/
Kamis, 29 Desember 2022 | 12:06 WIB
Jokowi di istana (Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Suara Sumatera - Presiden Joko Widodo atau Jokowi terus memberikan sinyal atas bakal adanya pergantian para menteri (reshuffle). Sejumlah spekulasi bermunculan atas pergantian para menteri tersebut.

Disebut-sebut jika partai NasDem ialah partai yang paling terancam kena pergantian. Hal ini disebabkan partai besutan Surya Paloh sudah lebih dahulu memajukan calon presiden (capres) untuk Pilpres 2024 mendatang.

Di pemerintahan Jokowi saat ini, ada tiga menteri asal Partai NasDem yang menduduki jabatan cukup strategis, yakni Menkominfo Johnny G Plate, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar.

Ketua Umum Konfederasi Nasional Relawan Anies (KoReAn), Muhammad Ramli Rahim, menilai Surya Paloh sebagai Ketua Umum tentu memikirkan matang seluruh risiko atas kebijakan politik yang diambil, karena mengusung Anies Baswedan sebagai bakal capres Pilpres 2024.

"NasDem mendukung Anies seperti mengambil risiko. Saya yakin Surya Paloh beserta seluruh jajarannya sudah memikirkan matang apapun risiko ke depan yang bakal terjadi," kata Ramli.

NasDem pun sedang ancang-ancang membentuk koalisi perubahan yang di dalamnya terdapat partai oposisi pemerintah saat ini, yakni PKS dan Demokrat. "Dalam setiap keputusan selalu ada konsekuensinya. Reshuffle itu salah satu konsekuensinya," sambung Ramli.

Jokowi tentu tak ingin gegabah dan masih menghitung untung ruginya apabila NasDem didepak dari kabinet.

Keberadaan NasDem di koalisi adalah untuk mendukung Jokowi, bukan presiden setelah Jokowi. Mantan Ketua Umum IGI ini, jika melihat ke belakang, hampir tidak ada presiden yang mengurusi calon presiden berikutnya.

Baru kekinian, ada presiden yang kelihatannya cukup repot mengurus calon presiden selanjutnya.

Baca Juga: Revisi RAPBD 2023 Belum Dilaksanakan DPRD DKI, PAN Ingatkan Anggaran Rp18,4 Triliun dari Pusat Bisa Dipotong

Selama menjabat hampir 10 tahun, Jokowi melakukan reshuffle bukan berdasarkan parameter kinerja. Misalnya, Anies Baswedan yang diberhentikan sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Ramli menyebut, berdasarkan presepsi publik, Anies selalu berada di tiga besar. Perencanaannya berjalan baik begitu pun penataannya dinilai bagus. Saat itu Ramli menjabat sebagai Ketua Ikatan Guru Indonesia, baik guru, praktisi pendidikan, akademisi semua mengatakan kinerja Anies tidak bermasalah.

Anies Baswedan. [YouTube/Official NET News] (sumber: YouTube)

"Jadi menurut saya Anies kena reshuffle bukan karena kinerjanya buruk. Malah ada menteri yang kinerjanya tidak jelas tapi tetap dipertahankan. Jadi reshuffle selama Jokowi tidak berkaitan dengan kinerja, tapi murni politik. Kecuali karena menterinya tersangkut kasus hukum. Itu kan persoalan integritas, bukan kinerja," tandas MRR-akronim namanya.

Diketahui, Jokowi telah melakukan reshuffle sebanyak tujuh kali selama hampir 10 tahun menjabat presiden. Periode pertama sebanyak empat kali reshuffle dan periode kedua tiga kali reshuffle.

Disclaimer: Artikel ini merupakan kerja sama Suara.com dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi artikel menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi

Load More