/
Minggu, 02 Oktober 2022 | 14:34 WIB
Suasana Pasca Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan ; Tragedi Kanjuruhan (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/foc)

SuaraSoreang.id - Tragedi maut terjadi pasca pertandingan Arema FC lawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022).

Kejadian ini menewaskan ratusan orang. Terbaru, dikabarkan mencapai 187 orang meninggal dunia.

Korban jiwa itu disebabkan kerusuhan yang terjadi setelah pertandingan selesai. 

Suporter tim yang berjuluk Singo Edan itu turun ke lapangan karena tak terima kekalahan atas Persebaya.

Ribuan orang menyerang pemain dan ofisial di lapangan.

Polisi yang bertugas segera bertindak dengan cara memukul serta menembakkan gas air mata.

Akhirnya, para suporter panik dan berlarian ke arah pintu keluar untuk menghindari gas air mata. Namun nahas, stadion yang berisi 40 ribuan orang itu menjadi padat dan sesak di area pintu keluar.

Banyak korban sesak dan terinjak hingga ratusan nyawa akhirnya melayang.

Banyak pihak mengecam tindakan yang dilakukan aparat kepolisian. Sebab, penggunaan gas air mata dalam stadion tak diizinkan FIFA.

Baca Juga: 187 Tewas di Tragedi Kanjuruhan, Korban Kerusuhan Pasca Pertandingan Arema FC Vs Persebaya Masih Bertambah

Di samping itu, pihak kepolisian beralasan untuk membubarkan ribuan suporter yang melakukan penyerangan ke lapangan.

Namun, alasan yang dibawa pihak kepolisian rupanya dinilai tak cukup kuat oleh beberapa pihak. 

Salah satu akun Twitter @siixsixsiix mengomentari kejadian ini dengan membandingkan kejadian-kejadian kerusuhan sepak bola di luar negeri.

Menurut akun tersebut, budaya suporter atau penonton kecewa dan turun ke lapangan itu merupakan hal yang biasa terjadi.

"Semua pertandingan ini penonton masuk ke lapangan. St Etienne, Frankfrut, Malmo, dan Arema," cuitnya.

Namun, dia melemparkan pertanyaan pada khalayak yang berusaha menyalahkan suporter.

Load More