"Agak lama saya menunggu hingga air akhirnya surut. Saat itu baru terdengar suara teman-teman saya yang saling memanggil. Kami berkumpul dan meminta bantuan orang-orang (warga sekitar)," ujar Hartini.
Akibat tsunami itu, Sri Hartati mengalami luka lecet dan memar di beberapa bagian tubuhnya.
Paru-parunya juga disebut mengalami sedikit gangguan karena kemasukan air dan pasir.
Seperti diketahui, rombongan Kemenpora berada di Tanjung Lesung untuk mengadakan kegiatan Pelatihan SDM dari Unit Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Keolahragaan Nasional (PP ITKON), yang berlangsung pada 21-23 Desember 2018.
Akibat bencana tsunami itu, dari 50 orang rombongan, lima pegawai Kemenpora meninggal dunia dan 17 lainnya luka-luka.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun pihak Kemenpora, empat korban meninggal akibat tsunami Selat Sunda diantaranya satu orang merupakan anak pegawai.