Situasi desa-desa pesisir yang terisolir akibat krisis iklim, adanya banjir rob, air laut yang terus pasang tinggi, pembangunan yang tidak ramah, berdampak pada perekonomian yang semakin sulit berkembang.
Tingkat pendapatan yang cenderung tetap atau berkurang, namun pengeluaran warga di kampung pesisir menjadi lebih besar karena harus mengeluarkan biaya bahan bakar dari daratan ke kampung dan sebaliknya.
Begitu juga dengan harga bahan kebutuhan pokok yang juga membengkak, termasuk kebutuhan pembalut menstruasi.
Situasi ini menyebabkan perempuan terjebak dalam situasi period poverty atau kemiskinan menstruasi, yaitu situasi perempuan atau keluarga mengalami kesulitan dalam memenuhi hak menstruasi sehat yang merupakan bagian dari hak kesehatan seksual dan reproduksi.
Situasi tempat tinggal yang terisolir, mengakibatkan semakin sulitnya akses bagi perempuan dan anak perempuan untuk mendapat informasi dan pengetahuan tentang kesehatan diri.
Termasuk ketidakpahaman akan pengetahuan tentang pemakaian pembalut sekali pakai dalam waktu yang lama mengakibatkan gangguan organ reproduksi, seperti panas, gatal-gatal, ruam, dan infeksi.
Untuk alasan penghematan, perempuan dan anak perempuan terpaksa memakai satu pembalut selama seharian penuh. Akibatnya perempuan dan anak perempuan yang mengalami gangguan kesehatan organ reproduksi harus menambah pengeluaran untuk membeli obat atau mengakses puskesmas yang jauh dari kampung.
Selain dampak kesehatan dan ekonomi, terisolirnya kampung di pesisir Demak juga mengakibatkan semakin sulitnya mengelola sampah di lingkungan kampung yang terdampak banjir rob.
Belum adanya sistem pengelolaan sampah yang baik, menyebabkan sampah pembalut sekali pakai berakhir menambah jumlah penumpukan sampah yang tidak dapat hancur dan semakin merusak wilayah pesisir Demak.***
Berita Terkait
-
3 Pemain PSIS Hilang, Yoyok Sukawi Manut Mode Shin Tae Yong yang Lirik Lagi Si Pirang, Prediksi Piala AFF U 23 2023
-
Bos PSIS Yoyok Tombok Kena Sanksi Denda PSSI, Minta Suporter Jangan Datang ke Laga Tandang
-
Weleh! Carlos Fortes Sumbang Duit ke PSSI, Tumben-tumbenan Kena Provokasi di Laga PSIS VS PSS dapat Kartu Merah
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
Terkini
-
EcoGrow Mom, Langkah PTBA Wujudkan Perempuan Tani Berdaya dan Sejahtera
-
Wujud Nyata Komitmen ESG, Pegadaian Gelar Khitanan Massal 2026 Bagi 500 Anak
-
Sering Mangkir, KPK Pertimbangkan Jemput Paksa Model Fitri Assidikki
-
3 Sampo Penghitam Rambut yang Dipuji Pengguna karena Ampuh Menutupi Uban
-
Gas Melon Langka di Indramayu, Lucky Hakim Endus Praktik Pengoplosan: Pertamina Harus Gandeng Polisi
-
Klaim MBG Bukan Proyek! KemenHAM: Ini Instrumen Negara Penuhi Hak Dasar Siswa
-
5 Bedak Tabur yang Memberikan Efek Glowing di Wajah, Hasil Makeup Halus dan Natural
-
Gagal Jadi JC, Sony Sonjaya Ternyata Belum Akui Perbuatan di Kasus Korupsi MBG
-
Satu Tahun Dicuekin, Fariz RM Akhirnya 'Gas Pol' Seret Pelanggar Hak Cipta Lagunya ke Polisi
-
Militerisme Menguat! 1.047 Pembela HAM Diserang di Era Prabowo-Gibran