Lifestyle / Komunitas
Sabtu, 09 Mei 2026 | 09:14 WIB
Ilustrasi pojok baca. (dok. ist)
Baca 10 detik
  • RupiahCepat menghadirkan pojok baca di SD Muhammadiyah Worawari, Kulon Progo, guna meningkatkan literasi dan minat baca siswa.
  • Program ini melibatkan 49 siswa dan 13 guru untuk mendukung pembentukan pola pikir kritis melalui kegiatan membaca.
  • Selain menyediakan buku, siswa mendapatkan edukasi interaktif mengenai pengelolaan keuangan sederhana untuk membangun kebiasaan baik sejak dini.

Suara.com - Di tengah derasnya arus konten digital dan penggunaan gadget sejak usia dini, minat baca anak-anak Indonesia masih menjadi tantangan besar. Banyak anak kini lebih akrab dengan layar dibanding buku, sementara kebiasaan membaca perlahan mulai tergeser oleh hiburan instan yang serba cepat.

Kondisi ini juga tercermin dari hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, yang menempatkan kemampuan membaca pelajar Indonesia di peringkat ke-63 dari 81 negara. Angka tersebut menunjukkan bahwa literasi membaca bukan hanya soal kemampuan mengeja atau memahami teks, tetapi juga berkaitan dengan cara anak menyerap informasi, berpikir kritis, dan memahami dunia di sekitarnya.

Di tengah situasi tersebut, kehadiran ruang sederhana seperti pojok baca mulai dipandang penting sebagai langkah kecil untuk membangun kembali budaya literasi sejak dini. Dan hal ini dihadirkan lewat program pojok baca di SD Muhammadiyah Worawari, Kulon Progo, Yogyakarta.

Program ini diinisiasi oleh RupiahCepat melalui kegiatan sosial bertajuk GROW with RupiahCepat, sebagai upaya mendukung peningkatan literasi dasar sejak usia dini. Bukan sekadar menghadirkan rak buku, pojok baca ini dirancang menjadi ruang belajar yang lebih hangat, menyenangkan, dan dekat dengan keseharian siswa.

Sebanyak 49 siswa dan 13 guru terlibat dalam kegiatan tersebut. Berbagai buku bacaan anak disediakan untuk mendorong kebiasaan membaca sekaligus memperluas wawasan para siswa di lingkungan sekolah.

Direktur PT Kredit Utama Fintech Indonesia, Anna Maria Chosani, mengatakan bahwa membangun kebiasaan membaca sejak dini menjadi langkah penting untuk membentuk pola pikir anak yang lebih kritis.

“Kami percaya bahwa membangun kebiasaan membaca sejak dini merupakan langkah penting dalam membentuk generasi yang lebih kritis dan mampu memahami berbagai informasi dengan baik,” ujarnya.

Menurut Anna, pojok baca bukan hanya fasilitas tambahan, tetapi juga bisa menjadi ruang yang membuka rasa ingin tahu anak-anak terhadap banyak hal.

Pihak sekolah pun menyambut positif program tersebut. Kepala SD Muhammadiyah Worawari, Sri Pujilestari, menilai keberadaan pojok baca dapat membantu siswa lebih dekat dengan budaya literasi di lingkungan sekolah.

Baca Juga: Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?

“Pojok baca ini sangat bermanfaat bagi siswa kami dalam meningkatkan minat baca dan memperluas wawasan,” kata Sri.

Menariknya, kegiatan ini tidak berhenti pada penyediaan buku saja. Anak-anak juga diajak mengikuti sesi edukasi interaktif tentang pengelolaan keuangan sederhana, seperti pentingnya menabung dan memahami perbedaan kebutuhan dengan keinginan.

Materi disampaikan dengan pendekatan yang ringan dan menyenangkan melalui video edukasi, permainan, hingga diskusi interaktif, sehingga lebih mudah dipahami anak-anak.

Melalui program seperti ini, pojok baca akhirnya bukan hanya menjadi sudut penuh buku, tetapi juga ruang tumbuh bagi anak-anak untuk belajar, bertanya, dan membangun kebiasaan baik sejak dini.
 

Load More