/
Senin, 24 Oktober 2022 | 10:35 WIB
Ilustrasi Covid-19; seberapa cepat penularan subvarian Covid XBB yang sudah terdeteksi di Indonesia, dan bagaimana gejalanya. (Freepik.com/pikisuperstar)

SuaraSumedang.id - Subvarian baru SARS-CoV-2 atau Covid-19 yang dijuluki XBB telah teridentifikasi di Indonesia.

Menurut Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, subvarian XBB menyebabkan peningkatan kasus Covid-19 di Singapura.

Bahkan, diprediksi akan terjadi peningkatan kasus 15 ribu per hari saat pertengahan November nanti.

"Singapura kasusnya naik lagi ke 6 ribu per hari, karena ada varian baru (Covid-19) namanya XBB, varian ini juga sudah masuk di Indonesia, kita amati terus," kata Budi Gunadi.

Meski begitu, Budi tetap optimistis subvarian XBB tidak membuat peningkatan kasus di Indonesia.

Karena, klaimnya subvarian BA.4 dan BA.5 yang menyebabkan lonjakan kasus di beberapa negara, terbukti tidak berpengaruh di Indonesia.

"Mudah-mudahan di Januari-Februari kita bisa menghadapi potensi kenaikan dengan baik, seperti Agustus ini. Sehingga, Indonesia menjadi satu di antara dari sedikit negara di dunia selama 12 bulan berturut-turut tidak ada lonjakan kasus," kata dia.

Lantas seberapa cepat Covid XBB menular?

Juru Bicara Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. M. Syahril mengatakan, peningkatan kasus gelombang XBB di Singapura berlangsung cepat, dan sudah mencapai 0,79 kali gelombang BA.5, dan 0,46 kali gelombang BA.2.

Baca Juga: Film The Conjuring 4 dalam Proses

Sejak pertama kali ditemukan, sebanyak 24 negara melaporkan temuan Omicron varian XBB termasuk Indonesia.

Kasus pertama Covid XBB di Indonesia merupakan transmisi lokal, terdeteksi pada seorang perempuan (29), yang baru saja kembali dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Syahril menerangkan, gejala Covid XBB, seperti batuk, pilek, dan demam. 

"Ada gejala seperti batuk, pilek, dan demam. Ia kemudian melakukan pemeriksaan, dan dinyatakan positif pada 26 September. Setelah menjalani isolasi, pasien telah dinyatakan sembuh pada 3 Oktober," kata dr. Syahril.

Menyusul temuan kasus Covid XBB, Kemenkes melakukan upaya antisipatif dengan melakukan testing, dan tracing terhadap 10 kontak erat, dan hasilnya seluruh kontak erat dinyatakan negatif Covid XBB.

Syahril mengatakan, meski Covid XBB cepat menular, tetapi fatalitasnya tidak lebih parah dari varian Omicron.

Meski begitu, negara belum bisa dikatakan aman dari pandemi Covid-19. Sebab, berbagai mutasi varian baru masih berpotensi terus terjadi dalam 7 terakhir juga dilaporkan terjadi kenaikan kasus di 24 provinsi.(*)

Load More