TANTRUM - Berlian adalah salah satu komoditas paling berharga di Bumi karena bentuknya yang indah, kekuatan, dan kelangkaannya.
Namun, di planet lain ternyata berlian mudah ditemukan, bahkan rutin berjatuhan saat hujan.
Peneliti di Jerman melakukan penelitian dengan plastik menciptakan presipitasi unik yang terbentuk di dalam Uranus dan Neptunus.
Fisikawan di laboratorium penelitian HZDR Jerman dan salah seorang penulis studi, Dominik Kraus mengatakan presipitasi berlian di kedua planet berbeda dengan hujan di Bumi.
Dia mengatakan pada bawah permukaan kedua planet diyakini memiliki cairan panas dan padat, tempat berlian terbentuk serta secara perlahan tenggelam ke inti berbatu lebih dari 10 ribu kilometer di bawah.
Menurutnya, di sana berlian bisa membentuk lapisan besar membentang ratusan kilometer hingga lebih, diberitakan Science Alert, dikutip dari CNBC, Senin, 12 September 2022.
Berlian di Uranus dan Neptunus mungkin tidak mengilap dan bisa dipotong seperti di Bumi, tetapi diperkirakan setangguh material yang sama seperti di Bumi.
Para peneliti meniru proses tersebut dan menemukan campuran yang diperlukan dari karbon, hidrogen, dan oksigen dengan sumber plastik PET. Plastik ini digunakan untuk kemasan makanan sehari-hari dan botol.
Tim peneliti mengubah laser optik bertenaga tinggi pada plastik di SLAC National Accelerator Laboratory di California.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem Masih Akan Melanda Berbagai Kota di Indonesia Sampai 16 September 2022.
Kraus menjelaskan kilatan sinar X sangat singkat dengan kecerahan luar biasa dan mereka dapat menyaksikan proses berlian nano, yang sangat kecil untuk dilihat dengan mata telanjang.
"Oksigen yang ada dalam jumlah besar di planet-planet itu benar membantu menyedot atom hidrogen dari karbon, jadi sebenarnya berlian lebih mudah terbentuknya," ungkapnya.
Science Alert menyatakan penelitian terkait hujan berlian sampai saat ini masih hipotesis belaka. Ini dikarenakan data dan informasi terkait Uranus dan Neptunus masih sangat sedikit.
Sejauh ini baru satu wahana ruang angkasa, yaitu Voyager 2 NASA, yang melewati kedua planet ini pada 1980-an.
Sampai sekarang, data yang dikirimkan sekitar 40 tahun yang lalu tersebut masih digunakan dalam penelitian.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Sepeda Murah Kelas Premium, Fleksibel dan Awet Buat Goweser
- 5 HP Murah RAM Besar di Bawah Rp1 Juta, Cocok untuk Multitasking
- 5 City Car Bekas yang Kuat Nanjak, Ada Toyota hingga Hyundai
- Link Epstein File PDF, Dokumen hingga Foto Kasus Kejahatan Seksual Anak Rilis, Indonesia Terseret
Pilihan
-
3 Emiten Lolos Pemotongan Kuota Batu Bara, Analis Prediksi Peluang Untung
-
CV Joint Lepas L8 Patah saat Pengujian: 'Definisi Nama Adalah Doa'
-
Ustaz JM Diduga Cabuli 4 Santriwati, Modus Setor Hafalan
-
Profil PT Sanurhasta Mitra Tbk (MINA), Saham Milik Suami Puan Maharani
-
Misi Juara Piala AFF: Boyongan Pemain Keturunan di Super League Kunci Kekuatan Timnas Indonesia?
Terkini
-
Valentine Tak Melulu Cokelat, Berbagi Cinta Kini Bisa Lewat Camilan yang Dinikmati Bersama
-
7 Cara Mengganti Utang Puasa yang Telah Lewat 2 Kali Ramadhan: Panduan Lengkap
-
Inter ke Semifinal! Gol Bonny dan Diouf Bawa Nerazzurri Singkirkan Torino di Coppa Italia
-
Partai Demokrat Desak Angka Ambang Batas Parlemen Dikecilkan, Herman Khaeron Ungkap Alasannya!
-
Soroti Aktivitas Pedagang Sate di Malioboro, DPRD Kota Jogja Sebut Penindakan Masih Tak Optimal
-
Manchester City Tantang Arsenal di Final Carabao Cup usai Hajar Newcastle 3-1
-
Tayang Maret, Drama Korea Mad Concrete Dreams Rilis Cuplikan Pembacaan Naskah
-
OJK Perkuat Pengawasan Perbankan Hadapi Kompleksitas dan Digitalisasi
-
Genjot Daya Saing Daerah, Arsitek Lanskap Dorong Infrastruktur Hijau
-
Timnas Indonesia Juara AFF 2026? Pemain Keturunan di Super League Jadi Senjata Rahasia Garuda