SuaraSoreang.id - Dedi Mulyadi ungkap jika putra pertamanya Maula Akbar sempat alami gangguan psikologis karena didikannya sebagai ayah yang keras dan banyak memberi tekanan.
Belakangan diketahui Maula Akbar bukanlah anak kandung Anne Ratna Mustika atau Ambu Anne. Dedi Mulyadi mengungkap jika ibu kandung Maula Akbar adalah Sri Mulyawati yang sudah meninggal tiga bulan setelah melahirkan sang sulung.
Dedi Mulyadi ungkap ibu kandung Maula Akbar ke publik dalam acara ulang tahunnya yang ke-23 sekaligus menceritakan kisah hidup A Ula, sapaan akrabnya, yang telah berjuang secara mandiri.
"Aa Maula adalah anak yang mandiri, yang sejak SMP sudah tinggal sendiri di rumah petak tipe 21, dan aa bisa hidup sendiri di situ," ungkap Kang Dedi, dikutip dari kanal Youtube Kang Dedi Mulyadi Channel, Senin (7/11/2022).
Di tengah umurnya yang sekarang, Kang Dedi menyadari jika A Ula telah hidup mandiri dan sudah kehilangan tempat mengadu.
"Dan yang paling utama yang ayah liat dari Aa itu adalah, Aa itu kan Mamah Cimaung sudah puya cucu, Mamah Subang sudah punya cucu, dan ayah tahu bahwa Aa kehilangan tempat mengadu," lanjutnya.
Kang Dedi sadar akan hidup putra sulungnya yang berat dan mengemban tugas yang belum sesuai dengan umurnya.
"Pada saat kehilangan tempat mengadu, di usia Aa yang ke 21 tahun Aa harus masuk ke wilayah politik yang berat yang belum waktunya dan belum cukup umur," ucap Kang Dedi.
Sebagai ayah bagi A Ula, Kang Dedi menceritakan bagaiamana cara dirinya mendidik sosok Maula Akbar hingga terkena gangguan psikologis.
"Dan ayah itu karena sayangnya sama aa, aa harus tumbuh menjadi orang yang tidak manja," kata kang Dedi.
Ia menyebutkan jika menuntut A Ula untuk serba cepat dalam menerima perintah dari Kang Dedi.
"Tidak manjanya harus bangun pagi, harus cepat ngangkat telepon, harus cepat terima WA, harus cepat ini cepat itu rupanya kecepatan ini kecepatan itu tidak berimbang dengan kondisi psikologi yang aa miliki," sadar Kang Dedi.
Kang Dedi mengaku kerap kali menelepon dengan memarahi A Ula. Hal ini membuat A Ula trauma hingga mendapati gangguan psikologis.
"Dan setiap telefon aa menganggap bahwa telepon ayah adalah kemarahan, telepon ayah adalah perintah, sehingga aa mengalami gangguan psikologis," ucap Kang Dedi.
"Kalau melihat telepon dari ayahnya bergetar badannya, penuh rasa takut," lanjutnya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik: Kamera Tajam, NFC hingga Koneksi 5G
- 7 Lukisan Pembawa Hoki Menurut Feng Shui untuk Dipajang di Ruang Tamu
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 12 Sepeda Gunung United Detroit Lengkap dengan Harga dan Spesifikasinya
- Sepeda Gunung Apa yang Bagus dan Murah? Ini 7 Rekomendasi Terbaik untuk Pemula
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
30 Ribu Kopdes Merah Putih Dikebut Sebelum 17 Agustus, Siapa yang Akan Mengelola?
-
Prabowo Puji Sepatu Inovasi BRIN Berbahan Limbah Sawit, Harganya Cuma 60 Ribuan!
-
Bangga! Prestasi Apik Ditorehkan Kevin Diks di Awal Musim Bundesliga 2026/2027
-
Gudang Sekolah di Penjaringan Terbakar, 70 Petugas Dikerahkan
-
Review Almarhum: Sinematografi Thriller Misteri Bernyawa Kearifan Lokal
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
IHH Healthcare Malaysia Terus Perluas Kehadiran di Indonesia
-
Fakta Mengerikan di Balik Penembakan Thailand: Pelaku Sudah Belajar Senjata 2 Tahun
-
Catat Tanggalnya! Ada Diskon dan Voucher Belanja Melimpah dari BRI di Outlet Ini
-
Mendikdasmen: Hard Skills Saja Tak Cukup, Ini Keterampilan Utama yang Wajib Dikuasai Gen Z!