/
Jum'at, 18 November 2022 | 10:06 WIB
Tenun Indonesia

“Tidore itu kan kampung kecil yang tidak ada kegiatan usaha selain jadi PNS, petani pala, cengkeh, nelayan. PR aku untuk meyakinkan orang di sana bahwa sebenarnya kerjaan bukan cuma PNS,” ungkapnya.

Ia mengisahkan butuh perjuangan tersendiri untuk menyakinkan anak-anak muda ini terlibat di Rumah Tenun. Apalagi sebagian orang tua di Tidore kerap memarahi anaknya yang belajar menenun karena dianggap tidak memiliki masa depan yang cerah. 

Tetapi dirinya tidak pantang menyerah. Ia menceritakan, suatu hari dirinya menerima undangan menjadi pembicara dan mendelegasikannya kepada Wani, salah satu tim Rumah Tenun. Ini menjadi kesempatan Anita untuk membuka pikiran, meyakinkan bahwa di Rumah Tenun tak hanya sekadar bekerja tapi ada pelestarian budaya di dalamnya. 

“Dia itu selesai kuliah gak jelas mau ngapain. Masuk Rumah Tenun kayak ikut-ikutan. Jadi pas ada pelatihan, saya minta dia Wani yang ikut. Sekarang dia mampu bicara di publik dan jadi contoh UKM se-Maluku Utara. Dia cerita sambil nangis di telepon bilang bangga,” ujar Anita.

Tahun 2018, Anita mendapatkan pembiayaan dari Bank Indonesia. Dari sini mereka mulai menjual kain tenun. Hasil penjualan Anita serahkan sepenuhnya kepada penenun. 

Saat kain tenun produksinya dipakai oleh sejumlah delegasi KTT G20, tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Rumah Tenun. Ia bercerita ketika dirinya membagikan foto para menteri berbalut kain tenun Tidore kepada anak-anak penenun, mereka bersorak gembira. 

Demi memotivasi para penenun untuk terlibat melestarikan budaya, Rumah Tenun pun memberikan sejumlah fasilitas. Membuat koperasi simpan pinjam bagi para penenun dan sedang mempersiapkan dana pensiun bagi mereka.

Load More