Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) memang kerap terjadi, dan semakin merebak di masa kini. Terlebih, dengan mencuatnya kasus pasangan figur publik yang sampai membuat heboh warganet nasional.
Harus diketahui, sebagian besar hubungan yang berujung terjadinya tindak kekerasan, tidak diawali dengan kekerasan. Bahkan banyak yang ketika masih dalam masa berpacaran, tidak pernah ada kekerasan fisik sebelumnya.
Memang cukup sulit untuk mengetahui apakah seseorang akan berpotensi menjadi pelaku KDRT di kemudian hari, terutama jika masih baru memulai hubungan.
Meskipun untuk mengetahui secara pasti dirasa sangat sulit, ada beberapa tanda peringatan yang dapat diwaspadai yang dapat menjadi titik awal untuk melihat suatu hubungan yang dimulai dengan terlihat bahagia dan baik-baik saja, ada kemungkinan akan berubah menjadi hubungan yang terisi dengan kekerasan dalam rumah tangga.
Melansir dari berbagai sumber dan ditinjau secara psikologis, berikut tanda-tanda berikut yang dapat diasumsikan sebagai tanda peringatan bahwa pasangan dalam hubungan berpotensi sebagai pelaku KDRT.
*SERING MEMANIPULASI PERASAAN
Pelaku KDRT dapat ditandai dengan seringnya melakukan manipulasi dan mempermainkan perasaan korban, dengan membuat keadaan dimana korban merupakan titik pembuat masalah, dan membalikkan keadaan bahwa pelaku menjadi korban.
Sering dikenal dengan istilah 'gaslighting', yakni keadaan dimana seseorang menggunakan kata-kata dan narasi palsu yang tanpa disadari korban sudah membuat korban menjadi bimbang dengan pemikirannya dan tidak mengetahui hal yang benar, sehingga pola pikir korban akan diarahkan di bawah kendali pelaku.
Ada perasaan korban yang mengatakan bahwa hal yang benar berkebalikan, namun dengan kemampuan pelaku memanipulasi kata, mampu membuat korban menjadi tidak yakin dengan perasaannya, dan meyakini perkataan pelaku.
"Pelaku kekerasan sering menyalahkan kamu untuk hal-hal yang salah, atau menyalahkan kamu atas perilaku kasar mereka sendiri," terang Dr. Judy Ho, Ph.D, seorang neuropsikolog klinis menjelaskan perilaku manipulasi pelaku.
*POSESIF BERLEBIHAN (CENDERUNG MENGEKANG)
Pelaku kekerasan biasanya memiliki jiwa posesif, yakni melakukan pengekangan berlebihan terhadap pasangan, dan membatasi sosialisasi serta ruang gerak. Biasanya dimulai dari komunikasi lewat telepon yang dilarang, hingga akhirnya dilarang untuk bertemu dengan orang lain, bahkan orang terdekat selain diri pelaku.
Dengan berlaku sangat membatasi kontak korban dengan orang lain, pelaku secara perlahan akan membuat korban ketergantungan dengan dirinya. Ditambah, doktrin bahwa tidak ada orang lain yang akan berhubungan tulus dengan korban, maka korban akan merasa bahwa pasangannya merupakan satu-satunya tempat ia mendapatkan cinta dan dukungan.
Sikap membatasi yang berlebihan seperti ini, dapat dijadikan satu tanda peringatan bahwa pasangan ada kemungkinan menjadi pelaku KDRT.
*GEMAR MENYAKITI HEWAN
Hal ini sebetulnya tidak selalu dapat dijadikan patokan apakah seseorang berpotensi menjadi pelaku KDRT terhadap pasangan atau tidak, karena tidak semua pelaku KDRT suka melakukam kekerasan fisik terhadap hewan.
Namun, jika melihat pasangan secara nyata bersikap kejam terhadap hewan, seperti menendang, menginjak, atau membanting hewan tanpa merasa bersalah, maka patut diwaspadai.
Nggak semua pelaku kekerasan fisik nyatanya menyakiti hewan, tetapi kalau kamu melihat pasangan nggak berpikir dua kali sebelum bersikap kejam atau menendang anjing karena menggonggong, atau sesederhana meneriaki kucing yang menggaruk sofa, ketahuilah bahwa reaksi semacam itu bukanlah hal normal.
Dilansir dari Good House Keeping, seorang psikolog berlisensi di Pennsylvania, Jaime Zuckerman, Psy,D, mengatakan jika seseorang mampu melakukan kekerasan terhadap hewan, maka ada kemungkinan ia mampu melakukannya terhadap pasangan dan berpotensi menjadi pelaku KDRT.
*BERMUKA DUA
Salah satu pertanda yang dapat diwaspadai jika pasangan berperilaku berbeda ketika di hadapan publik, dan ketika hanya berduaan.
"Pelaku tindak kekerasan sering tampil menawan di sekitar orang lain dengan tujuan membuat orang berpikir bahwa mereka adalah orang yang penuh kasih kepada pasangan. Namun di baliknya adalah cerita yang sama sekali berbeda," kata Dr.Zuckerman.
Pelaku biasanya melakukan hal ini untuk membentuk pandangan baik publik terhadap dirinya, sehingga tidak akan ada yang menduga ataupun mempercayai jika korban mengatakan pelaku telah melakukan kekerasan dalam hubungan.
Tag
Berita Terkait
-
Benarkah Sosok Penghina Dewi Perssik yang Dilaporkan ke Kepolisian Adalah Fans Leslar? Pengacara Lesti Kejora Beri Penjelasan
-
Indosiar Kena Hujat Fans Leslar, Tampilkan Iklan dengan Ilustrasi Lesti Kejora dan Baby L Tanpa Rizky Billar, Diantara Pasangan Artis Muda Lain
-
Lesti Kejora Siap Manggung Di Konser Musik Setelah Abaikan Kasus KDRT, Warganet: Katanya Setelah Dicekik, Cengkok Suaranya Makin Bagus
-
Farhat Abbas Bahas Tentang Laki-Laki Korban KDRT, Jadikan Pedangdut Nassar Sebagai Contoh
-
Pertanda Rizky Billar Meredup? Masih Unggah Berita Tentang Rizky Billar, Warganet Ancam Unfollow Akun Gosip: Cari Berita Lain Min, Muak Liatnya
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Kasus Hindoli Terkuak, Tersangka Sumur Ilegal Ditangkap Usai Berpindah hingga Jambi
-
5 Mitos Pulau Kemaro yang Masih Dipercaya Warga, dari Cinta Tragis hingga Pantangan Misterius
-
Tren Baru di Jakarta, Lari Santai Tanpa Target, Ini Alasan Sepatu Cushion Makin Digemari
-
Dirjen Imigrasi Copot Pejabat Terkait Pungli Batam, Buka Peluang Proses Pidana
-
Hemat Bagasi Tanpa Ribet, Sepatu Lari Multifungsi Ini Bisa Dipakai Jogging, ke Mall hingga Traveling
-
Formappi Soal Permintaan RDPU Kasus Korupsi Minyak Mentah: Komisi III Bukan Tempat Uji Hukum!
-
Pertina NTT Gugat Menpora: Legalitas Perbati Tak Terbukti di Persidangan, DPP Pertina Beri Dukungan
-
Makna Sakral Tato Dayak: Mengapa Setiap Guratan di Tubuh Punya Cerita Hidup?
-
Cak Imin Dorong Koperasi Merah Putih Siap Bersaing di Tengah Kebuntuan Global
-
Segel Dibuka Selasa, Subkon Ancam Segel Ulang Gedung MUI Sukabumi Jika Kamis Belum Dibayar