan Indonesia sehingga tidak memakan kuota pemain asing yang dibatasi 4 orang.
Berita Terkait
-
Berita Terpopuler: Hoaks Gading Marten Nikahi Luna Maya, Kabar Indra Bekti hingga Bos PSIS Semarang Dekati Liverpool
-
Alasan Eks Kapten PSIS Semarang Frendi Saputra Terima Tawaran Dewa United: Punya Manajemen Profesional
-
PSIS Semarang Beres-beres Lini Belakang: Rekrut Pemain Berdarah Jepang hingga Coret Kapten Tim
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Mau Gelar Scudetto, Haram Buat Pemain Inter Milan Salahkan Wasit Kalau Kalah
-
Pecah Kongsi? Netanyahu Sindir Donald Trump Soal AS Mau Negosiasi dengan Iran
-
Trump Klaim Iran Mau Berunding, Teheran: Bohong! AS Gemetar dengan Rudal Sejjil
-
Demi Tiket Piala Dunia 2026, Gennaro Gattuso: Pemain Dilarang Lembek, Berjuang Mati-matian
-
Penumpang Ungkap Momen Mencekam Tabrakan Pesawat Air Canada, Pilot Selamatkan Banyak Nyawa
-
Kim Jong Un Terpilih Lagi Jadi Presiden Korut, Sang Adik Hilang Misterius
-
Viral Polisi Ditantang Duel Remaja di Blitar saat Sita Petasan Siap Meledak, Ini Kronologinya
-
Sinopsis Project Hail Mary, Misi Ryan Gosling Selamatkan Bumi dari Kepunahan
-
Momen Idulfitri, Prabowo Hubungi Presiden Palestina Mahmoud Abbas Bahas Solidaritas Bangsa
-
Menlu Israel Klaim 40 Negara Labeli Garda Revolusi Iran sebagai Teroris, Ada Indonesia?