/
Rabu, 02 November 2022 | 14:04 WIB
Sampah plastik jadi sorotan media luar negeri (Youtube)

Untuk 2025, Danone punya target baru lagi, yakni, “Menggunakan kemasan plastik PET 100% hasil daur ulang di Eropa dan 50% secara global.”

Jadi Sorotan Pakar di Indonesia

Rendahnya tingkat daur ulang sampah plastik, khususnya di Indonesia, dibenarkan oleh Wawan Some dari Komunitas Nol Sampah. 

“Daur ulang di Indonesia sangat rendah, bahkan di dunia pun sangat rendah,” kata Wawan saat webinar tentang kemasan galon guna ulang dan ekonomi sirkular di Jakarta pada akhir Oktober lalu. “Selain plastik yang digunakan  sangat beragam, masyarakat sendiri tidak pernah melakukan pemilahan langsung dari sumbernya.” 

Menurut Wawan, ketika sampah plastik segala jenis bercampur, maka butuh biaya yang sangat besar untuk pengolahannya. “Sentra-sentra daur ulang pun hanya di titik-titik tertentu,” kata dia.

Sementara Karyanto Wibowo, direktur Sustainable Development Danone Indonesia mengatakan, pihaknya bisa dipastikan akan menggunakan sebanyak mungkin kemasan bahan daur ulang (dari plastik jenis PET).  

Karyanto juga menyatakan target yang sama dengan kantor pusat Danone Prancis, yakni penggunaan 50% botol PET hasil daur ulang untuk AMDK Danone-Aqua   pada 2025 di Indonesia. 

“Target kami pada 2025 sudah tercapai 50%, dan akan terus diperbanyak lagi bahan daur ulangnya,” kata Karyanto, pada webinar yang sama. 

“Kami harus berinovasi dan harus mengerti kebutuhan konsumen,” kata Karyanto. 

Baca Juga: Ada G20, Bisnis di Bali Mulai Membaik

“Kami harus  transparan dan terbuka pada konsumen, untuk menyampaikan opsi yang memang lebih baik untuk kesehatan dan lingkungan kita.” 

Menyangkut kepedulian pada kesehatan konsumen, tampaknya produk galon polikarbonat (PC) milik Danone-Aqua dan perusahaan AMDK lain yang mengandung bahan kimia Bisphenol A (BPA), tetap jadi perhatian khusus. 

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI juga sudah mengeluarkan regulasi untuk pelabelan galon guna ulang polikarbonat, dengan label “Berisiko Mengandung BPA”. 

Sejauh ini, demi dalih kepentingan bisnis, lobi industri yang bergabung dalam Asosiasi Perusahaan Air Minum dalam Kemasan Indonesia (ASPADIN) adalah penentang paling keras regulasi BPOM untuk transparansi kemasan galon guna ulang yang mengandung BPA.

Padahal, untuk kemasan galon guna ulang polikarbonat memang perlu peringatan khusus tentang bahan kimia  BPA yang bisa membahayakan konsumen. Regulasi dan pengetatan  BPA sudah dilakukan di banyak negara. BPOM RI juga sudah mengingatkan hal ini.  

Senada dengan BPOM, Zainal Abidin dari Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran Fakultas Teknologi Industri, ITB, dalam webinar yang sama juga menyatakan perlunya ada peringatan pada kemasan galon.

Load More