Sebastian Vettel, juara F1 empat kali berturut (2010 - 2013)
Asli Jerman, bahasa paling ia kuasai tentu saja bahasa ibu, dengan berbagai aksen lokal, serta bahasa Inggris.
Kecakapan berbahasa Inggris didapat saat Vettel bergabung dengan tim Red Bull yang bermarkas di Milton Keynes, England. Kefasihan ini tampak jelas saat ia diwawancara Top Gear, BBC di mana dengan keterampilan berbahasa ia melayani banyolan pembawa acara, Jeremy Clarkson, yang satir khas Inggris.
Setelah bergabung dengan tim Scuderia Ferrari, Vettel menunjukkan keterampilan berbahasa Italiano. Hal ini terutama bila menyimak percakapan radionya dengan pit crew.
Seb, begitu panggilannya, juga susah menolak permintaan jurnalis yang mewawancarainya dalam bahasa Italiano. Kecakapan dia terus berkembang dan pernah dengan jail ia melontarkan pertanyaan, “Bagaimana, Anda senang dengan bahasa Inggris bercampur Italia khas saya?”
Tetapi paling “gila” adalah kecakapan Seb dalam soal memaki. Lindsay Williams, blogger lindsaydoeslanguage menyatakan bahwa driver ini sanggup mengumpat dalam ... 30 bahasa! What the ....
Nico Rosberg, juara dunia F1 1 kali (2016)
Bisa disebut sebagai “bayi internasional”, Rosberg menganut dua kebangsaan warisan orangtuanya, Finlandia dan Jerman. Dibesarkan di Monte Carlo, Monaco, serta mengikuti keluarganya mengantar sang ayah, driver F1 Keke Rosberg berlaga ke seluruh penjuru dunia.
Di masa sekolah, bahasa Perancis menjadi santapan sehari-hari. Ditambah bahasa Jerman di rumah, serta Italiano dan Spanyol. Kecakapannya berbahasa Inggris semakin terasah saat berlaga di dua tim yang bermarkas di Inggris, yaitu Williams dan Mercedes.
Baca Juga: Atletico Dikabarkan Mengincar sang Putra, Ini Komentar Simeone
Uniknya, sang ayah secara sengaja tak mengajarinya berbahasa Finnish, namun kelima bahasa ini dengan pertimbangan lebih penting sebagai penunjang karier Rosberg di F1.
Michael Schumacher, juara dunia F1 7 kali berturut (1994 - 2004)
Memegang reputasi sebagai juara dunia berkesinambungan kurun 10 tahun, kecakapan Michael Schumacher berbahasa Inggris tak perlu diragukan lagi. Ia sangat terbiasa memberikan pernyataan pasca balap dalam konferensi pers menggunakan bahasa ini, ditambah bahasa ibu, Jerman.
Kecakapan berbahasa Inggris Schumacher juga diasah selama bergabung dengan tim Britania Raya: Jordan, Benetton, dan Mercedes.
Lantas berbahasa Italiano didalami saat bergabung dengan tim Scuderia Ferrari. Sembari terus mengasah keandalan berbahasa Inggris. Dengan taktis, rupanya saat pindah ke tim berbendera Italia ia memboyong beberapa sosok penting dari tim sebelumnya di Inggris.
Ayrton Senna, juara dunia F1 3 kali (1988, 1990, 1991)
Di antara para driver zaman old, Ayrton Senna dipandang sebagai sosok filosofis. Selalu mencerna pertanyaan berbahasa Inggris beberapa saat, baru kemudian menjawab setelah jeda tertentu.
Hal ini sampai pernah mendatangkan pertanyaan: apakah ia menguasai bahasa internasional itu dengan baik?
Nyatanya benar, ia fasih. Bahkan pilihan kata, dan cara bertuturnya apik. Ditambah satir khas Inggris, karena sepanjang kariernya di F1 ia selalu berada di tim berkedudukan di Inggris: Toleman, Lotus, McLaren, dan Williams.
Senna buka rahasia di kemudian hari soal kebiasaan berdiam sejenak sebelum menjawab ini, “Tinggal di negara yang memiliki budaya berbeda dengan tempat kelahiran membuat saya perlu berpikir soal penerapan kata dan kemungkinan pengertian yang ditangkap pendengar. Bahkan bila harus memaki, saya mesti paham dahulu, mana kosakata yang mesti dipakai.”
Fasih berbahasa Portugis sebagai bahasa ibu, Senna juga pakar berbahasa Inggris, ditambah Spanyol dan Italiano. Serta sedikit Nihongo atau bahasa Jepang, karena saat bergabung dengan tim McLaren, pemasok mesinnya adalah Honda.
Ia kerap mengetes mesin serta menjadi bintang pariwara di Negeri Matahari Terbit itu. Bahkan Honda melansir sport car khusus seri Senna. Dan saat ia meninggal di F1 GP San Marino 1993, markas Honda di Minato-ku, Tokyo, banjir buket bunga ungkapan duka cita.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
Terkini
-
Timnas PUBG Mobile Indonesia Lolos ke Asian Games 2026 usai Finis Runner-up Kualifikasi
-
Kalah dari Pelita Jaya, Pelatih Bogor Hornbills Soroti Petaka 2 Menit Akhir
-
Duel Ketat Tiga Set, Aldila Sutjiadi/Janice Tjen Terhenti di Semifinal Nottingham Open 2026
-
Sebut Sirkuit Brno Mirip Assen, Pecco Bagnaia Optimistis Hadapi MotoGP Ceko
-
Marc Marquez Bidik Kemenangan Beruntun, Siap Tampil Maksimal di MotoGP Ceko 2026
-
Muhamad Yusuf Singkirkan Unggulan Pertama, Melaju ke Semifinal Macau Open 2026
-
Veda Ega Pratama Finis Posisi ke-15 di Latihan Moto3 GP Ceko, Harus Lewati Q1
-
MMA Indonesia Bidik Dominasi di Asia, Jaring Talenta Lewat Kejurnas 2026
-
Psywar Final IBL 2026: Bogor Hornbills Pamer Pemain Asing, Jeff Withey Beri Peringatan Keras
-
Bogor Hornbills Tak Gentar Hadapi Nama Besar Pelita Jaya di Final IBL 2026