Sejak 1 Desember 1965, Rumah-rumah yang sudah ditandai sebagai kader atau simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) diserbu, satu per satu penghuninya diseret keluar, kemudian dipukuli beramai-ramai dan dibunuh dengan keji. Tragedi berdarah ini berlangsung selama satu tahun, yakni tahun 1965 sampai 1966.
Saat itu pulau Bali terasa amat mencekam. Aksi pembantaian itu tak lagi hanya menyasar kepada para kader maupun relawan Partai Komunis Indonesia (PKI), tapi juga menyasar kepda mereka yang dianggap musuh yang dicurigai oleh orang-orang sekitarnya. Dan bahkan, agar peristiwa pembantaian itu terkesan tampak religius, dilaksanakanlah sebuah ritual yang disebut mereka "Nyupat".
Ditambah lagi pasca kedatangan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) ke Bali, sehingga pembantaian itu terjadi hampir merata di seluruh tanah Pulau Dewata. "Jumlah yang dibunuh di Bali itu sangat besar, mencapai 5 persen dari populasi. Lebih dari 100 ribu orang tewas dibantai," ujar penulis buku 'Nasib Para Soekarnois' Aju, dikutip dari merdeka.com tahun 2015.
Bahkan saat itu, para algojo-algojo atau kelompok para penjagal bermunculan sebagai eksekutor pembunuh orang-orang yang dianggap berafiliasi dengan partai berlambang Palu Arit PKI.
Di tanah Bali, kelompok algojo itu disebut Pasukan Tameng, para anggotanya dikenal sadis dan tak kenal ampun. Jika ingin lolos dari mereka, maka keluarga yang sudah menjadi target 'pembersihan' itu mesti merelakan anak-anak gadis mereka untuk disetubuhi.
Pun bagi mereka yang punya dendam dengan kelompok tertentu, meskipun bukan simpatisan PKI, maka mereka bisa melaporkan dan mencap lawannya sebagai PKI kepada para Pasukan Tameng.
Wayan Getarika (65) adalah satu diantara para anggota Pasukan Tameng itu. Ia adalah sang Penjagal. Eksekutor lapangan yang mencabut banyak nyawa anggota dan simpatisan yang terlibat Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) atau yang lebih dikenal dengan G30S PKI di daerah Buleleng, Bali Utara.
Wayan Getarika adalah seorang Kolok (pengidap bisu+tuli). Penjagalan yang ia lakukan kala itu semata-mata hanyalah untuk bertahan hidup, "demi bisa makan", ujarnya seraya mengangkat jemari tangannya ke arah mulut sebagai bahasa isyarat di sela menjawab pertanyaan saya waktu itu.
Sebagai seorang Kolok (Difabel), tak mudah bagi Wayan Getarika mendapat pekerjaan yang layak, ia 4 bersaudara, 2 diantaranya yang masih hidup hingga kini adalah Kolok (bisu-tuli). Hidup dalam keluarga yang terhimpit dengan persoalan ekonomi.
Wayan muda adalah seorang preman kampung, tak memiliki pekerjaan, kadang bekerja serabutan, hidup di jalanan, apalagi mengenyam pendidikan. Tak heran jika mudah terpengaruh dan menawarkan diri menjadi Pasukan Tameng, karena hanya dengan cara itu yang bisa ia lakukan, demi mendapat makan dan demi untuk bertahan hidup.
Wayan hanyalah pekerja serabutan, menjadi preman dan hidup di jalanan. Maka tak heran jika Wayan muda mudah terpengaruh dan terlibat menjadi Pasukan Tameng, yang penting hari itu ia bisa makan!
Kini, Wayan Getarika mendarmakan dirinya sebagai seorang penggali kubur dengan upah beberapa ratus ribu, uang hasil kerjanya itu akan ia bagi-bagi bersama beberapa orang teman Kolok lainnya yang ikut membantu di desa Bengkala.
“Mungkin itu karma yang mereka dapat,” tulis Aju dalam buku ‘Nasib Para Soekarnois’.
Foto & Teks : Kurniawan Mas'ud
Konten Kreator dan Fotografer lepas peraih penghargaan Anugerah Adiwarta 2012 dan Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2017. Beberapa karyanya pernah dimuat di Time, Bloomberg, The Guardian, Tempo dan National Geographic Indonesia.
Tag
- # g30 s pki
- # gestapu
- # 30 september
- # pasukan tameng
- # algojo penumpasan pki
- # kader pki
- # simpatisan pki
- # pengganyang komunis
- # peristiwa 30 september 1965
- # genosida
- # buleleng
- # sejarah
- # algojo
- # penjagal
- # kolok bengkala
- # desa bengkala
- # bisu tuli
- # pki
- # partai komunis indonesia
- # g30spki
- # politik
Berita Terkait
-
Cerita Horor Kuburan Massal Korban G30S PKI Dekat Tol Trans Jawa di Semarang: Penampakan Wanita Berlubang Cekikikan
-
Analisa Pakar: Demokrat Merasa Dipecundangi, SBY Turun Gunung Cari Kambing Hitam
-
Cerita 137 Tahanan PKI Mempawah yang Diselimuti Wajah Ketakutan
-
Deretan Fakta Film G 30 S PKI, Biaya Produksi Capai Rp800 Juta di Tahun 1982
-
Hutan Plumbon Semarang dan Kisah Saksi Bisu Kuburan Massal Korban G30S/PKI
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Jadwal Imsak Bandar Lampung 27 Februari 2026, Lengkap Waktu Salat dan Niat Puasa
-
Dedi Mulyadi Semprot Aturan Sampah: Izin PLTSa 6 Tahun Baru Kelar, Tapi Rakyat Mau Dipidana
-
Jadwal Imsak Palembang 27 Februari 2026: Waktu Sahur & Buka Puasa Lengkap
-
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Bogor, Depok dan Cianjur Jumat 27 Februari 2026
-
Jadwal Imsak Jakarta 27 Februari 2026 Lengkap dengan Niat Puasa Ramadan
-
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Tangerang, Serang dan Pandeglang Jumat 27 Februari 2026
-
Mudik Gratis DKI Jakarta 2026 Kluster 2 Resmi Dibuka, 7 Kota Tujuan Ini Jadi Rebutan
-
GBLA Membara! Persib Bandung Pesta 5 Gol Tanpa Balas, Madura United Tak Berdaya
-
Kabar Gembira! Pemkab Bogor Gelar Pangan Murah di Cibinong, Harga di Bawah Pasar
-
Ramadan Jadi Momentum Refleksi Finansial, Nanovest Ajak Investor Susun Portofolio Sehat