/
Kamis, 19 Mei 2022 | 14:09 WIB
ARR Vaujie M

Contoh yang paling nyata adalah Jepang dan Amerika yang setiap tahunnya pelajar di sana diberikan pengenalan simulasi gempa. Berbagai macam kesiapsiagaan bencana itu, dikemas dalam sebuah dongeng kepada anak - anak.

Setelah anak mengetahui dalam berbagai macam bencana tersebut terjadi berbagai hal, maka tahapan selanjutnya adalah menceritakan soal respon terhadap bencana itu sendiri.

"Ini penting juga karena kita tahu bencana tapi tidak tahu harus ngapain, itu jadi percuma. Misalnya yang sederhana kalau banjir harus pakai sepatu boot untuk melindungi kaki, ada gunung meletus harus lari, ada abu vulkanik pakai masker atau ada gempa ayo berlindung kayak gitu - gitu," jelas Priyangga.

Jika tahapan bencana dan respon bencananya sudah diketahui oleh anak - anak, maka pengenalan lingkungan di sekitar dilakukan.

Pengenalan lingkungan tersebut guna mengetahui cara merespon dampak terjadinya bencana, terhadap benda - benda didekat mereka serta proses evakuasi.

Sehingga jika terjadi bencana alam berupa gempa bumi, anak - anak sudah memahami apabila lapangan terbuka lebih aman daripada diam di dalam ruangan ataupun kamar mandi.

Barang - barang yang menggantung atau menempel di dinding seperti pigura, akan membahayakan apabila jatuh karena kaca penutup pigura pecah.

Pecahan kaca ini menjadi material berbahaya untuk dilalui saat proses evakuasi. Jalur yang lebih aman dari benda yang membahayakan tersebut, harus segera dicari dalam pelatihan evakuasi terhadap anak - anak.

"Fokus pemberian mitigasi bencana ke anak - anak dan kelas empat serta lima. Sehingga mereka bisa menceritakan kembali cerita mitigasi bencana kepada yang lain dan menjadi pahlawan bencana. Bukan voluenternya tapi mereka," tegas Priyangga.

Seperti yang dilakukan olehnya di salah satu pojok di Taman Lansia bersama beberapa teman di Komunitas Pahlawan Bencana.

Mereka bercerita soal apa yang disebut banjir, gempa dan lain sebagainya didepan siswa taman kanak - kanak dengan medium buku bergambar berwana ukuran sekitar 30 x 20 centimeter.

Lokasinya cukup mumpuni waktu sebelum pandemi menerpa, karena tepat dibelakang para siswa itu berdiri repilka satwa prasejarah Dinosaurus. Setiap penjelasan Priyangga ataupun relawan lainnya, selalu ditanggapi dengan bagus oleh mereka.

Tak hanya siswa, para orang tua yang mendampingi ikut menanggapi setiap penjelasan maupun pertanyaan soal banjir yang diutarakan oleh relawan Komunitas Pahlawan Bencana.

Kelompok yang mengaku setiap menggelar kegiatan sosialiasi mitigasi bencana dengan koceknya sendiri itu, siap dipanggil untuk menyebarkan informasi kesiapsiagaan bencana secara gratis.

Load More