- Ikatan Arsitektur Lanskap Indonesia (IALI) mendorong pengembangan pembangunan berbasis infrastruktur hijau.
- IALI menilai pengembangan kawasan masa kini tidak bisa lepas dari manajemen lanskap yang serius.
- Dalam rangkaian acara tersebut, para peserta melakukan tinjauan lapangan guna melihat langsung pengembangan infrastruktur hijau di kawasan PIK 2.
Suara.com - Ikatan Arsitektur Lanskap Indonesia (IALI) Provinsi Banten menggelar Musyawarah Provinsi (Musprov) keempat di Indonesia Design District (IDD), PIK 2, pada akhir bulan lalu. Pertemuan ini menekankan pentingnya peran infrastruktur hijau dalam mendongkrak daya saing serta menarik investasi ke daerah.
Musyawarah yang mempertemukan praktisi, akademisi, hingga pemangku kebijakan ini mengusung tema infrastruktur hijau strategis. Fokus utamanya adalah bagaimana membangun kawasan yang tidak hanya estetik, tetapi juga tangguh, lestari, dan terkoneksi secara fungsional.
Ketua Umum Pengurus Nasional (PN) IALI, Rahman Andra Wijaya, mengungkapkan bahwa pengembangan kawasan masa kini tidak bisa lepas dari manajemen lanskap yang serius. Ia menunjuk kawasan PIK 2 sebagai salah satu contoh nyata integrasi tersebut.
"PIK 2 ini salah satu percontohan yang concern terhadap landscape, mulai dari tahap perencanaan hingga manajemen operasionalnya," ujar Rahman dikutip Selasa (4/2/2026).
Dalam rangkaian acara tersebut, para peserta melakukan tinjauan lapangan guna melihat langsung pengembangan infrastruktur hijau di kawasan PIK 2. Kawasan ini diketahui dikelola secara berkelanjutan melalui kolaborasi antara PIK Tourism Board dan divisi Landscape Management Agung Sedayu Group.
Senada dengan Rahman, anggota IALI Provinsi Banten, Ahmad Suryadi Hamzah, menilai pendekatan yang dilakukan di kawasan ini memiliki karakteristik yang kuat dan orisinal.
"Kebanyakan orang melihat konsep (kawasan) itu copy-paste, tapi PIK 2 punya konsep tersendiri dalam perencanaan kawasannya," tutur Ahmad.
Penerapan infrastruktur hijau yang terencana dinilai menjadi kunci bagi pengembang dan pemerintah daerah untuk menciptakan nilai tambah ekonomi. Selain meningkatkan kualitas hidup penghuni, kawasan yang mengedepankan aspek keberlanjutan cenderung memiliki nilai properti yang lebih stabil dan daya tarik investasi yang lebih tinggi bagi pelaku usaha global.
Baca Juga: Wakasatgas PRR Pascabencana Dorong Akselerasi Pembangunan Huntara Tiga Kabupaten di Sumatera Utara
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- 5 HP Xiaomi RAM Besar Termurah, Baterai Awet untuk Multitasking Harian
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
Terkini
-
Rupiah Tembus Rp17.500 per Dolar AS, Pakar Prediksi Harga BBM Nonsubsidi dan Bahan Baku Impor Naik!
-
Rupiah Tembus Rp17.600, Prabowo: Yang Pusing Pengusaha!
-
Permintaan Emas Batangan di Indonesia Melonjak 47%, Warga Ogah Lirik Saham?
-
Menjelang Bitcoin Pizza Day, Member Indodax Hampir Tembus 10 Juta Pengguna
-
Kesabaran Trump ke Iran Habis, Harga Minyak Naik Lagi
-
IPC TPK Area Panjang Datangkan Crane Raksasa Post Panamax dari China
-
Bagi-bagi Jabatan! Trump Tunjuk Sahabat Dekat Untuk Jadi Bos The Fed
-
Perkuat Investasi Teknologi, Presiden Prabowo Saksi Penandatanganan MoU Danantara dan Hisense
-
Airlangga Bawa Pulang Komitmen Bisnis Rp7 Triliun dari Belarus
-
Harga Emas Hari Ini di Pegadaian Turun, Antam, UBS, dan Galeri24 Kompak Melemah