/
Minggu, 02 Oktober 2022 | 14:34 WIB
Suasana Pasca Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan ; Tragedi Kanjuruhan (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/foc)

"Tapi, cuma laga Arema yang berujung 180+ orang meninggal. See teh problem?," ujarnya.

Dalam utas tersebut, akun ini juga menjelaskan budaya sepak bola seperti ini tak hanya dilakukan Aremania. Namun, negara lain juga memiliki budaya seperti ini.

"To be clear, budaya bola itu di seluruh dunia sama, Mau di Arema Indo, mau Beitar Jerusalem di Israel, mau Besiktas di Turkey, mau River Plate di Argentina semua ya kek gitu," cuitnya.

Tak menyalahkan suporter, dia menyebut jika kesalahan terjadi akibat para pemilik kuasa yang tidak tepat mengambil kebijakan preventif

"Yang beda yang punya kuasa buat  ngambil kebijakan preventif, either badan liga, pssi, maupun keamanan," tulis dia.

Dengan terang, dia menilain siapa saja pihak yang salah atas kejadian maut ini.

"Yang salah itu yang punya wewenang buat menyelenggarakan match, yang punya wewenang buat ngambil tindakan darurat pas fans invasi ke lapangan, yang kasih perintah tembakan gas air mata," tulisnya.

"Tuh 3 yang utama, cari dah orangnya," kata dia.

Cuitan ini menuai pro kontra. Banyak pihak yang memandang jika kesalahan terjadi atas banyak pihak.

Baca Juga: 187 Tewas di Tragedi Kanjuruhan, Korban Kerusuhan Pasca Pertandingan Arema FC Vs Persebaya Masih Bertambah

"Kenapa pada denial nyalahin satu pihak doang, padahal semua pihak salah, suporter salah, polisi salah, panpel (panitia penyelenggara) salah, LIB salah juga," cuit akun @sinjen***** dalam balasan cuitan di atas.

Selain itu ada warganet lain juga mengomentari kejadian kerusuhan sepak bola di luar negeri dan membandingkannya dengan kejadian di Stadion Kanjuruhan.

"Problemnya polisi sana tidak memakai gas air mata, jelas!," kata akun @elk***** dalam balasn cuitan utas ini.

"Jelas bgt mereka tau aturan FIFA mas," cuit @txtdrl******.

Load More