/
Rabu, 30 November 2022 | 13:36 WIB
Keroyokan para menteri mendulang manfaat dari keberhasilan KTT G20 (makassar.antaranews.com)

Seluruh mata dari penjuru dunia tertegun dengan kiprah Indonesia dalam menyukseskan persamuhan para pemimpin dunia yang tergabung pada Group of Twenty (G20), sebuah forum penyumbang 85 persen ekonomi global.

Sejak meneruskan estafet Presidensi G20 dari Italia pada November 2021, Indonesia melancarkan berbagai jalur diplomasi agar pertemuan puncak di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 15-16 November 2022 bisa memberikan manfaat bagi seluruh dunia, tak hanya negara anggota G20.

Ibarat menaiki roller coasters, perjalanan menuju KTT G20 tidak mudah, bahkan disebut sebagai presidensi G20 tersulit karena dilaksanakan di tengah krisis geopolitik, kesehatan, dan ekonomi dunia.

Kesulitan itu terlihat dari berbagai pertemuan dalam jalur keuangan (finance track) maupun jalur sherpa (sherpa track) yang kerap berakhir dengan kebuntuan karena ada friksi politik menyusul invasi militer Rusia ke Ukraina pada Februari 2022.

Namun upaya diplomasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) sejak pertengahan 2022 dengan mengunjungi langsung para pemimpin dunia yang bersitegang guna memastikan kehadiran di KTT G20 Bali telah membuahkan hasil.

Jauh hari sebelum KTT G20 Bali, Jokowi bertemu langsung Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden Amerika Serikat Joe Biden untuk meredakan ketegangan.

Jokowi ingin menunjukkan Indonesia adalah mitra terpercaya yang mampu menjadi penengah di tengah rivalitas tajam dan dalam antara beberapa negara di dunia.

Posisi itu juga kembali ditegaskan Jokowi saat memimpin KTT G20 di Bali. Di hadapan para pemimpin dunia, Jokowi menyerukan agar seluruh pihak menghentikan perang. Para pemimpin G20, yang memimpin 19 negara dan satu blok kawasan Uni Eropa, kata Jokowi, memiliki tanggung jawab bersama menyelamatkan dunia dari krisis, termasuk perang

Konsistensi Indonesia berbuah kepercayaan. KTT G20, yang dihadiri para pemimpin dunia, berhasil menciptakan kesepakatan bertajuk G20 Bali Leader’s Declaration dengan 52 paragraf di dalamnya. Kesepakatan itu adalah deklarasi pertama yang lahir sejak Februari 2022.

Baca Juga: Takut Tolak Perintah Sambo Gegara Pangkat Jenderal, Bharada E: Bagaikan Langit dan Bumi

Dalam deklarasi tersebut, terdapat Annex G20 Action for Strong and Inclusive Recovery (Annex 2 Deklarasi Bali) yang memuat daftar kerja sama multilateral negara-negara G20. Daftar tersebut berisi 226 proyek kerja sama multilateral dengan total nilai 238 miliar Dolar AS.

Selain 226 proyek tersebut, Indonesia juga memperoleh 140 proyek kerja sama bilateral senilai 71,4 miliar Dolar AS yang merupakan capaian konkret atau concrete deliverables dari Presidensi G20 Indonesia.

Load More